PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Skripsi merupakan salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran mahasiswa. Pada skripsi ini mahasiswa diharapkan dapat menerapkan seluruh kemampuan akademik yang dimilikinya. Sebagai suatu karya ilmiah, skripsi harus disusun melalui kajian yang mendalam dan obyektif dengan menggunakan metode ilmiah yang sesuai. Selain itu skripsi juga harus ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang baku dan tentunya merupakan representasi karya ilmiah produk Fakultas Sastra Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Untuk memberikan keseragaman bentuk dan penetapan kaidah baku penulis, serta memberikan bimbingan mengenai prosedur penulisan skripsi, maka pedoman ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan. Sebagai suatu pedoman, maka nuku ini merupakan ketentuan wajib yang harus diikuti oleh para mahasiswa Fakultas Sastra Unversitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang menyusun skripsi.

 

1.2   Tujuan dan Manfaat Buku Panduan

Tujuan pokok buku pedoman penulisan skripsi ini adalah:

(1) menyeragamkan format penulisan proposal skripsi dan skripsi atau laporan penelitian mahasiswa;

(2)  mencegah terjadinya inkonsistensi penulisan proposal skripsi atau skripsi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROPOSAL SKRIPSI

 

Kepaduan isi antarbagian atau sinkronisasi dalam penulisan proposal sangat penting. Untuk itu, penyajian serta dasar pemikiran tiap-tiap bagian proposal sangat mempengaruhi apakah seluruh bagian proposal tersebut telah sinkron atau belum. Dengan demikian, mahasiswa dan dosen pembimbing harus memperhatikan dengan baik hal ini sebab penulisan serta persetujuan proposal akan mempengaruhi proses penulisan skripsi.

 

2.1 Pengertian Proposal

Proposal merupakan usulan tertulis tentang rancangan kegiatan penelitian yang berisi garis-garis besar pokok-pokok pikiran, yang diikuti dengan tindakan di lapangan, yang akan menjadi dasar dalam penulisan skripsi.

 

2.2    Isi Proposal

2.2.1    Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam penyusunan proposal skripsi (dan juga skripsi) untuk Program Studi Sastra Inggris dan Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Sastra Untag Surabaya sebagai berikut. Proposal skripsi Program Studi Sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris dan proposal skripsi Program Studi Sastra Jepang menggunakan bahasa Indonesia.

 

2.2.2        Bagian Awal

Bagian awal terdiri atas (1) halaman judul serta (2) halaman persetujuan dan pengesahan. Keduanya dijelaskan sebagai berikut.

 

2.2.2.1  Halaman Judul

Halaman judul terdiri atas bagian-bagian: (a) judul, (b) keterangan status sebagai proposal, (c) logo Untag Surabaya, (d) nama peneliti (mahasiswa), nomor induk mahasiswa (NPM), (e) lembaga (jurusan, fakultas, universitas, dan (f) tahun akhir penulisan proposal skripsi. Bagian-bagian dalam halaman judul proposal skripsi mahasiswa Fakultas Sastra Untag Surabaya ditulis dengan mengikuti aturan sebagai berikut.

a)   Judul: tanpa kata judul (title), semua huruf kapital, posisi simetris, Time New Romance, ukuran 16 point, cetak bold, dan judul novel/roman (jika ada) cetak Italic, antarbaris (jika lebih dari satu baris) spasi 1

b)   Keterangan status sebagai proposal: Time New Romance, huruf kapital hanya awal kata, 14 point, cetak bold

c)   Logo Untag Surabaya: posisi simetris, ukuran luasnya jangan lebih dari 30%-nya ruang halaman yang digunakan (ruang tepi kosong tidak dihitung)

d)   Nama peneliti (mahasiswa), nomor pokok mahasiswa (NPM): Time New Romance, posisi simetris, kata by atau oleh tidak boleh diikuti titik dua (:), semua huruf kapital, 14 point, cetak bold, antar baris spasi 1; antaran nama dan NPM tidak boleh diberi garis bawah

e)   Lembaga (program studi, fakultas, universitas): Time New Romance, posisi simetris, semua huruf kapital, 14 point, cetak bold, antarbaris spasi 1; antara nama dan NPM tidak boleh diberi garis bawah; kata Surabaya sebagai unsur nama universitas harus ditulis dalam 1 baris.

f)   Tahun pengajuan proposal skripsi: tanpa kata tahun (year), Time New Romance, posisi simetris, 14 point, cetak bold,

Spasi (jarak) antarbagian disesuaikan dengan seluruh ruang (space) halaman.

Contoh halaman judul proposal dapat dilihat pada Lampiran.

 

2.2.2.2  Halaman Persetujuan dan Pengesahan

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada halaman persetujuan dan pengesahan proposal skripsi sebagai berikut.

●    Seluruh kata dalam judul bab halaman persetujuan dan pengesahan menggunakan huruf kapital, bold, 14 point; bagian-bagian berikutnya 12 point

●    Judul proposal harus dibuat singkat, jelas, mampu menunjukkan bidang permasalahan yang dibahas serta tidak menimbulkan kemungkinan penafsiran yang beraneka ragam; huruf kapital pada awal kata kecuali preposisi dan konjungsi

●    Nama mahasiswa ditulis dengan huruf kapital pada awal kata; tidak boleh disingkat, dan tanpa gelar akademis; gelar agama (H., Pdt., diperbolehkan)

●    Tanggal persetujuan dan pengesahan proposal adalah tanggal pembubuhan tanda tangan persetujuan dan pengesahan proposal dari dosen pembimbing.

●    Tanda tangan persetujuan dan pengesahan proposal oleh Dosen Pembimbing I dan Dosen Pembimbing II (kalau ada); nama dosen dan gelar akademik ditulis lengkap.

 

2.2.3    Bagian Inti

Proposal skripsi merupakan satu kesatuan karangan utuh. Sebagai satu kesatuan, bagian-bagian dalam proposal tidak perlu disendirikan  sebagai bab—seperti pada skripsi/laporan penelitian. Jika memang diperlakukan sebagai bab, seluruh bagian proposal merupakan satu bab saja. Sekali lagi: tidak ada kata bab. Adapun bagian inti proposal terdiri atas: (1) pendahuluan, (2) tinjauan kepustakaan, dan (3) metode penelitian.

 

 

 

2.2.3.1 Bagian 1:  Pendahuluan

Pendahuluan berisi: (a) latar belakang (1.1), (b) rumusan masalah (1.2), (c) tujuan penelitian (1.3), (d) manfaat penelitian (1.4), dan (e) metode penelitian (1.5).

1)   Latar Belakang (Background of the Study)

Latar belakang permasalahan berisi gagasan yang mendasari penulisan secara keseluruhan, yaitu penyajian atas informasi yang relevan sehingga dapat membantu pembaca memperoleh latar belakang pemikiran mengenai permasalahan yang dibahas. Penulisan sebaiknya menggunakan metode deduktif, yakni dari hal umum mengerucut ke hal khusus), sehingga pembaca sudah dapat menduga pokok permasalahan yang dibahas. Secara garis besar, bagian latar belakang minimal terdiri atas:

a)   fakta umum permasalahan kebahasaa atau kesusastraan

b)   pernyataan pakar kebahasaan atau kesastraan sehubungan dengan unsur a)

c)   keterangan singkat sudah ada atau belum ada penelitian terdahulu yang sejenis atau yang berkaitan oleh siapa dan kapan (tahun) penelitian itu dilakukan

d)   apa yang mendesak sebagai masalah yang harus dipecahkan dan apa harapan manfaatnya jika itu sudah diwujudkan

e)   alasan pemilihan judul, sebagai penegasan berdasarkan c) dan d).

2)   Rumusan Masalah (Statement of the Problem) atau Fokus Penelitian

Rumusan masalah atau fokus penelitian menjelaskan keadaan atau fenomena yang memerlukan pemecahan dan atau memerlukan jawaban melalui suatu penelitian. Rumusan masalah atau fokus penelitian harus jelas, rinci, dan berfokus. Perbedaan antara Rumusan Masalah dan Fokus Penelitian semata-mata soal redaksi saja. Rumusan masalah berbentuk kalimat pertanyaan (berarti mengandung kata tanya apa, mengapa, bagaimana, dan berakhir dengan tanda tanya [?]), misalnya

 

■     Apa saja teknik yang digunakan Herman Menville untuk melukiskan karakter tokoh utama …. dalam novel Moby Dick?

 

sedang fokus penelitian berbentuk frase pernyataan, misalnya

 

■     teknik pelukisan karakter tokoh utama novel Moby Dick 

 

3)   Tujuan Penelitian (The Objective of the Study)

Tujuan penelitian harus mengungkapkan secara spesifik tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan uraian dalam latar belakang dan rumusan masalah/fokus penelitian. Tujuan penelitian menggambarkan apa saja yang akan dilakukan peneliti sehubungan dengan satu per satu rumusan masalah/ fokus penelitian. Karena itu, antara rumusan masalah dan tujuan penelitian harus benar-benar sama dalam hal: (a) jumlah, (b) urutan, dan (c) isi.

4)   Manfaat Penelitian (The Significance of the Study)

Manfaat penelitian terdiri atas dua jenis manfaat, yaitu: (a) manfaat teoretis, yakni kontribusi temuan penelitian dalam bidang disiplin linguistik atau ilmu sastra, dan (b) manfaat praktis, yakni kemungkinan aplikasi temuan penelitian ke dalam bidang non-ilmu (pengajaran, terjemahan, pendidikan, moral, etika, dll.)

5)   Metode Penelitian (Research Method)

Khusus bagi mahasiswa yang melakukan penelitian dalam bidang ilmu sastra (kesastraan), bagian metode penelitian dijabarkan dalam Bab I, bukan pada Bab III. Adapun isi, unsur, dan pengembangannya sama saja. (lihat Bagian 3).

 

2.2.3.2    Bagian 2: Tinjauan Kepustakaan

Tinjauan kepustakaan berisi (a) penelitian terdahulu yang sejenis, (b) landasan teori, (c). hipotesis (kalau ada), dan (d) model analisis (kalau ada).

1)   Penelitian Terdahulu

Dalam bagian ini diungkapkan secara ringkas dan jelas hasil penelitian terdahulu, baik masalah yang diteliti (fokus penelitian), objek, sampel (jika dipakai), dan waktu penelitian, variabel yang dianalisis (jika disebutkan), dan simpulan hasil penelitian. Di samping itu, dikemukakan pula perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Pada bagian ini perlu disebutkan pula nama peneliti, tahun penelitian dilakukan, dan kalau perlu juga  judul penelitiannya.

2)   Landasan Teori

Landasan teori berisi uraian singkat teori-teori yang digunakan dalam membahas dan memecahkan masalah. Pada bagian ini mahasiswa diharapkan tidak hanya mengutip teori-teori tersebut, tetapi juga harus mampu menyarikan, menyimpulkan, membandingkan, serta memberikan pendapat pribadi, baik mengatakan kekuatan maupun menunjukkan kelemahan, atas teori-teori tersebut. Di sini Penulis proposal akan banyak melakukan pengutipan nama, tahun terbit, dan nomor halaman, serta prinsip-prinsip teorinya.

3)   Hipotesis (Kalau Ada)

Hipotesis memuat pernyataan mengenai hubungan dua variabel atau lebih yang sifatnya masih lemah. Hipotesis dapat diturunkan dari teori dan beberapa sumber lain yang telah ada. Hipotesis juga merupakan jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan, oleh karena itu masih memerlukan pengujian untuk membuktikan kebenarannya.

4)   Model Analisis (kalau ada)

Pada bagian ini digambarkan secara spesifik hubungan antarvariabel yang diturunkan dari masalah penelitian yang telah dirumuskan, tujuan, dan hipotesis. Dapat pula divisualisasikan dalam bentuk bagan (skema).

 

2.2.3.3        Bagian 3: Metode Penelitian

Penelitian kebahasaan atau kesastraan pada umumnya berupa penelitian pospositivistik-kualitatif, dan bukan positivistik-kuantitatif. Sebagai penelitian berparadigma kualiatif, terminologi seperti sample, sampling, populasi, teknik pengukuran (misalnya Skala Linkert), relasi antarvariabel (korelasi, regresi, perbedaan uji-t, dst) tidak popular dan memang tidak relevan untuk dipaksakan.

Memang, dalam bidang linguistik, misalnya, ada penelitian yang memakai rumus, hitung-menghitung statistik, misalnya kajian leksikostatistik (glottochronology) dalam Linguistik Historis (Historical Linguistics). Akan tetapi, bidang ini jarang dijamah mahasiswa. Itu pun—jika dilakukan—prinsipnya khusus, tidak sama dengan penelitian regresional misalnya.

Sesuai dengan paradigma yang diikuti, bentuk data, dan analisisnya, di samping keperluan, unsur-unsur dalam bagian metode penelitian didedskripsikan sebagai berikut.

1)   Pendekatan

Unsur pendekatan dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan dapat dilihat setidaknya dari beberapa sisi.

●    Dari sisi sifat data dan analisisnya, dalam bidang kesastraan dan kebahasaan (linguistik), dikenal adanya (a) pendekatan kualitatif dan (b) pendekatan kuantitatif.

●    Dari sisi inter/intra-disiplinernya, dalam penelitian sastra, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan intrinsik dan (b) pendekatan ekstrinsik, dan dalam penelitian linguistik, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan mikrolinguistik dan (b) pendekatan makrolinguistik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kesastraan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan moral-filsafat, (b) pendekatan psikologi sastra, (c) pendekatan sosiologi sastra (mimetik, strukturalisme genetik, kritik sastra marxis, kritik sastra feminis, resepsi pembaca, dll.), dan (d) pendekatan sastra bandingan (comparative literature) serta (e) pendekatan semiotik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kebahasaan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan linguistik deskriptif (sosiologi deskriptif, analisis wacana deskriptif, pragmatic deskriptif) serta (b) pendekatan linguistik kritis (critical linguistics) (sosiologi kritis, analisis wacana kritis/critical discourse analysis, pragmatik kritis).

2)   Metode

Penelitian kesastraan banyak memanfaatkan: (a) metode deskriptif, (b) metode komparatif, atau (c) metode preskriptif/moral.

Dalam penelitian kebahasaan dikenal adanya: (a) metode deskriptif, (b) metode preskriptif (normatif), (c) metode struktural, dan (d) metode komparatif.

 

 

 

3)   Data dan Sumber Data/Informan

Data dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan umumnya berupa data kualitatif verbal kebahasaan. Data verbal selanjutnya dibedakan atas (a) data verbal tertulis dan (b) data verbal lisan.

Sumber data tertulis, misalnya dapat berupa buku, kamus, koran, novel, kumpulan puisi, teks pidato. Sumber data lisan berupa pidato, siaran radio, TV, percakapan dalam drama, atau percakapan biasa. Dalam penelitian kebahasaan, sumber data lisan dapat berupa penutur bahasa asli yang cerdas dalam pengetahuan bahasanya yang lazim disebut informan.

Data untuk penelitian sastra tidak boleh menggunakan novel asli berbahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Data untuk penelitian kebahasaan harus diambil dari bahasa Inggris. Untuk penelitian perbandingan data dalam bahasa Indonesia diperbolehkan.

4)   Teknik Penelitian

Teknik penelitian meliputi: (a) teknik pengumpulan data, (b) teknik penulisan data, dan (c) teknik analisis data.

a)   Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data mengandung unsur-unsur berikut:

(1)  nama teknik pengumpulan: teknik documenter, angket, teknik rekaman, tes

(2)  instrumen pengumpulan: instrumen kreatif (human instrument), radio tape, tape recorder, ponsel, catatan lapangan (field note)

(3)  langkah-langkah pengumpulan: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

b)   Teknik Penulisan Data (jika ada/diperlukan)

Khusus untuk penelitian yang datanya berupa verbal lisan, verbal tulis yang transkripsinya huruf selain Latin (Arab, Jawa, Bali, Bugis), atau verbal yang membutuhkan transkripsi fonetis, jika dipandang perlu, bagian teknik penulisan data dapat disendirikan.

c)   Teknik Analisis Data

Teknik analisis data mengandung unsur-unsur berikut:

(1)  nama teknik analisis: teknik analisis isi (content analysis), teknik komparasi, teknik substitusi, teknik translasi, teknik referensial,

(2)  instrumen analisis: tabel, human instrument (instrumen kreatif)

(3)  langkah-langkah analisis: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

2.2.4    Bagian Akhir

Bagian akhir proposal memuat: (a) daftar pustaka serta (b) lampiran-lampiran yang diperlukan. Daftar pustaka hanya dan harus mencantumkan pustaka yang dikutip saja. Lampiran dalam proposal skripsi penelitian sastra dan bahasa umumnya tidak diisi. Akan tetapi, tidak berarti bahwa tidak boleh diisi. Sebab, isinya sudah dicakup dalam bagian inti.

BAB III

SKRIPSI

 

3.1 Pengertian Skripsi

Skripsi adalah suatu karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa di bawah bimbingan dosen pembimbing berdasarkan temuan hasil-hasil penelitian sebelumnya, teori-teori tertentu, dan dengan metode ilmiah tertentu, dan pada akhirnya harus dipertahankan mahasiswa tersebut di depan dewan penguji skripsi.

 

3.2 Isi Skripsi

Skripsi terdiri dari (1) halaman sampul/muka, (2) halaman kosong, (3) halaman judul, (4) halaman persetujuan, dan (5) halaman pengesahan, (6) halaman motto dan atau dedikasi/kata persembahan, (7) kata pengantar, (8) daftar isi, (9) daftar tabel (kalau ada), (10) abstrak dan abstract, (11) Background of Study, (12) Review of Related Literature, (13)  Research Method, (14) Analysis, (15) Conclusion, (16) Bibliography, (17) Appendix, dengan rincian sebagai berikut.

1)   Halaman Muka

Halaman muka merupakan kulit luar skripsi. Warna dasar adalah biru dongker, sedangkan warna huruf dan angka adalah hitam timbul. Warna logo Fakultas Sastra Untag Surabaya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

2)   Halaman Kosong

Halaman kosong lazimnya berwarna biru muda, kuning, pink, sesuai dengan jenis kertas yang dipakai.

3)   Halaman Judul

Penulisan halaman judul mempunyai komposisi yang sama dengan halaman muka. Perbedaan hanya terletak pada tebal kertas yang digunakan, yaitu kertas A4 (21 cm x 29,7 cm) HVS 80 gram.Hal-hal yang harus diperhatikan pada halaman judul sebagai berikut.

●    Seluruh kata dalam halaman judul skripsi menggunakan huruf kapital, cetak tebal (bold); jika ada, judul novel, drama, atau kumpulan puisi dicetak miring (italic).

●    Keterangan skripsi disusun sebagai salah satu syarat untuk melengkapi kesarjanaan S1 ditulis dengan: kata thesis dengan capital, kata selanjutnya memakai capital di awal tiap kata kecuali preposisi dan konjungsi.

●    Logo lambang Fakultas Sastra Untag Surabaya dicantumkan dengan ukuran lebar dari sudut paling kiri ke sudut paling kanan dari gambar sebesar 4cm, dan ukuran panjang gambar dari atas ke bawah sebesar 5cm.

●    Nama mahasiswa seluruhnya ditulis dengan huruf kapital, tidak boleh disingkat, tanpa gelar akademis, dan tidak boleh bergaris bawah. NPM ditulis di bawah nama mahasiswa tanpa kata NPM.

●    Struktur jenjang kelembagaan (program studi, fakultas, dan universitas) ditulis simetris, cetak bold; kata Surabaya sebagai satu kesatuan nama universitas harus ditulis dalam satu baris, tidak boleh ditulis di bawahnya.

●    Tahun selesainya penyusunan pra-sidang ditulis cetak bold, langsung di bawah universitas.

Contoh halaman judul skripsi dapat dilihat pada Lampiran.

 

4)   Halaman Persetujuan

Halaman persetujuan menyatakan bahwa pembimbing skripsi telah menyetujui skripsi tersebut untuk diuji oleh Tim Penguji. Halaman ini memuat pernyataan bahwa skripsi yang ditulis oleh (nama penulis skripsi) sebagai bagian persyaratan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dapat diajukan ke Tim Penguji. Halaman ini memuat juga tanda tangan dan nama pembimbing skripsi. Nama pembimbing ditulis dengan gelar lengkap.

Contoh halaman persetujuan skripsi dapat dilihat pada Lampiran.

5)   Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan menyatakan bahwa skripsi tersebut telah diuji dan dinyatakan lulus oleh Tim Penguji. Halaman ini memuat nama penulis skripsi, NPM, tanggal pelaksanaan ujian, nilai skripsi, tanda tangan, dan nama ketua dan anggota Tim Penguji, serta tanda tangan dan nama Dekan FS Untag Surabaya.

Contoh halaman pengesahan skripsi dapat dilihat pada Lampiran.

 

6)   Halaman Motto dan atau Dedikasi/Kata Persembahan (kalau ada)

7)   Kata Pengantar

Kata Pengantar adalah ucapan yang bersifat pribadi penulis yang dapat berisi alasan penulisan skripsi, ucapan terima kasih, ucapan rasa syukur, dan lain-lain. Pada akhir kata pengantar, pada bagian kanan bawah, dituliskan nama kota, bulan, serta tahun berakhirnya tulisan skripsi.

8)   Daftar Isi        

Daftar isi berisi rincian isi seluruh bagian bab, subbab, sub-subbab, dalam skripsi, dimulai dari kata pengantar sampai dengan lampiran. Setiap bagian diberi nomor halaman.

9)   Daftar Tabel (kalau ada)

Daftar tabel berisi rincian seluruh tabel yang disajikan dalam skripsi. Seperti halnya daftar isi, setiap tabel diberi nomor halaman.

12) Abstrak

Abstrak skripsi adalah uraian singkat dan jelas mengenai apa yang dibahas pada skripsi tersebut. Uraian ini harus memungkinkan pembaca mendapatkan gambaran secara menyeluruh apa yang menjadi pokok bahasan skripsi. Uraian tidak boleh melebihi 300 kata serta disajikan dengan satu spasi.

Abstrak hendaknya menggambarkan masalah/fokus penelitian, teori yang melandasi analisis data, metode penelitian, dan hasil penelitian.

Pada paragraf terpisah dicantumkan beberapa (3—5) kata kunci.

13)                    Abstract

Abstract merupakan terjemahan Abstrak ke bahasa Inggris. Bagian akhir langsung disusun keyword (3—5) kata.

14)                    Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang (jika ada)

Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang berisi semua akronim, singkatan, dan lambang yang dipakai dalam skripsi. Jika suatu laporan penelitian (skripsi) menggunakan beberapa atau banyak akronim, singkatan, dan lambang, dengan tingkat frekuensi kemunculan masing-masing cukup tinggi, disarankan lebih baik menyusun Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang.

Jika dalam suatu skripsi dipakai frase pusat pembinaan dan pengembangan bahasa dengan frekuensi pakai cukup tinggi, sebaiknya dipakai singkatannya, misalnya P3B. Penelitian kesastraan yang menerapkan pendekatan struktural Vladimir Propp, misalnya, menggunakan lambang-lambang fungsi tindakan (action) pelaku (function of dramatic personae); misalnya:

 

ß              = ‘absentation, ketiadaan’,

δ              = ‘violation, pelanggaran’,

θ              = ‘complicity, keterlibatan’, dll.

 

Dapat juga singkatan lain yang dalam keseluruhan teks memiliki frekuensi kemunculan cukup tinggi, misalnya:

 

LAD       = language acquisition device

B1           = bahasa ibu, bahasa pertama

PBBK     = pengajaran bahasa berbasis kompetensi

 

Pada skripsi bidang kesastraan, bab Metode Penelitian lazim menjadi bagian dari bab Pendahuluan. Di mana pun ditempatkan, substansi keduanya tidak berbeda.

 

15. Chapter I Introduction

Bagian ini berisi: (a) Background of the Study, (b) Statement of the Problem, (c) Objective of the Study, (d) Significance of the Study, dan (e) Organization.

 

 

a)   Background of the Study

Latar belakang permasalahan berisi gagasan yang mendasari penulisan secara keseluruhan, yaitu penyajian atas informasi yang relevan sehingga dapat membantu pembaca memperoleh latar belakang pemikiran mengenai permasalahan yang dibahas. Penulisan sebaiknya menggunakan metode deduktif (dari hal yang umum ke hal yang khusus), sehingga pembaca sudah dapat menduga pokok permasalahan yang dibahas.

Unsur-unsur yang lazim terdapat dalam latar belakang sebagai berikut.

●    Fakta umum dalam bidang kebahasaan dan kesastraan. Apa yang disebut fakta dalam bidang bahasa dan sastra tentu berbeda dengan dalam dunia sosiologi dan teknologi. Misalnya adalah: banyaknya pembagian kelas kata (word class); para mahasiswa menggunakan ragam bahasa bergantian untuk konteks situasi yang berbeda-beda (code switching); banyaknya kata-kata yang merupakan lambang (icon, index, symbol) dalam karya sastra, khususnya puisi; setiap karya sastra lazim menyimpan nilai moral edukatif; dll.

●    Pernyataan pakar dalam bidang kebahasaan dan kesastraan. Satu dua pernyataan pakar bahasa atau pakar sastra—terutama pernyataan yang monumental, menarik perhatian—mengenai bidang ini dapat dijadikan titik berangkat penelitian. Ini diletakkan di bagian latar belakang.

●    Penjelasan apakah masalah seperti dalam judul pernah diteliti orang sebelumnya atau tidak. Jika memang sudah diteliti, hal apa saja yang masih perlu didalami dalam riset. Satu dua penelitian yang langsung gayut (berkaitan dan relevan) dengan penelitian skripsi mahasiswa bisa disebut singkat di bagian ini. Satu atau dua rujukan ini hendaknya dipilih yang paling menonjol dan representatif. Bagian ini tidak perlu lengkap (sebab pembahasan lebih lengkap ada di bab 2).

●    Penegasan konfirmatif alasan pemilihan judul. Bagian ini merupakan konsekuensi logis dari bagian sebelumnya. Misalnya, karena belum pernah diteliti orang, sementara hasilnya ditunggu (segera dimanfaatkan) oleh banyak kalangan, maka penelitian tentang suatu masalah layak dilakukan.

b)   Statement of the Problem

Rumusan masalah atau fokus kajian menjelaskan keadaan atau fenomena yang memerlukan pemecahan dan atau memerlukan jawaban melalui suatu penelitian. Perumusan masalah harus rinci (sebaiknya dijabarkan lebih dari satu), jelas, dan berfokus. Sebagai istilah, keduanya sama dalam substansi, tetapi berbeda dalam redaksi. Rumusan masalah dinyatakan dalam kalimat pertanyaan, sedang focus kajian dipaparkan dalam frase (bukan kalimat) pernyataan.

c)   The Objective of the Study

Tujuan penelitian harus mengungkapkan secara spesifik tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan uraian dalam latar belakang permasalahan dan rumusan masalah/fokus kajian. Jumlah tujuan yang ingin dicapai harus sama dengan rumusan masalah/fokus kajian. Apa yang disebut sebagai tujuan penelitian di bagian ini sering ditumpangtindihkan dengan manfaat penelitian—padahal jelas berbeda. Bila tujuan penelitian berisi apa yang ingin/akan dilakukan peneliti sehubungan dengan setiap  butir rumusan masalah penelitian/fokus kajian, manfaat penelitian berisi uraian mengenai kontribusi apa saja—teoretis atau pun praktis—yang diharapkan dapat diperoleh setelah penelitian selesai (lihat juga 3.2.2.1 nomor 4).

d)   The Significanse of the Study

Manfaat penelitian mengungkapkan kontribusi apa sajakah yang diharapkan dapat diberikan oleh temuan penelitian. Manfaat penelitian meliputi dua bidang, yaitu manfaat teoretis dan manfaat peraktis. Manfaat teoretis (akademik) berkaitan dengan sumbangan konsep teoritis tertentu dalam disiplin kebahasaan dan kesastraan. Dalam disiplin linguistik, misalnya, temuan suatu penelitian memberikan sumbangan konsep bahwa keketatan konstruksi P(redikat)—O(bjek) tidak selamanya bertahan dalam kalimat yang meletakkan adverbia cara di antara P dan O. Manfaat praktis berkaitan dengan harapan bahwa hasil (temuan) penelitian kebahasaan dan kesastraan dapat diaplikasikan ke dalam bidang pekerjaan, pengajaran, terjemahan, komunikasi publik, media massa, dsb.

e)   Research Method

Khusus bagi mahasiswa yang melalukan penelitian dalam bidang sastra (kesastraan), metode penelitian dijabarkan dalam Bab I, bukan pada Bab III). Meskipun letak berbeda, substansi isi tetap sama. Minimal, bagian metode penelitian memaparkan:

(a) pendekatan apa yang dipilih (dengan asalasan yang rasional),

(b) metode apa yang dipakai; dalam penelitian linguistik, misalnya, ada metode deskriptif, preskriptif,  historis, struktural, dll.;

(c) teknik penelitian (pengumpulan data, analisis data) apa yang diterapkan. Di dalam teknik penelitian—baik pengumpulan data maupun analisisnya—hendaknya disebutkan:

●    jenis teknik yang digunakan (teknik dokumentasi, observasi partisipan, wawancara, tes, angket, dst.),

●    instrumen yang digunakan (human instrument, tape recorder, tabel kriteria, dll.).

●    langkah-langkah prosedural, baik saat pengumpulan maupun analisis data.

 

16. Chapter II Review of Related Literature

Tinjauan kepustakaan berisi (a) penelitian terdahulu, (b) landasan teori, (c). Hipotesis (kalau ada), dan (d) model analisis/kerangka teoretis (kalau ada).

a)   Penelitian Terdahulu

Dalam bagian ini diungkapkan secara ringkas dan jelas hasil penelitian terdahulu yang relevan, berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti saat ini. Yang dipaparkan meliputi fokus penelitian, waktu dan lokasi penelitian, kesimpulan/hasil penelitian. Di samping itu dikemukakan perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti. Bagian ini mahasiswa yang sedang menulis skripsi hendaknya menyebutkan judul penelitian, siapa penelitinya, tahun kapan. Tentu saja, bagian ini penuh dengan kutipan—umumnya kutipan tidak langsung.

 

b)   Landasan Teori

Landasan teori berisi uraian singkat teori-teori yang digunakan dalam membahas dan memecahkan masalah. Dalam penelitian kebahasaan, misalnya, mahasiswa memaparkan teori-teori tentang proses morfologis pembentukan kata (afiksasi, reduplikasi, komposisi) dari pakar-pakar linguistik terdahulu (Bloomfield, Hockett, Pike, van Dijk, Nida, Block, dll.). Ketika mengutip, kaidah pengutipan (langsung, tidak langsung, kutipan atas kutipan) harus diikuti (paragraf, spasi, tanda baca, sumber kutipan).

Pada bagian ini mahasiswa diharapkan tidak hanya mengutip teori-teori tersebut, tetapi mahasiswa juga harus mampu menyarikan, menyimpulkan, membandingkan, serta memberikan pendapat pribadi—bahkan juga mengkritik dan menunjukkan kelemahan—atas teori-teori tersebut.

c)   Hipotesis (kalau ada)

Harus dikatakn di awal, bahwa penelitian bahasa dan sastra lazimnya tidak membutuhkan hipotesis. Jika memakai juga, biasanya itu merupakan penelitian kebahasaan dan kesastraan yang diaplikasikan dengan bidang lain, misalnya penelitian tentang: perbedaan penguasaan apresiasi puisi oleh siswa antara pengajaran dengan metode ceramah dan pengajaran dengan metode tugas, pengaruh metode kemampuan menghafal kosakata terhadap kemampuannya memahami bacaan ilmiah, dll.

Hipotesis memuat pernyataan mengenai hubungan antar "dua variabel atau lebih" yang sifatnya masih lemah—perlu diuji. Hipotesis dapat diturunkan dari teori dan beberapa sumber lain yang telah ada. Hipotesis juga merupakan jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan, oleh karena itu masih memerlukan pengujian untuk membuktikan kebenarannya.

d)   Model Analisis/Kerangka Teoretis (kalau ada)

Pada penelitian kuantitatif lazim dimunculkan model analisis, yakni penggambaran secara spesifik hubungan antarvariabel yang diturunkan dari rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan hipotesis. Dalam penelitian kualitatif, yang teori-siap-pakainya (ready for use) belum ada, peneliti harus membangun dulu kerangka teori berdasarkan teori-teori yang sudah ada. Penelitian-penelitian kesastraan yang berpendekatan intrinsik, struktural, objektif, misalnya, tidak membutuhkan kerangka teoretis sebab (terlalu) banyak teori yang sudah siap pakai, misalnya pandangan klasik teoretis Rene Wellek & Austin Warren dalam Theory of Literature (1968) atau Christopher R. Reaske dalam How to Analyze Poetry, Fiction, Drama (1966).

Penelitian kebahasaan yang makrolinguistik—yang menggabungkan antara dsiplin ilmu sastra dan ilmu lain—yang mungkin saja teorinya belum tersedia, kerangka teoretis hendaknya dikonstruk sendiri oleh penelitinya. Misalnya untuk meneliti bahasa humor yang menggabungkan antara teori bisosiasi dalam psikologi, teori konflik dalam sosiologi, dan teori tindak tutur (speech act) dalam pragmatik, peneliti disarankan menyusun konstruk kerangka teoretisnya.

17. Chapter III  Research Method

Metode penelitian menggambarkan cara-cara (prosedur)melakukan kegiatan penelitian mulai dari disain penelitian sampai dengan pemilihan alat-­alat analisis dan aplikasinya. Prosudur, metode, dan alat-alat analisis penelitian sangat tergantung pada jenis penelitian, tingkat kedalaman kajian, masalah, tujuan, dan jenis data yang dikumpulkan.

1) Hipotesis dalam Penelitian Bahasa/Sastra

Berdasarkan ada tidaknya hipotesis yang harus diuji, jenis penelitian secara umum dapat dikelompokkan ke dalam (a) penelitian tanpa hipotesis dan (b) penelitian dengan hipotesis.

Penelitian kebahasaan atau kesastraan pada umumnya berupa penelitian positivistik-kualitatif, dan bukan positivistik-kuantitatif. Sebagai penelitian berparadigma kualiatif, terminologi seperti sample, sampling, populasi, teknik pengukuran (misalnya Skala Linkert), relasi antarvariabel (korelasi, regresi, perbedaan/uji-t, dst) tidak popular dan memang tidak relevan. Jika dipaksakan, mahasiswa justru akan kebingungan karena memang “bukan jodohnya”.

Memang, dalam bidang linguistik, misalnya, ada penelitian yang memakai rumus, hitung-menghitung statistik, misalnya kajian leksikostatistik (glottochronology) dalam Linguistik Historis (Historical Linguistics), yang antara lain ingin menghitung kapan waktu berpisahnya beberapa bahasa yang sekarang berbeda-beda dan selanjutnya ingin menentukan adanya satu bahasa purba (proto-language). Akan tetapi, bidang ini jarang dijamah mahasiswa.

Mungkin ini terjadi karena dihapusnya mata kuliah ini dari kurikulum linguistik fakultas sastra, langkanya jumlah dosen yang menspesialisasikan dirinya dalam cabang disiplin ini, lama dan mahalnya penelitian ini dilakukan, atau sebab lain. Itu pun—jika dilakukan—prinsipnya khusus, tidak sama dengan penelitian regresional misalnya.

2)   Unsur-unsur dalam Bab Metode Penelitian Tanpa Hipotesis

Sesuai dengan paradigma yang diikuti, bentuk data, dan analisisnya, di samping keperluan, unsur-unsur dalam bagian metode penelitian didedskripsikan sebagai berikut.

a)   Pendekatan

Unsur pendekatan dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan dapat dilihat setidaknya dari beberapa sisi.

●    Dari sisi sifat data dan analisisnya, dalam bidang kesastraan dan kebahasaan (linguistik), dikenal adanya (a) pendekatan kualitatif dan (b) pendekatan kuantitatif.

●    Dari sisi inter/intra-disiplinernya, dalam penelitian sastra, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan intrinsik dan (b) pendekatan ekstrinsik, dan dalam penelitian linguistik, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan mikrolinguistik dan (b) pendekatan makrolinguistik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kesastraan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan moral-filsafat, (b) pendekatan psikologi sastra, (c) pendekatan sosiologi sastra (mimetik, strukturalisme genetik, kritik sastra marxis, kritik sastra feminis, resepsi pembaca, dll.), dan (d) pendekatan sastra bandingan (comparative literature) serta (e) pendekatan semiotik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kebahasaan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan linguistik deskriptif (sosiologi deskriptif, analisis wacana deskriptif, pragmatic deskriptif) serta (b) pendekatan linguistik kritis (critical linguistics) (sosiologi kritis, analisis wacana kritis/critical discourse analysis, pragmatik kritis).

Pendekatan mana yang dipilih bergantung pada keperluan: ruang lingkup data penelitian, tujuan penelitian, serta asumsi dasar yang diyakini peneliti.

b)   Metode

Penelitian kesastraan banyak memanfaatkan: (a) metode deskriptif, (b) metode komparatif, atau (c) metode preskriptif/moral.

Dalam penelitian kebahasaan dikenal adanya: (a) metode deskriptif, (b) metode preskriptif (normatif), (c) metode struktural, dan (d) metode komparatif. 

Metode mana yang dipilih bergantung pada keperluan: jenis data yang dianalisis, tujuan penelitian.

c)   Data dan Sumber Data/Informan

Data dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan umumnya berupa data kualitatif verbal kebahasaan. Data verbal selanjutnya dibedakan atas (a) data verbal tertulis dan (b) data verbal lisan.

Sumber data tertulis, misalnya dapat berupa buku, kamus, koran, novel, kumpulan puisi, teks pidato. Sumber data lisan berupa pidato, siaran radio, TV, percakapan dalam drama, atau percakapan biasa. Dalam penelitian kebahasaan, sumber data lisan dapat berupa penutur bahasa asli yang cerdas dalam pengetahuan bahasanya yang lazim disebut informan.

d)   Teknik Penelitian

Teknik penelitian meliputi: (a) teknik pengumpulan data, (b) teknik penulisan data, dan (c) teknik analisis data.

(1)  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data mengandung unsur-unsur berikut:

(a)  nama teknik pengumpulan: teknik documenter, angket, teknik rekaman, tes

(b)  instrumen pengumpulan: instrumen kreatif (human instrument), radio tape, tape recorder, ponsel, catatan lapangan (field note)

(c)  langkah-langkah pengumpulan: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

(2)  Teknik Penulisan Data (jika ada/diperlukan)

Khusus untuk penelitian yang datanya berupa verbal lisan, verbal tulis yang transkripsinya huruf selain Latin (Arab, Jawa, Bali, Bugis), atau verbal yang membutuhkan transkripsi fonetis, jika dipandang perlu, bagian teknik penulisan data dapat disendirikan.

(3)  Teknik Analisis Data

Teknik analisis data mengandung unsur-unsur berikut:

(a)  nama teknik analisis: teknik analisis isi (content analysis), teknik komparasi, teknik substitusi, teknik translasi, teknik referensial,

(b)  instrumen analisis: tabel, human instrument (instrumen kreatif)

(c)  langkah-langkah analisis: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

3)   Unsur-unsur dalam Bab Metode Penelitian Berhipotesis

Unsur-unsur yang lazim terdapat dalam bab metode penelitian yang memakai hipotesis sebagai berikut.

a)   Disain Penelitian

Pada bagian ini harus ditegaskan apakah rancangan penelitian berbentuk penelitian survai, studi kasus, data sekunder, eksperimen, laboratorium, atau simulasi. Dalam disain penelitian, sebenarnya peneliti telah membatasi ruang lingkup penelitian. Yang dimaksud ruang lingkup penelitian adalah keluasan dan kedalaman analisis. Maksudnya adalah: (1) penelitian yang akan dilakukan merupakan studi statistik yang lebih menekankan keluasan analisis: terhadap populasi (generalisasi atas parameter-parameter, ukuran-ukuran populasi dengan menggunakan statistik, ukuran-ukuran sampel), atau (2) penelitian yang akan dilakukan merupakan studi kasus yang menekankan kedalaman analisis (misalnya untuk tujuan penyelesaian masalah, evaluasi, dan strategi).

b)   Identifikasi Variabel

Jika dalam penelitian menguji hubungan beberapa variabel, nama-nama variabel tersebut harus diidentifikasi dan sekaligus ditentukan lambangnya (misalnya Xl untuk variabel pertama, X2 untuk variabel kedua, dan seterusnya).

c)   Definisi Operasional

Pada bagian ini harus dijelaskan batasan pasti dan terukut operasionalisasi variabel-variabel yang sudah diidentifikasi.

 

d)   Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang akan dikumpulkan harus ditegaskan. Penelitian berjudul “Hubungan antara Intensitas Belajar Kelompok dan Kemampuan Apresiasi Puisi Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Untag Surabaya”, misalnya, datanya adalah intensitas belajar kelompok dan kemampuan mengapresiasi.

      e)   Pengukuran Data

Pada bagian ini jenis ukuran untuk mengukur data harus ditegaskan apakah skala nominal, ordinal, interval, atau rasio.

f)   Alat dan Metode Pengumpulan Data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data harus ditetapkan, misalnya daftar pertanyaan, pedoman wawancara, atau format-format isian, dan sebagaimana dapat pula dilengkapi dengan kamera foto, video, atau tape recorder.

Alat yang digunakan harus dapat menjamin bahwa semua data yang dibutuhkan akan dapat diperoleh (dijaring).

Metode pengumpulan data juga harus ditegaskan, misalnya survei, observasi, wawancara, pengiriman lewat pas (mail survey), atau dokumentasi.

g)   Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

Karakteristik dan batasan populasi harus ditetapkan dengan benar. Jika menggunakan sampel (survai), harus ditentukan jumlah sampel dan tegaskan teknik pengambilan sampel.

h)   Teknik Pengambilan Data

Pada bagian ini teknik pengambilan data yang dipergunakan dapat berupa kuesioner/angket, wawancara, atau tes.

i)    Teknik Analisis Data

Pada bagian ini harus dipilih teknik analisis data yang cocok, sesuai dengan masalah, jenis data, dan tujuan penelitian. Lazim digunakan teknik statistik inferensial baik yang parametrik maupun nonparametrik.

Pedoman umum penentuan teknik analisis data dapat dilihat pada Lampiran 3.

j)    Prosedur Pengujian Hipotesis

Hipotesis dinyatakan dalam bentuk hipotesis statistik dan diuraikan prosedur pengujian yang akan dilakukan secara sistematik.

 

18. Chapter IV Analysis

Bab Hasil dan Pembahasan terdiri atas: (a) hasil penelitian dan (b) pembahasan hasil penelitian (diskusi hasil penelitian). Pengorganisasian penulisan keduanya dapat terpisah, dapat pula dintegrasikan sebagai satu kesatuan. Keduanya sama-sama boleh dan sama-sama baik.

Jika hasil penelitian dan pembahasan ditulis integral, pembahasan akan dilakukan langsung setelah setiap butir masalah dijawab. Maka, strukturnya akan tampak seperti:

●    Jawaban/analisis untuk rumusan masalah/fokus penelitian nomor 1

      Pembahasan (diskusi hasil penelitian) analisis data rumusan masalah no. 1

●    Jawaban/analisis untuk rumusan masalah/fokus penelitian nomor 2

      Pembahasan (diskusi hasil penelitian) analisis data rumusan masalah no. 2

●    Jawaban/analisis untuk rumusan masalah/fokus penelitian nomor 3

      Pembahasan (diskusi hasil penelitian) analisis data rumusan masalah no. 3

dst. (sesuai dengan keperluan)

Jika hasil penelitian dan pembahasan (diskusi hasil penelitian) ditulis secara terpisah, beberapa hal perlu diperhatikan sebagai berikut.

1)   Hasil Penelitian

Pada bagian ini dipaparkan jawaban panjang lebar atas setiap pertanyaan yang terjabar dalam rumusan masalah (fokus penelitian) dan tujuan penelitian. Oleh karena itu, jumlah, urutan, dan isi halnya harus sama—tidak lebih, tidak kurang—dengan rumusan masalah (fokus penelitian) dan tujuan penelitian. Dengan kata lain, hasil penelitian adalha jawaban panjang lebar atas pertanyaan dalam rumusan masalah (fokus penelitian) di bab 1.

2)   Pembahasan (Diskusi Hasil Penelitian)

Bagaian pembahasan mendiskusikan temuan penelitian yang tercermin dalam setiap analisis dalam hasil penelitian. Pembahasan dapat berupa penjelasan sebab-sebab mengapa hasil penelitian seperti A, mengapa bukan B, contoh-contoh lanjut yang lain. Pada pembahasan juga dapat dipaparkan sudut pandang teoretis yang dipakai sebagai landasan analisis. Apakah sesuai, emdukung, memperkuat, melengkapi, menunjukkan perbedaan, bahkan pertentangan, dengan “bunyi” teori sebelumnya. Tentu saja, dengan demikian, penulis skripsi (mahasiswa) boleh kembali melakukan rujukan kutipan teoretis.

Gaya redaksi pembahasan lebih bebas. Biarpun sebagai karya ilmiah selalu argumentatif, isi pembahasan bisa saja diekspresikan melalui eksplanasi ekspositoris. Kesannya lebih luwes.

Pada bagian pembahasan pula hendaknya dikemukakan kelemahan-kelemahan yang dirasakan, ditemukan, dan dicatat mahasiswa. Sanggup menemukan “kelemahan” penelitian yang dilakukan dan dapat tepat merumuskannya ke dalam redaksi yang jelas justru merupakan “kekuatan” tersendiri.

 

19. Chapter V  Conclusion

Simpulan merupakan rangkuman dari pembahasan yang telah dilakukan pada Bab 4. Simpulan dapat juga dipandang sebagai jawaban singkat atas pertanyaan dalam rumusan masalah penelitian (fokus penelitian)—ini sekaligus membedakannya dari bab hasil penelitian dan pembahasan sebagai jawaban panjang terhadap rumusan masalah (fokus penelitian).

Bagian ini berisikan inti sari dari analisis dan pembahasan hasil penelitian yang mencerminkan keadaan sebenarnya. Pada bagian ini tidak boleh ada uraian atau analisis yang merupakan ulangan dari uraian sebelumnya dan tidak boleh mengandung penjelasan, kutipan, data statistik; atau saran (saran, ada tempatnya sendiri). Jumlah simpulan harus sesuai dengan rumusan masalah (fokus penelitian), tujuan penelitian, serta butir-butir hasil penelitian dan pembahasannya.

 

Saran merupakan gagasan rekomendasi pemecahan masalah yang didasarkan pada pembahasan pada Bab 4. Saran yang dikemukakan harus dikaitkan dengan hasil yang tercantum dalam sub-subsimpulan. Saran-saran tambahan dibolehkan asal tidak bertentangan dengan hasil pembahasan dan simpulan. Saran harus konkrit, aktual, dan layak.

Saran harus pula ditujukan kepada sasaran yang jelas, sesuai dengan pihak-pihak yang relevan dikaitkan. Apakah saran kepada peneliti berikutnya, mahasiswa yang menulis skripsi, dosen yang mengampu mata kuliah tertentu, orang tua yang membaca novel dan ingin memperoleh nilai pendidikan darinya, dst. Secara singkat, setiap saran penelitian harus mengandung dua unsur pokok:

(a)  saran ditujukan kepada siapa dan

(b)  siapa yang dimaksud tersebut hendaknya, sebaiknya melakukan apa.

Begitulah, saran harus konkret. Oleh karena itu, saran yang ditujukan kepada pembaca pada umumnya adalah saran yang buruk—yang tidak memiliki signifikansi dengan permasalahan penelitian.

 

20.  Pembagian bab untuk skripsi bidang kajian sastra terdiri dari chapter I Introduction, chapter II Review of Related Literatur, chapter III Analysis, chapter IV Conclusion.

 

3.3       Bagian Akhir

Bagian akhir terdiri atas: (1) daftar pustaka (bibliography), dan (2) lampiran­lampiran. Lampiran tidak wajib ada. Akan tetapi, lazimnya penelitian selalu melampirkan sesuatu.

 

3.3.1       Daftar Pustaka

Daftar pustaka harus relevan dengan kebutuhan pembahasan masalah yang ada dalam skripsi. Jumlah minimal 10 pustaka. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pencantuman pustaka dalam daftar pustaka sebuah skripsi adalah sebagai berikut.

●    Daftar pustaka wajib mencantumkan setiap pustaka yang dikutip atau sekadar disebut dalam bab I, II, III, dan IV.

●    Pustaka dimaksud meliputi: artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian (skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya.

●    Buku, kamus, ensiklopedia, dan thesaurus.

●    Undang-undang, peraturan daerah, dokumen hokum, edaran kelembagaan, dll.

●    Koran, majalah, tabloid, buletin, terbitan berkala.

●    Artikel dan berita website, blog, situs di internet.

●    Penulisan daftar pustaka mengikuti aturan tata tulis tertentu (lihat Bab IV)

 

3.3.2    Lampiran-lampiran

Lampiran menyajikan dokumen tertulis dan gambar yang—dengan pertimbangan tertentu—tidak perlu dimunculkan dalam bagian inti skripsi. Meskipun demikian, tidak berarti lampiran tidak penting. Dokumen yang dilampirkan disajikan untuk mendukung pembahasan masalah dan analisis data penelitian.

Beberapa hal yang bisa dan biasa diisikan sebagai materi lampiran adalah sebagai berikut.

●    Data sejenis yang lain dengan data yang dikutip dalam bab hasil dan pembahasan. Mahasiswa yang meneliti gaya bahasa (figurative language) puisi, dalam cabang stilistika, misalnya, jika terdapat 46 data yang memakai personifikasi, tidak semuanya—ke-46 data tersebut—ditampilkan satu per satu di bab hasil dan pembahasan: betapa menjemukannya! Cukup 1—3 data ditampilkan di bab hasil dan pembahasan, sedang sisanya di lampiran.

●    Tabel pengumpulan data yang sudah diisi dan diklasifikasikan. Seperti yang pertama, tidak semua data perlu ditampilkan. Sebagian dapat ditampilkan di dalam table dan ditaruh di lampiran.

●    Tabel analisis data yang sudah diisi dan diklasifikasikan. Tabel ini semata-mata sebagai alat Bantu bagi penulis skripsi agar mempermudah kerjanya—misalnya dapat dengan mudah mengurutkan butir-butir pembahasan.

●    Data dan keterangan mengenai informan dalam penelitian kualitatif kebahasaan. Untuk penelitian bahasa lisan, informan sangat didiperlukan, yang menyangkut jenis kelamin, usia, penguasaan bahasa, dll.

●    Data puisi-puisi yang diteliti.

●    Biografi pengarang (novelis, cerpenis, penulis roman, penyair) dan kritikus sastra

●    Biodata mahasiswa yang sedang menulis skripsi

Dll.

 

 

 

 

BAB IV

KETENTUAN UMUM TEKNIK PENULISAN

 

Bab tentang ketentuan umum teknik penulisan memuat aturan-aturan umum dalam menuliskan huruf, kata, frase, kalimat, paragraf, penomoran, ejaan, bahkan jenis dan ukuran kertas. Hal ini berlaku baik untuk penulisan proposal maupun skripsi. Selengkapnya, akan dirincikan berikut ini.

 

4.1        Bahasa Proposal dan Skripsi

4.1.1    Jenis Bahasa

Proposal dan skripsi Prodi Sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris, proposal dan skripsi Prodi Sastra Jepang menggunakan bahasa Indonesia. Abstrak dalam skripsi bagi Prodi Sastra Jepang ditulis dalam bahasa Jepang dan Indonesia.

 

Sebagai sebuah karya tulis ilmiah, proposal dan skripsi menggunakan ragam bahasa baku, standar, resmi, dan keilmuan. Kalimat-kalimatnya harus merupakan kalimat efektif (lihat 4.1.2).

 

4.1.2    Kalimat Efektif

Kalimat harus ringkas, jelas, dan tidak bisa ditafsirkan lain. Dengan kata lain, ragam ilmiah dalam proposal dan skripsi hendaknya memakai kalimat efektif. Kalimat efektif dalam karya ilmiah hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut.

■    Kalimat harus gramatikal, sesuai dengan kaidah tata bahasa (grammar) masing-masing.

■    Kalimat harus memakai kata-kata baku (standard), bukan kata tutur harian, vulgar, slank, jargon, argot, dll.

■    Kalimat harus memakai kata-kata yang lugas, tidak bertele-tele.

■    Kalimat harus logis (masuk akal).

■    Kalimat harus hemat kata. Apabila suatu ungkapan dapat disajikan dengan satu kata, ungkapan tersebut jangan disajikan dengan dua kata atau lebih, misalnya ungkapan parafrase melakukan pengambilan data hendaknya diekonomiskan dengan mengambil data.

■    Kalimat harus hanya mengandung satu arti, tidak taksa (ambiguous).

 

4.2    Teks Proposal dan Skripsi

4.2.1    Judul Bab

Judul setiap bab pada proposal dan skripsi (misalnya Kata Pengantar, Daftar Isi, Bab I, Bab II, dst.) ditempatkan pada bagian atas tengah halaman, apabila menggunakan bab, nomor bab harus dicantumkan di atas judul.

4.2.2        Paragraf

Paragraf adalah rangkaian kalimat yang mengandung satu ide pokok (main idea). Dengan demikian, jika mengandung 2 ide pokok, suatu paragraf harus dipecah menjadi 2 paragraf pula.. Suatu paragraf biasanya terdiri dari kalimat awal, kalimat pembahasan, dan kalimat simpulan. Begitulah 1 paragraf harus mengandung 1 pokok pikiran yang akan diungkapkan.

Hubungan antarkalimat dalam sebuah paragraf harus terasakan. Hubungan tersebut terbangun melalui penanda kohesi antarkalimat. Misalnya pengulangan kata, kata ganti (pronomina), kata tunjuk (ini, itu, tersebut, di muka), sinonim, antonim, dst.

Antara paragraf satu dan paragraf berikutnya dalam suatu subjudul harus terdapat relasi, kaitan, dan disajikan menurut urutan penalaran yang logis. Oleh karena itu, pemakaian penanda kohesi antarparagraf harus tepat dan eksplisit. Misalnya: Kenyataan tersebut …, sehubungan dengan kondisi di muka, … Bahasa jurnalistik, seperti disebut dalam bagian di muka, adalah

Kata awal paragraf harus dimulai dengan karakter yang ke-6 dari batas tepi kiri. Sementara, pada sisi kanan penulisan dilakukan dengan rata kanan.

 

4.3    Bahan dan Ukuran Kertas

4.3.1    Bahan Naskah

Kertas naskah proposal dan skripsi harus HVS putih dengan berat minimal 70 gram atau 80 gram dan ditulis hanya satu sisi/muka.

4.3.2    Bahan Sampul

Sampul depan skripsi harus menggunakan kertas karton teba140 gram.

4.3.3    Ukuran Naskah

Ukuran naskah menggunakan kertas A4 (29,5 cm x 21 cm).

4.4    Pengetikan

1)   Pengetikan harus menggunakan komputer. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman 12 point. Seluruh naskah harus menggunakan jenis huruf yang sama, kecuali untuk keperluan tertentu (misalnya tabel dan gambar).

2)   Batas-batas adalah

-  Batas atas 4 cm

-  Batas bawah 3 cm

-  Batas kiri 4 cm

-  Batas kanan 3 cm

3)   Jarak antara dua baris pada teks paragraf dibuat 2 spasi, sedang untuk abstraks, abstract, kutipan langsung ≥ 4 baris, judul daftar tabel, dan keterangan daftar gambar yang lebih dari satu baris, dan daftar pustaka harus diketik dengan jarak 1 spasi.

Penggaturan spasi lainnya adalah sebagai berikut

a.   Jarak antara nomor bab dengan judul bab adalah 2 spasi.

b.   Jarak antara judul bab dengan judul subbab adalah 4 spasi.

c.   Jarak antara baris terakhir subbab dengan judul subbab berikutnya adalah 4 spasi.

d.   Jarak antara subbab atau baris terakhir dari kalimat sebelum judul sub-subbab dengan judul sub-sub bab adalah 3 spasi.

e. Jarak antara halaman pertama skripsi tiap bab dengan nomor halaman adalah 4 spasi.

f.    Jarak antara baris kutipan yang lebih atau sama dengan 4 baris adalah 1 spasi dengan tanda petik; spasi untuk kutipan kurang dari 4 baris 2 spasi dengan tanda petik (langsung masuk teks paragraf).

4) Bilangan diketik dengan angka dan huruf, namun untuk pengetikan bilangan pada permulaan kalimat harus diketik dengan huruf.

5)   Bilangan desimal ditandai dengan koma [,], bukan titik [.]. Contoh: 4,5 bukan 4.5.

6)   Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa titik di belakangnya. Contoh: kg, cm, km, Rp, bukan kg., cm., km., Rp..

7)   Judul bab harus ditulis secara sistematis terhadap batas kiri dan batas kanan pengetikan dengan huruf kapital semuanya, tidak perlu diberi garis bawah dan tidak diakhiri dengan titik.

8) Subjudul harus diketik mulai batas kiri. Semua kata subjudul harus diawali dengan huruf kapital kecuali kata-kata penghubung (conjunction) dan kata depan (preposition). Tidak perlu garis bawah dan titik sebagai tanda akhir.

9)   Kalimat pertama sesudah subjudul dimulai dengan alenia baru.

10) Anak subjudul (sub-subjudul) diketik mulai batas kiri. Huruf besar hanya digunakan untuk awal kata pertama. Anak subjudul harus tidak perlu diakhiri dengan titik.

11) Kalimat setelah subjudul dimulai dengan alinea baru.

12) Judul, gambar, tabel, daftar, dan grafik harus disajikan secara simetris terhadap batas kiri dan batas kanan pengetikan.

 

4.5    Penomoran

1)   Bagian awal skripsi mulai dari kata pengantar sampai dengan abstract diberi nomor halaman dengan angka Romawi kecil (i, ii, iii, dst.) yang diletakkan di sebelah bawah simetris dari batas kiri dan batas kanan, kecuali halaman judul tidak diberi nomor.

2)   Bagian isi dan bagian akhir skripsi, mulai dari Bab I (Pendahuluan) sampai dengan lampiran (bagian akhir) diberi nomor halaman dengan angka Arab (1, 2, 3, dst.). Nomor halaman ditulis di sudut kanan atas dengan jarak 1 inci dari batas atas dan 1,4 cm dari batas kanan. Tetapi, untuk halaman pertama dari bab, penomoran harus ditempatkan pada bagian bawah simetris dengan batas kiri dan batas kanan pengetikan.

3)   Untuk proposal seluruhnya menggunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) yang dicantumkan pada sudut kanan atas dengan aturan seperti butir 2.

4)   Tiap bab diberi nomor urut angka romawi I, II, III, IV, dan V, diletakkan simetris di atas judul bab.

5)   Subjudul diberi nomor angka Arab diakhiri titik: 1.1, 1.2, 1.3, 2.1, 2.2, 2.3, dst.

Sub-subjudul diberi nomor angka Arab turunan subjudul diakhiri titik: 1.1.1, 1.1.2, 2.1.1, 2.1.2, dst.

Apabila ada anak sub-subjudul lebih dari 4 digit (tingkatan yang lebih rendah), penomorannya menggunakan angka Arab satu kurung tanpa diakhiri titik:  1), 2), 3), dst.

Apabila masih ada anak dari anak subjudul, penulisannya menggunakan huruf kecil kurung tanpa itik:  a), b), c), dan seterusnya.

Format penulisan tetap menggunakan standar rata kiri.

6)   Setiap tabel diberi nomor urut Arab (1, 2, 3, dst) dan diletakkan di tengah atas dari tabel dan judul tabel. Tabel untuk tiap bab mulai dengan nomor baru. Misalnya tabel kedua dalam Bab 2 akan ditulis sebagai Tabel 2.2 dan disertakan sumber, yang ditulis di bawah tabel yang bersangkutan.

7)   Setiap gambar diberi nomor urut Arab (1, 2, 3, dst) dan diletakkan di tengah bawah gambar dan judul gambar. Cara pemberian nomor ilustrasi (gambar, grafik, foto, peta, bagan, diagram) sama dengan cara pemberian nomor tabel, mengikuti bab tempat gambar berada, tetapi nomor dan judul ilustrasi ditulis pada posisi tengah di bawah ilustrasi. Misalnya Gambar 3.2 berarti gambar ke-2 di bab III.

 

4.6    Tanda Baca

Penggunaan tanda-tanda baca, penulisan huruf, kata, frase, kalimat, dan paragraf mengikuti Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pusat Bahasa, 1993).

 

4.6.1 Koma, Titik, Titik Koma, Titik Dua, Tanya, Seru, dan Persen

Tanda koma (,), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanya (?), seru (!), dan persen (%) diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya. Jika diketik renggang (berspasi), maksudnya berbeda, atau tidak berarti sama sekali. Perhatikan letak tanda baca yang rapat pada contoh sebelah kiri dan bandingkan dengan yang renggang di sebelah kanan pada Tabel 4.1.

 

 

 

Tabel 4.1 Penulisan Koma, Titik, Titik Koma, Titik Dua, Tanya, Seru, dan Persen

 

TANDA BACA

KETIK RAPAT

(TANPA SPASI)

KETIK RENGGANG

(BERSPASI)

.

Data dianalisis.

Data dianalisis .

,

Solo, Bali, dan

Solo , Bali , dan

;

Data dicatat; proses dihentikan.

Data dicatat ; proses dihentikan.

:

Bahasa pilihan adalah: Bali, Jawa

Bahasa pilihan adalah   :   Bali, Jawa

?

Bagaimana rumusnya?

Bagaimana rumusnya  ?

!

Pilihlah informan usia dewasa!

Pilihlah informan usia dewasa  !

%

100%, 75%, 7%

100  %,  75  %,  7  %

 

4.6.2    Tanda Hubung, Tanda Pisah, dan Garis Miring

Tanda hubung (-, kecuali untuk memenggal kata), tanda pisah (—), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya. Perhatikan pula contoh cara tidak baku pengetikan tanda hubung di sebelah kiri dan cara baku di sebelah kanan pada Tabel 4.2:

 

Tabel 4.2 Penulisan Hubung, Pisah, Garis Miring

 

TANDA BACA

BAKU:
Ketik Rapat (Tanpa Spasi)

TIDAK BAKU:

Ketik Renggang (Berspasi)

-

sikap pura-pura itu menunjukkan bah-wa kepribadian individu ….

sikap pura - pura menunjukkan bah - wa menunjukkan bah-wa

Sikap itu—tidak peduli pada nasib sesama—amat berbahaya.

Sikap itu — tidak peduli pada nasib sesame — amat berbahaya.

/

Sebanyak 247 soal/responsen

Sebanyak 247 soal  /  responsen

 

4.6.3    Tanda Petik, Petik Tunggal, Kurung, Kurung Siku        

Tanda petik ("…"), petik tunggal (‘…’), kurung ((…)), dan kurung siku ([…]) diketik rapatdengan huruf-huruf dari kata yang diapitnya. Perhatikan contohnya pada Tabel 4.3:

 

 

 

 

Tabel 4.3 Penulisan Petik, Petik Tunggal, Kurung, Kurung Siku

 

TANDA BACA

BAKU:
Ketik Rapat (Tanpa Spasi)

TIDAK BAKU:

Ketik Renggang (Berspasi)

“…”

Puisi “Love in War” karya George …

Puisi “ Love in War ” karya George …

‘…’

Demokrasi berasal dari demos  ‘rakyat’ dan cratein  ‘pemerintahan’

Demokrasi berasal dari demos ‘ rakyat ’ dan cratein  ‘ pemerintahan ’

(…)

Bahasa ibu (L1), bahasa asing (L2)

Bahasa ibu ( L1 ), bahasa asing ( L2 )

[…]

(Hal kompositum dengan frase [Bab III] tidak tampak dalam kasus ini.

(Hal kompositum dengan frase [ Bab III ] tidak tampak dalam kasus ini.

 

4.6.4        Tanda Sama, Tidak Sama, Lebih Besar, Lebih Besar dan Sama, Lebih Kecil, Lebih Kecil dan Sama, Tambah, Kurang, Kurang Lebih, Kali, Bagi

 

Tanda sama (=), tidak sama (), lebih besar (>), lebih besar dan sama (≥), lebih kecil (<), lebih kecil dan sama (≤), tambah (+), kurang (-), kurang lebih (+), kali (x), dan bagi (:) diketik dengan jarak satu ketukan spasi dengan huruf atau angka yang mendahului dan mengikutinya. Perhatikan Tabel 4.4!

 

Tabel 4.4 Penulisan Tanda Sama, Lebih Besar, Lebih Besar dan Sama, Lebih Kecil, Lebih Kecil dan Sama, Tambah, Kurang, Kurang Lebih, Kali, Bagi

 

TANDA BACA

BAKU:
Ketik Rapat (Tanpa Spasi)

TIDAK BAKU:

Ketik Renggang (Berspasi)

=

bahasa Indonesia = bahasa Melayu

bahasa Indonesia=bahasa Melayu

bahasa Indonesia   bahasa Melayu

bahasa Indonesia≠bahasa Melayu

bahasa Inggris > bahasa Melayu

bahasa Inggris>bahasa Melayu

bahasa Inggris ≥ bahasa Melayu

bahasa Inggris≥bahasa Melayu

bahasa Inggris < bahasa Melayu

bahasa Inggris<bahasa Melayu

bahasa Inggris ≤ bahasa Melayu

bahasa Inggris≤bahasa Melayu

+

bentuk dasar + prefiks

bentuk dasar+prefiks

-

10 - 27

10-27

+

Jumlah morfem + 7 jenis

Jumlah morfem+7 jenis

x

4 x 6

4x6

:

50 : 10

50:10

 

 

 

4.7        Penulisan Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran,  dan Daftar Singkatan dan Simbol

 

4.7.1    Daftar Isi

Penulisan Daftar Isi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan daftar isi pada skripsi sebagai berikut.

●    Isi dalam Daftar Isi (halaman pengesahan, kata pengantar, abstrak, Bab I, dst.)  ditulis mulai tepi kiri.

●    Nomor halaman setiap isi dicantumkan pada garis tepi kanan (margin kanan) sejajar dengan isi. Nomor halaman yang dinyatakan hanyalah nomor halaman isi yang bersangkutan dimulai.

●    Tiap bab dapat dibagi dalam subbab atau subjudul dan yang dalam daftar isi cukup sampai dengan subbab atau judul.

●    Jarak bab dengan bab, bab dengan subbab, subbab dengan bab, dipisahkan dengan jarak spasi yang lebih lebar dari spasi antarbaris biasa

 

4.7.2    Daftar Tabel (jika ada)

Contoh lengkap penulisan daftar tabel dapat dilihat secara rinci penjelasan untuk itu, perhatikan berikut ini.

●    Kata Daftar Tabel ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman dari kiri atau kanan.

●    Pada garis tepi kiri ditulis kata Tabel diikuti dengan nomor urut tabel dan judul tabel.

●    Nomor halaman ditulis setelah judul tabel dengan format rata kanan.

●    Apabila panjang judul tabel lebih dari satu baris, beris berikutnya berjarak 1 spasi; antara judul tabel satu dan judul tabel lain harus dipisahkan dengan jarak 2 spasi.

 

4.7.3    Daftar Gambar (jika ada)

Tata cara penulisan Daftar Gambar sama dengan Daftar Tabel (4.7.2). Perlu diketahui bahwa sebutan gambar mencakup juga grafik, sketsa, bagan, foto, lukisan. Daftar Gambar wajib disusun jika dalam suatu laporan skripsi minimal terdapat 2 gambar. Contoh lengkap penulisan daftar gambar dapat dilihat pada Lampiran 12. Secara rinci penjelasan untuk itu, perhatikan berikut ini.

●    Kata Daftar Gambar ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman dari kiri atau kanan.

●    Pada garis tepi kiri ditulis kata Gambar diikuti dengan nomor urut gambar dan judul gambar.

●    Nomor halaman ditulis setelah judul gambar dengan format rata kanan.

●    Apabila panjang judul gambar lebih dari satu baris, beris berikutnya berjarak 1 spasi; antara judul gambar satu dan judul gambar lain harus dipisahkan dengan jarak 2 spasi.

 

4.7.4        Daftar Lampiran (jika ada)

Tata cara penulisan Daftar Lampiran sama dengan Daftar Tabel (4.7.2) dan Daftar Gambar (4.7.3). Daftar Lampiran hanya disusun jika memang terdapat setidaknya 2 hal yang dilampirkan. Contoh lengkap penulisan Daftar Lampiran dapat dilihat pada Lampiran 13. Secara rinci penjelasan untuk itu, perhatikan berikut ini.

●    Kata Daftar Lampiran ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman dari kiri atau kanan.

●    Pada garis tepi kiri ditulis kata Lampiran diikuti dengan nomor urut lampiran dan judul lampiran.

●    Nomor halaman ditulis setelah judul lampiran dengan format rata kanan.

●    Apabila panjang judul lampiran lebih dari satu baris, beris berikutnya berjarak 1 spasi; antara judul lampiran satu dan judul lampiran lain harus dipisahkan dengan jarak 2 spasi.

 

4.7.5    Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang (jika ada)

Jika suatu laporan penelitian (skripsi) menggunakan beberapa atau banyak akronim, singkatan, dan lambang, dengan tingkat frekuensi kemunculan masing-masing cukup tinggi, disarankan lebih baik menyusun Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang. Penelitian kesastraan yang menerapkan pendekatan struktural Vladimir Propp, misalnya, menggunakan lambang-lambang fungsi tindakan (action) pelaku (function of dramatic personae); misalnya: ß = ‘absentation, ketiadaan’, δ = ‘violation, pelanggaran’, θ ‘complicity, keterlibatan’, dll.

Beberapa ketentuan dalam penulisan Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang dideskripsikan berikut ini.

●    Kata Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman, dari kiri atau kanan.

●    Pada tepi kiri ditulis kata-kata Akronim/Singkatan/Lambang—memakai garis miring (/), bukan koma—dan di sebelah kanannya dituliskan kata-kata Kepanjangan/Arti. Di bawah kata-kata Akronim/Singkatan/Lambang dituliskan semua akronim, singkatan, dan lambang yang dipakai dalam skripsi dan di bawah kata Kepanjangan/Arti dituliskan kepanjangan setiap singkatan dan akronim serta arti setiap lambang.

●    Jarak spasi antara akronim/singkatan/lambang dan akronim/singkatan/lambang berikutnya 2 spasi; jika dalam satu akronim/singkatan/lambang memiliki kepanjangan atau arti yang memerlukan lebih dari 1 baris, spasi antarbaris  dalam satu akronim/singkatan/lambing tersebut adalah 1 spasi.

 

4.8    Penyajian Tabel dan Gambar di Bagian Inti

Agar dak salah paham, sejak awal diingatkan, bagian ini menyajikan tabel dan gambar—dan bukan daftar tabel dan daftar gambar.

 

4.8.1    Penyajian Tabel

Penggunaan tabel dipandang lebih efektif, praktis, dan sistematis dalam menyampaikan informasi, apalagi informasi statistis, dalam kolom dan lajur. Beberapa ketentuan dalam menyajikan tabel sebagai berikut.

●    Ukuran seluruh huruf pada tabel lebih kecil daripada huruf pada teks paragraf. Jika pada teks paragraf digunakan huruf ukuran 12 point, pada tabel 10 point.

●    Setiap tabel diberi nomor dan judul. Nomor tabel terdiri atas dua nomor, yakni nomor bab dan nomor urutan tabel; nomor bab mengikuti bab tempat tabel berada. Judul tabel dicetak tebal (bold). Nomor dan judul table terletak di paling atas sbelum masuk ke kolom-kolom dan lajur-lajur tabel.

●    Spasi umum adalah 1 spasi. Spasi antara judul dan lajur pertama tabel adalah 2 spasi (atau setidaknya lebih lebar dari lainnya).

Perhatikan contoh:

 

Tabel 4.5  Klasifikasi Data Latar dalam Novel Moby Dick

 

No

Data Latar dalam Novel Moby Dick

Klasifikasi Latar

1

Pantai Nantucket, Lautan Atlantik, Geladak kapal Peagod, New Bedford, Gereja Chapel

Latar Geografis

2

Tahun 1890—900-an, siang angin topan, malam hari hujan deras

Latar Temporal

3

Realisme-sekuler, situasi primitif, religius, budaya masyarakat nelayan dan kelasi kapal, nilai yang membanggakan menaklukkan ikan paus

Latar Sosial

Dst.

Dst.

Dst.

 

Nomor 4.5 berarti tabel ini berada di bab IV dan merupakan tabel ke-5 dalam bab tersebut. Kolom-kolom pada tabel—baik jumlah maupun isinya—disesuaikan dengan kebutuhan dan masalah yang ditabelkan.

●    Tabel pendek dapat ditempatkan di bawah teks yang bersangkutan; apabila teks telah sampai halaman bawah, tabel dapat ditempatkan di halaman berikutnya.

●    Tabel yang lebih panjang dapat ditempatkan pada halaman berikutnya.

●    Tabel panjang dapat ditempatkan memanjang dengan judul tabel pada tepi kiri halaman

●    Tabel yang lebih panjang dan lebar, yang mengakibatkan cara-cara di atas tidak memadai, dapat digunakan kertas folio yang dilipat.

●    Sumber tabel ditempatkan di bagian bawah kiri tabel yang bersangkutan, terutama untuk tabel yang diambil dari buku, atau jurnal. Apabila tabel dibuat oleh penulis dari hasil penelitiannya, sumber tabel tidak perlu disebutkan.

 

4.8.2        Penyajian Gambar

Penggunaan gambar (termasuk sketsa, bagan, foto, denah) dimungkinkan. Alur penelitian, kerangka teoretis, dalam penelitian kebahasaan dan kesastraan, misalnya, dapat disajikan dalam bagan. Beberapa ketentuan dalam menyajikan gambar sebagai berikut.

●    Ukuran seluruh huruf pada bagan/gambar lebih kecil daripada huruf pada teks paragraf. Jika pada teks paragraf digunakan huruf ukuran 12 point, pada bagan 10 point. Aturan ini tidak berlaku pada huruf yang merupakan lambang, logo, atau gambar/foto.

●    Setiap gambar diberi nomor dan keterangan. Nomor gambar terdiri atas dua nomor, yakni nomor bab dan nomor urutan gambar; nomor bab mengikuti bab tempat gambar berada. Keterangan gambar dicetak tipis (normal) di bawah—bukan di atas—gambar, tidak boleh terpisah halamannya.

●    Spasi keterangan gambar adalah 1 spasi jika lebih dari 1 baris.

 

4.9    Teknik Mengutip

Mahasiswa dapat mengutip suatu pendapat atau teori dari jurnal-jurnal atau buku-buku untuk mendukung pembahasan skripsi. Secara garis besar, mengutip dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) teknik mengutip langsung, (2) teknik mengutip isi, dan (3) teknik mengutip tak langsung.

Teknik mana pun yang digunakan selalu harus menuliskan sumber kutipan dengan jujur. Sumber kutipan (pustaka) dapat berupa artikel jurnal, opini koran, kolom majalah, buku, makalah, laporan penelitian, tabloid, majalah, kamus, ensiklopedi, tesaurus, website, disertasi, dll.

 

4.9.1    Teknik Mengutip Langsung

Teknik mengutip langsung (TML) dibedakan ke dalam dua macam, yaitu (1) TML < 4 baris dan (2) TML dari 4 baris. Penerapan keduanya memiliki aturan sendiri-sendiri.

 

4.9.1.1    TML < 4 Baris

Yang dimaksud 4 baris di sini adalah 4 baris setelah diketik dalam skripsi—bukan 4 baris dalam sumber kutipan. Pada kutipan ini berlaku aturan sebagai berikut.

●    Teks kutipan dituliskan apa adanya, tidak ada perubahan.

●    Teks kutipan diketik menjadi satu padu (integral) di dalam paragraf. Spasinya mengikuti spasi paragraf (2 spasi).

●    Teks kutipan diapit tanda petik (“…”).

●    Sumber kutipan harus dituliskan, baik sebelum maupun setelah kutipan. Nama penulis sumber kutipan yang dirujuk selalu unsur nama terakhir. Nama lengkap M.H. Abrams, sesuai yang tercetak dalam bukunya The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition (1979), tetapi penulisannya sebagai sumber kutipan di dalam tanda kurung cukup nama terakhir, Abrams.

Perhatikan contoh  berikut:

 

The orientation of this thesis is using mimetic approach.  Mimetic approach is “the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe” (Abrams, 1979: 8). Imitation is a relational term, signifying two items and some correspondence between them. But although in many later mimetic theories …..

 

Teks yang diapit tanda petik—“the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe”—merupakan teks kutipan. Panjang teks kutipan ini adalah satu baris—tidak sampai 4 baris. Teks (Abrams, 1979: 8) merupakan sumber kutipan; artinya adalah teks tersebut dikutip dari buku karangan M.H. Abrams yang terbit tahun 1979 tepat di halaman 8. Teks selain yang diapit tanda petik, sebelum dan sesudahnya, merupakan kalimat-kalimat mahasiswa sendiri.

 

4.9.1.2    TML ≥ 4 Baris

Pada kutipan TML ≥ 4 baris, berlaku aturan-aturan yang berbeda—walaupun ada juga kesamaannya—sebagai berikut.

●    Teks kutipan dituliskan apa adanya, tidak ada perubahan.

●    Teks kutipan diketik dengan spasi antarbaris 1 spasi di dalam paragraf tersendiri, sementara spasi teks paragraf tetap 2 spasi. Jarak bagian sebelah kiri dan kanan teks kutipan lebih masuk menjorok.

●    Teks kutipan bisa diapit tanda petik (“…”), bisa juga tidak, bergantung teks paragraf sebelumnya. Jika akhir paragraf sebelum kutipan ditutup dengan titik dua (:), teks kutipan diapit tanda petik. Jika akhir paragraf sebelum kutipan ditutup dengan tanda titik (.), teks kutipan tidak usah diapit tanda petik.

●    Sumber kutipan harus dituliskan, baik pada paragraf sebelum kutipan maupun akhir teks kutipan. Seperti lazimnya, yang dirujuk sebagai sumber kutipan adalah unsur nama terakhir (lihat 4.9.1.1).

Perhatikan contoh  berikut:

 

In creating the work become easier to understand for the reader, the writer usually uses imagery. Because it will helps the reader to understand the meaning of poem well. But the reader also must have ability and thought to see and hear imaginatively. The statement above is supported by Cristopel (1986: 34-35):

 

“Imagery: images, pictures, or sensory content, which we find in a poem. Images are fanciful or imaginative description of people or obejects state in terms of our senses. When we discuss the imagery of a poem. We look a each of the images in particular and then try to arrive at some general understanding of what may or may not be a pattern of imagery”.

 

While according to Willfred, Imagery is any verbal appeal to any of the senses: a stimulation of the imagination through sense experience,  ………

 

Pada teks ini sumber kutipan—yaitu Cristopel (1986: 34-35)—ditulis sebelum teks kutipan. Teks kutipan diketik 1 spasi dalam paragraf terpisah dan tersendiri sebab mencapai lebih dari 4 baris.  Karena paragraf sebelum teks kutipan berakhir dengan titik dua (:), teks kutipan di paragraf berikutnya diapit tanda petik: “Imagery: images ….. pattern of imagery”. Seandainya teks paragraf sebelum teks kutipan diakhiri dengan tanda titik (.), teks kutipan tidak perlu lagi diapit tanda petik. Teks paragraf sebelum dan sesudah teks kutipan adalah teks dengan redaksi mahasiswa sendiri, diketik dengan 2 spasi.

 

4.9.2    Teknik Mengutip Isi

Teknik mengutip isi (TMI) tidak banyak diatur. Meskipun demikian, satu dua semacam aturan dapat dijelaskan di sini.

●    TMI pada prinsipnya adalah mengatakan suatu pikiran orang lain dengan redaksi yang lain dalam bahasa sendiri (mahasiswa penulis skripsi). Bahasa boleh berbeda, tetapi isi harus sama, tidak boleh bertentangan.

●    Teks kutipan isi lebur ke dalam teks paragraf sendiri. Oleh karena itu, spasi antarbarisnya sama-sama 2 spasi. Teks kutipan isi dilarang diapit tanda petik.

●    Sumber kutipan dituliskan setelah kutipan isi—boleh juga sebelumnya.

Perhatikan contoh berikut!

 

According to the thesis writer accent is a kind of stress word in poetry. Her idea is supported by the idea of Christopel (1986: 22) that accent is when stress is placed on a word. All poetry is written in some particular meter. That is poems are made from collection of lines which have a certain number of syllables, some of them are accented (receive stress) and some of them are not (receive no stress).

 

4.9.3    Teknik Mengutip Tak Langsung

Dengan teknik mengutip tak langsung (TMTL)—disebut juga kutipan atas kutipan—terdapat dua lapis kutipan. Lapis pertama, adalah kutipan penulis III (mahasiswa penulis skripsi) terhadap teks karangan penulis II. Lapis kedua, kutipan penulis II terhadap teks karangan penulis I. Tata penulisan TMTL disarankan sebagai berikut.

●    Bentuk paragraf, letak teks kutipan, penulisan kutipan jenis TMTL, bergantung pada panjang teksnya, juga pada jenis kutipan isi ataukah kutipan langsung.

●    Ciri khas TMTL adalah penulisan sumber kutipan. Sumber kutipan selalu dua pustaka. Misalnya, sumber ditulis: (Eagleton dalam Darma, 2004: 124), atau cara yang lain, Eagleton (dalam Darma, 2004: 124). Artinya, mahasiswa penulis skripsi mengutip teks dalam buku karangan Budi Darma, Pengantar Teori Sastra, yang terbit tahun 2004, tepat di halaman 124. Dalam buku ini ternyata teks tersebut bukan pandangan Budi Darma sendiri, melainkan dikutip Budi Darma dari buku Terry Eagleton, Literary Theory: An Introduction (1998). Dengan kata lain, sesungguhnya mahasiswa tersebut mengutip pendapat Eagleton lewat buku karangan Budi Darma.

Perhatikan contoh penulisan kutipan TMTL oleh mahasiswa berikut.

 

Dari sudut mana pun dipandang, novel Senbazuru karya Kawabata Yasunari (1954) tetaplah sebuah karya sastra yang otonom. Ia dapat dibedah secara objektif apa adanya dari unsur-unsur intrinsik yang membangunnya tanpa harus dikaitkan dengan biografi novelisnya, realitas zaman yang dilukiskan di dalamnya, dan nilai-nilai konflik kelas sosial dari perspektif kritik sastra marxis (Eagleton dalam Darma, 2004: 124). Oleh karena itu, meskipun penting, biografi Kawabata Yasunari kurang relevan dijadikan bahan pertimbangan dalam pendekatan objektif di sini.

 

Pada contoh penulisan kutipan TMTL di atas mahasiswa mengutip pendapat Eagleton, tetapi tidak membaca langsung buku tulisan Eagleton. Ia mengutipnya lewat buku tulisan Budi Darma (2004) yang dibacanya. Kebetulan, pada contoh ini, kutipan yang dilakukan dengan gaya kutipan isi, sehingga tidak perlu ada tanda petik yang mengapitnya. Semuanya memakai redaksi bahasa mahasiswa sendiri, yang isinya tidak bertentangan dengan pandangan Eagleton dalam buku Budi Darma.         

 

4.10  Penulisan Daftar Pustaka

4.10.1 Prinsip Umum

Daftar Pustaka—disebut Daftar Acuan, Daftar Rujukan, bahkan Daftar Pustaka Acuan—harus ada dalam proposal skripsi dan skripsi. Ada banyak versi atau gaya penulisan Daftar Pustaka. Versi mana pun yang diikuti, beberapa prinsip umum berikut perlu diperhatikan.

1)   Kata-kata Daftar Pustaka sebagai judul sejajar dengan bab baru, maka harus ditempatkan simetris di tengah atas dengan menggunakan huruf kapital untuk seluruh huruf. Ukuran huruf 14 point dengan cetak tebal (bold).

2)   Jarak kata-kata judul Daftar Pustaka dengan baris pertama pustaka pertama adalah 4 spasi. Jarak pustaka satu dengan pustaka lainnya adalah 2 spasi. Jarak antarbaris dalam 1 pustaka—jika jumlahnya lebih dari 1 baris—adalah 1 spasi.

3)   Untuk tiap pustaka, apabila barisnya lebih dari 1, baris ke-2 dan berikutnya harus dimulai pada identasi (karakter) yang ke-6 (posisi hanging). Dengan kata lain, baris ke-2 dst diketik menjorok ke dalam 6 ketuk. Jumlah 6 ketuk ini disesuaikan dengan ketuk ke-6 pada awal paragraf di bab I, II, III, IV, V (bagian inti). Selengkapnya, lihat 4.10.2!

4)   Pencantuman semua jenis pustaka (jurnal, buku, majalah, website, dll.) harus disajikan dalam satu daftar—maksudnya ya Daftar Pustaka itu.

5)   Penyajiannya harus didasarkan pada urut abjad nama marga, nama keluarga, atau unsur nama terakhir dari nama penulis. Jika hanya satu unsur, nama penulisnya langsung dirujuk apa adanya, tanpa dibalik. Khusus soal penentuan entri unsur nama dalam Daftar Pustaka, berlaku kelaziman berikut.

●    Nama penulis yang hanya satu unsur, misalnya nama Jawa dan Madura, langsung dirujuk sebagai nama entri. Contoh:

   

Sudarminto                       à    Sudarminto          

Ratnawati                         à    Ratnawati

Brodin                                à    Brodin

 

●    Nama Afrika, Amerika, Australia, Asia (kecuali Indo-China, RRC), Eropa (kecuali Belanda dan Jerman) ditulis dengan entri unsur nama terakhir sebagai acuan. Karenanya, sebagai entri acuan, unsur nama terakhir tidak boleh disingkat, sementara unsur nama lain bisa disingkat.  Contoh:

 

A. Noam Chomsky         à    Chomsky, A. Noam

                                                    Chomsky, A.N.

Charles S. Pierce              à    Pierce, Charles S.

                                                    Pierce, C.S.

Patrick Colm Hogan       à    Hogan, Patrick Colm

                                                    Hogan, Patrick C.

                                                    Hogan, P. Colm

                                                    Hogan, P.C.

Tadashi Fukutake           à    Fukutake, Tadashi

                                                    Fukutake, T.

                                           

●    Entri acuan untuk beberapa nama Jerman dimulai dari unsur tengah (von) dan juga beberapa nama Belanda (van). Contoh:

    Franz von Magnis               à            von Magnis, Franz             

                                                    von Magnis, F.

Hermannder van Bosch à    van Bosch, Hermannder

                                                    van Bosch, H..

●    Entri acuan untuk nama Indo-China (Kamboja, laos, Vietnam) dan RRC dimulai dari nama marga sebagai unsur pertama. Contoh:

   

Ho Chi Minh                    à    Ho Chi Minh                       

Chen Lung                        à    Chen Lung

Kong Hu Chu                   à    Kong Hu Chu

 

Jika mengandung nama dari Barat, atau budaya lain (Jawa, Arab, Latin), nama Indo-China dan RRC ditulis dengan mengikuti aturan umumnya, yaitu nama dibalik, unsur terakhir sebagai entri. Contoh:

   

Stephen Tong                   à    Tong, Stephen

                                                    Tong, S.                

Jacky Chen                       à    Chen, Jacky

                                                    Chen, J.

 

4.10.2    Aturan Penulisan Berbagai Pustaka

Setiap pustaka memiliki aturan penulisan dalam Daftar Pustaka. Meskipun prinsipnya sama, selalu ada perbedaannya dengan pustaka lain. Berikut disajikan contoh-contohnya.

 

4.10.2.1  Buku

      Judul buku ditulis dengan menggunakan huruf miring

●    Buku dengan satu pengarang ditulis dengan urutan: nama penulis. Tahun terbit. Judul. Kota: Penerbit. Jika penulisnya lembaga, nama tidak dibalik. Contoh:

 

Kuno, Susumu. 1973. The Structure of Japanese Language. Cambridge: The MIT Press.

 

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Istilah Asing. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Tsujimura, Natsuko. 1997. An Introduction to Japanese Linguistics. Massachusetts: Blackwell Publisher Inc.

 

Verhaar, J.W.M. 1977. Pengantar Lingguistik Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

●    Buku dengan dua atau lebih pengarang, nama penulis pertama di balik, penulis kedua dst tetap. Contoh:

Burrows, David J., Frederick R. Lapides, John T. Shawcross. 1973. Myth and Motifs in Literature. New York: The Free Press.

 

Davis, Robert C. and Ronald Schleifer. 1998. Contemporary Literary Criticism: Literary and Cultural Studies. New York: Longman.

 

Wellek, Rene and Austin Warren. 1985. Theory of Literature. London: Jonathan Cape.

 

●    Buku terjemahan ditulis dengan urutan: nama dibalik. Tahun terbit terjemahan. Judul. Nama penerjemah. Kota: Penerbit. Contoh:

 

Jeffers, R.J. and I. Lehiste. 1982. Prinsip dan Metode Linguistik Historis. Terjemahan Abd. Syukur Ibrahim dan Machrus Syamsudin. Malang: FKSS IKIP Malang..

 

Robins, R.H. 1992. Linguistik Umum: Sebuah Pengantar. Terjemahan Soenardjati Djajanegara. Yogyakarta: Kanisius.

 

Wellek, Rene and Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

●    Buku berupa kumpulan karangan atau bunga rampai ditulis dengan: nama penulis artikel. Tahun terbit buku. “Judul artikel/bab”. Halaman … dalam Nama editor (ed.), Judul buku. Kota: Penerbit. Contoh:

 

Barthes, Ronald. 1984. “Critical Factions/ Critical Fictions”. Hal. 17—71 dlm. Josue V. Harari (ed.), Textual Strategies: Perspectives in Post-Structuralist Criticism. Ithaca, New York: Cornell University Press.

 

Heryanto, Ariel. 2000. “The Law of Life”. Hal. 876—881 dlm. George McMichael (ed.), Anthology of American Literature. New York: Macmillan Publishing Co., Inc..

 

London, Jack. 1995. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

4.10.2.2  Jurnal, Majalah, Koran, Buletin, Tabloid

Secara umum, setiap artikel/opini yang muncul di jurnal, majalah, koran, buletin, tabloid, dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun terbit. “Judul artikel/opini”. Nama jurnal/majalah/koran/buletin/tabloid. Edisi. Halaman. Perhatikan contoh:

 

Badib, A.A. 2005. “The Language Affiliation between Japanese and ASEAN Languages and Beyond”. Manabu, Vol. 1, No. 1, August, hal. 33—42.

 

Mansurudin, Susilo 2007. “Dosen Katrok?”. Kompas, 10 September, hal. D.

 

Pramesti, Tri & M. Rudi Supsiadji. 2004. “A Criticism on Class Conflict from Socialism Point of View in George Orwell’s The Road to Wigan Pier”.  Parafrase Vol. 04, No. 1, Februari, hal. 56—67.

 

Sudarwati dan Anik C. Rahayu. 2006. “Novel-novel Dewi Lestari dalam Perspektif Kritik Sastra Feminis Ideologis”. Parafrase Vol. 06, No. 1, Februari, hal. 67—83.

 

4.10.2.3  Kamus Linguistik, Kamus Kesusastraan, Ensiklopedi, Tesaurus

Seperti buku, kamus linguistik, kamus kesusastraan, ensiklopedi, tesaurus dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun terbit. Judul kamus linguistik/ kamus kesusastraan/ ensiklopedi/ tesaurus. Kota: Penerbit. Perhatikan contoh:

 

Endarmoko, Eko. 2007. Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

 

Wright, Tukiyem. 2004. Dictionary of Literature. New York: The MIT Press.

 

4.10.2.4  Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian

Skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun. “Judul skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian”. Keterangan Tidak dipublikasikan. Kota: Lembaga. Dalam hal ini, kecuali judul novel, misalnya, judul skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian tidak perlu dicetak miring (italic). Perhatikan contoh:

 

Amalijah, Eva. 2007. “Dinamika Karakter Tokoh Protagonis-Antagonis dalam Novel Madogiwa No Totto Chan”. Tesis tidak dipublikasikan. Surabaya: Program Studi Bahasa dan Sastra, Program Pascasarjana, Unesa.

 

Asbatin. 2006. “The Twin’s Lie in Mark Twain’s Was It Heaven or Hell?”. Skripsi tak dipublikasikan. Surabaya: Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Untag Surabaya.

 

Garnida, Susie C. 2005. “Pengaruh Belajar Kelompok terhadap Kemampuan Mengapresiasi Puisi pada Mahasiswa FS Untag Surabaya”. Laporan penelitian tidak dipublikasikan. Surabaya: LPPKM Untag Surabaya.

 

4.10.2.5  Makalah, Kertas Kerja

Makalah, kertas kerja, pada suatu pertemuan ilmiah (seminar, lokakarya, simposium) dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun. “Judul makalah”. Keterangan nama seminar. Lembaga penyelenggara, Kota, tanggal pelaksanaan.  Dalam hal ini, kecuali judul novel, misalnya, judul makalah pun tidak perlu dicetak miring (italic). Perhatikan contoh:

 

Marsih, Linusia. 2006. “Critical Discourse Analysis on Editorial Text in Indonesian Newspapers”. Kertas kerja dibacakan pada Seminar Critical Discourse Analysis in Languistics and Literature Studies, Fakultas Sastra, Untag Surabaya, Graha Widya, 17 Oktober.

 

Poerbawati, Endang. 2004. “Interferensi Gramatikal Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jepang pada Mahasiswa Sastra Jepang”. Makalah Lokakarya Pengajaran Bahasa Jepang Berbasis Kompetensi, diselenggarakan oleh The Japan Foundation, Konjen Jepang Surabaya, 4 Desember.

 

4.10.2.6  Website Internet

Seperti artikel pada jurnal, website internet dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun. “Judul makalah”. website.  Dalam hal ini, kecuali judul novel, misalnya, judul makalah pun tidak perlu dicetak miring (italic). Perhatikan contoh:

 

Fairclough, N. 2003. “Critical Discourse Analysis in Researching Language in the New Capitalism: Overdetermination, Transdisciplinarity and Textual Analysis”. www.ling.lancs.ac.uk/staff/norman/2003b.doc

 

Roberts-Miller, P. & J.W. Fendrich. 1999. “Voices in Wilderness: Public Discourse and the Paradox of Puritan Rhetoric”. www.acjournal.org/ holdings/vol2/Iss1/ reviews/fendrech.htm

 

Van Dijk, Teun A. 1999. “What Is Political Discourse Analysis?”. www.hum. uva.nl/teun.

Tidak semua artikel dari internet dapat dijadikan sumber rujukan. Artikel-artikel dari internet yang dapat dijadikan rujukan adalah ebook atau yang dimuat dalam jurnal-jurnal yang resmi. Artikel dari wikipedia dan sejenisnya tidak dapat dijadikan rujukan.

 

 

 

 

 

 

BAB V

PROSEDUR PERMOHONAN PENULISAN

DAN PENGUJIAN SKRIPSI

 

5.1  Penulisan Skripsi

5.1.1  Permohonan Penulisan Skripsi

Syarat untuk permohonan penulisan skripsi (memprogram skripsi pada Kartu Rencana Studi) sebagai berikut.

1)   Telah menyelesaikan 130 SKS dengan IPK > 2,5           

2)   Tidak ada nilai D

3)   Telah lulus mata kuliah Metodologi Penelitian.

4)   Telah lulus mata-mata kuliah yang terkait dengan penulisan skripsi.

Mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan tersebut dapat mengajukan permohonan penulisan skripsi dengan cara mendaftarkan diri pada Kaprodi (Kaprodi Sastra Inggris dan Kaprodi Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Untag Surabaya) setiap waktu  memprogram skripsi dalam KRS.

 

5.1.2        Bimbingan Skripsi

Berdasarkan proposal skripsi yang diserahkan, Kaprodi menyampaikan kepada dosen pembimbing sesuai pilihan mahasiswa dengan kualifikasi dosen pembimbing adalah sudah memiliki jabatan fungsional minimal asisten ahli dan kualifikasi akademik S-2

Dosen pembimbing 1 (satu) orang. Dalam penunjukan pembimbing ini juga diperhatikan proporsi jumlah bimbingan dari masing-masing dosen pembimbing (4).

 

5.1.3  Tahapan Pembimbingan

Secara umum, tahapan pembimbingan skripsi dilakukan secara terjadwal oleh Prodi (Sastra Inggris, Sastra Jepang). Tahapan ini meliputi kegiatan berikut.

1)   Pendaftaran dan pengajuan proposal skirpsi kepada Kaprodi disertai fotocopy voucher pembayaran proposal.

2)   Pembimbingan pertama oleh .setiap dosen pembimbing kepada mahasiswa bimbingannya.

3)   Ujian skripsi (finalisasi skripsi).

Di samping kegiatan pembimbingan terjadwal tersebut, dosen pembimbing juga harus menyediakan waktu bimbingan pertahapan aktivitas penulisan skripsi mahasiswa, sehingga diharapkan mahasiswa dapat mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh jurusan masing-masing.

5.1.3        Permohonan Penggantian Pembimbing

  1. Mahasiswa boleh melakukan penggantian pembimbing sebanyak 1 (satu) kali.
  2. Penggantian pembimbing harus dengan penggantian judul skripsi dan data
  3. Membayar uang bimbingan skripsi sejumlah tarif yang berlaku yang akan dibayarkan kepada pembimbing sebelumnya
  4. Menulis surat permohonan penggantian pembimbing kepada Dekan disertai kartu bimbingan skripsi
  5. Mahasiswa mengajukan kembali proposal baru dan disertai fotocopy pembayaran proposal.

5.1.4  Dosen pembimbing memberi laporan ke Prodi pada akhir setiap semester

 

5.2    Pengujian Skripsi

5.2.1    Syarat-syarat Pengujian Skripsi

Beberapa syarat agar dapat mengikuti ujian skripsi, yang harus diperhatikan oleh mahasiswa, adalah sebagai berikut.

1)   Mahasiswa telah menempuh dan lulus semua mata kuliah teori (minimal 138 SKS) dengan IPK > 2,5. Tidak ada nilai D.

2)   Sisa mata kuliah (termasuk skripsi) sudah diprogram dalam KRS pada saat mengajukan permohonan ujian skripsi.

3)  Pembimbing sudah menyetujui skripsi untuk diujikan dengan menandatangani kartu bimbingan dan lembar persetujuan pada skripsi.

4)   Mahasiswa mengajukan permohonan ujian skripsi dengan mengisi Formulir Permohonan yang telah disediakan di Program studi Fakultas Sastra Untag Surabaya. Setelah diisi lengkap, formulir diserahkan kembali dengan melampirkan:

a)   3 atau 4 eksemplar skripsi sesuai dengan jumlah penguji;

b)   2 lembar kartu bimbingan skripsi (asli dan fotokopi);

c)   1 lembar fotokopi voucher pembayaran ujian skripsi;

d)   2 lembar fotokopi rangkuman hasil studi;

e)   fotokopi KRS semester terakhir;

f)   2 lembar (asli dan fotokopi) bukti pelunasan kewajiban keuangan dari Bagian Keuangan sebagai persyaratan untuk menempuh ujian skripsi;

g) 3 lembar (asli dan fotokopi) surat keterangan izin survei dari instansi/ perusahaan tempat pengambilan data lapangan.

h)  2 lembar foto 4 X 6 dan 2 lembar foto 3 x 4 dengan ketentuan : - Pria berdasi dan berjas (bukan jas almamater); - Putri busana nasional.

i)  1 lembar fotocopy ijazah SMA

j)  1 lembar fotocopy akte kenal lahir.

5.2.2        Ujian Skripsi

Jadwal ujian skripsi ditetapkan oleh Kaprodi setelah mahasiswa mengajukan permohonan ujian skripsi. Dalam menempuh ujian skripsi mahasiswa akan diuji oleh 3 orang dosen penguji untuk mahasiswa yang dibimbing oleh 1 dosen pembimbing dan diuji oleh 4 orang dosen penguji untuk mahasiswa yang dibimbing oleh 2 orang dosen pembimbing; 1 atau 2 dari anggota Dewan Penguji tersebut adalah dosen pembimbing mahasiswa yang bersangkutan.

Penilaian ujian skripsi meliputi 2 (dua) aspek: (1) aspek tulisan dan (2) aspek lisan, dengan tujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam memahami apa yang telah dituliskan dalam skripsinya. Rincian lebih detail tentang aspek penilaian ini ditetapkan tersendiri dan dimuat dalam Berita Acara Ujian Skripsi.

Kriteria hasil penilaian ujian skripsi terdiri dari 2 alternatif, yaitu (1) lulus atau (2) mengulang ujian. Kriteria nilai kelulusan ditetapkan dalam bentuk huruf, yaitu: A, A-, AB, B+, B+, B-, BC, C+, dan C, sedangkan mahasiswa yang dinyatakan harus mengulang ujian tidak diberikan nilai.

Mahasiswa yang pada saat ujian skripsi masih dinyatakan harus mengulang, paling lambat satu bulan kemudian mahasiswa tersebut harus sudah mengajukan permohonan kepada Jurusan untuk dapat mengikuti Ujian Ulangan Skripsi. Apabila mahasiswa setelah ujian skripsi dinyatakan lulus, tetapi masih ada revisi yang diberikan oleh Dosen Penguji saat ujian skripsi, paling lambat dalam waktu satu bulan mahasiswa tersebut harus sudah menyelesaikan revisi dan menyerahkan skripsi yang sudah dijilid kepada TU Fakultas Sastra Untag Surabaya.

Transkrip Akademik hanya dapat diterbitkan Fakultas apabila mahasiswa sudah menyerahkan skripsinya.

 

5.3  Ketentuan Tambahan Tentang Penulisan Skripsi

5.3. l   Biaya

Besarnya biaya skripsi ditetapkan tersendiri oleh Dekan FS Untag Surabaya setelah mendapat persetujuan Rektor.

5.3.2  Penyerahan Skripsi

Skripsi yang sudah direvisi dan disetujui oleh Dosen Penguji pada saat ujian harus dijilid dengan cover tebal (hard cover) dan pakai cetak punggung. Pada bagian punggung skripsi memuat: nama dan NPM mahasiswa serta judul skripsi.

Distribusi penyerahan skripsi:

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Skripsi merupakan salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran mahasiswa. Pada skripsi ini mahasiswa diharapkan dapat menerapkan seluruh kemampuan akademik yang dimilikinya. Sebagai suatu karya ilmiah, skripsi harus disusun melalui kajian yang mendalam dan obyektif dengan menggunakan metode ilmiah yang sesuai. Selain itu skripsi juga harus ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang baku dan tentunya merupakan representasi karya ilmiah produk Fakultas Sastra Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Untuk memberikan keseragaman bentuk dan penetapan kaidah baku penulis, serta memberikan bimbingan mengenai prosedur penulisan skripsi, maka pedoman ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan. Sebagai suatu pedoman, maka nuku ini merupakan ketentuan wajib yang harus diikuti oleh para mahasiswa Fakultas Sastra Unversitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang menyusun skripsi.

 

1.2   Tujuan dan Manfaat Buku Panduan

Tujuan pokok buku pedoman penulisan skripsi ini adalah:

(1) menyeragamkan format penulisan proposal skripsi dan skripsi atau laporan penelitian mahasiswa;

(2)  mencegah terjadinya inkonsistensi penulisan proposal skripsi atau skripsi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROPOSAL SKRIPSI

 

Kepaduan isi antarbagian atau sinkronisasi dalam penulisan proposal sangat penting. Untuk itu, penyajian serta dasar pemikiran tiap-tiap bagian proposal sangat mempengaruhi apakah seluruh bagian proposal tersebut telah sinkron atau belum. Dengan demikian, mahasiswa dan dosen pembimbing harus memperhatikan dengan baik hal ini sebab penulisan serta persetujuan proposal akan mempengaruhi proses penulisan skripsi.

 

2.1 Pengertian Proposal

Proposal merupakan usulan tertulis tentang rancangan kegiatan penelitian yang berisi garis-garis besar pokok-pokok pikiran, yang diikuti dengan tindakan di lapangan, yang akan menjadi dasar dalam penulisan skripsi.

 

2.2    Isi Proposal

2.2.1    Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam penyusunan proposal skripsi (dan juga skripsi) untuk Program Studi Sastra Inggris dan Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Sastra Untag Surabaya sebagai berikut. Proposal skripsi Program Studi Sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris dan proposal skripsi Program Studi Sastra Jepang menggunakan bahasa Indonesia.

 

2.2.2        Bagian Awal

Bagian awal terdiri atas (1) halaman judul serta (2) halaman persetujuan dan pengesahan. Keduanya dijelaskan sebagai berikut.

 

2.2.2.1  Halaman Judul

Halaman judul terdiri atas bagian-bagian: (a) judul, (b) keterangan status sebagai proposal, (c) logo Untag Surabaya, (d) nama peneliti (mahasiswa), nomor induk mahasiswa (NPM), (e) lembaga (jurusan, fakultas, universitas, dan (f) tahun akhir penulisan proposal skripsi. Bagian-bagian dalam halaman judul proposal skripsi mahasiswa Fakultas Sastra Untag Surabaya ditulis dengan mengikuti aturan sebagai berikut.

a)   Judul: tanpa kata judul (title), semua huruf kapital, posisi simetris, Time New Romance, ukuran 16 point, cetak bold, dan judul novel/roman (jika ada) cetak Italic, antarbaris (jika lebih dari satu baris) spasi 1

b)   Keterangan status sebagai proposal: Time New Romance, huruf kapital hanya awal kata, 14 point, cetak bold

c)   Logo Untag Surabaya: posisi simetris, ukuran luasnya jangan lebih dari 30%-nya ruang halaman yang digunakan (ruang tepi kosong tidak dihitung)

d)   Nama peneliti (mahasiswa), nomor pokok mahasiswa (NPM): Time New Romance, posisi simetris, kata by atau oleh tidak boleh diikuti titik dua (:), semua huruf kapital, 14 point, cetak bold, antar baris spasi 1; antaran nama dan NPM tidak boleh diberi garis bawah

e)   Lembaga (program studi, fakultas, universitas): Time New Romance, posisi simetris, semua huruf kapital, 14 point, cetak bold, antarbaris spasi 1; antara nama dan NPM tidak boleh diberi garis bawah; kata Surabaya sebagai unsur nama universitas harus ditulis dalam 1 baris.

f)   Tahun pengajuan proposal skripsi: tanpa kata tahun (year), Time New Romance, posisi simetris, 14 point, cetak bold,

Spasi (jarak) antarbagian disesuaikan dengan seluruh ruang (space) halaman.

Contoh halaman judul proposal dapat dilihat pada Lampiran.

 

2.2.2.2  Halaman Persetujuan dan Pengesahan

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada halaman persetujuan dan pengesahan proposal skripsi sebagai berikut.

●    Seluruh kata dalam judul bab halaman persetujuan dan pengesahan menggunakan huruf kapital, bold, 14 point; bagian-bagian berikutnya 12 point

●    Judul proposal harus dibuat singkat, jelas, mampu menunjukkan bidang permasalahan yang dibahas serta tidak menimbulkan kemungkinan penafsiran yang beraneka ragam; huruf kapital pada awal kata kecuali preposisi dan konjungsi

●    Nama mahasiswa ditulis dengan huruf kapital pada awal kata; tidak boleh disingkat, dan tanpa gelar akademis; gelar agama (H., Pdt., diperbolehkan)

●    Tanggal persetujuan dan pengesahan proposal adalah tanggal pembubuhan tanda tangan persetujuan dan pengesahan proposal dari dosen pembimbing.

●    Tanda tangan persetujuan dan pengesahan proposal oleh Dosen Pembimbing I dan Dosen Pembimbing II (kalau ada); nama dosen dan gelar akademik ditulis lengkap.

 

2.2.3    Bagian Inti

Proposal skripsi merupakan satu kesatuan karangan utuh. Sebagai satu kesatuan, bagian-bagian dalam proposal tidak perlu disendirikan  sebagai bab—seperti pada skripsi/laporan penelitian. Jika memang diperlakukan sebagai bab, seluruh bagian proposal merupakan satu bab saja. Sekali lagi: tidak ada kata bab. Adapun bagian inti proposal terdiri atas: (1) pendahuluan, (2) tinjauan kepustakaan, dan (3) metode penelitian.

 

 

 

2.2.3.1 Bagian 1:  Pendahuluan

Pendahuluan berisi: (a) latar belakang (1.1), (b) rumusan masalah (1.2), (c) tujuan penelitian (1.3), (d) manfaat penelitian (1.4), dan (e) metode penelitian (1.5).

1)   Latar Belakang (Background of the Study)

Latar belakang permasalahan berisi gagasan yang mendasari penulisan secara keseluruhan, yaitu penyajian atas informasi yang relevan sehingga dapat membantu pembaca memperoleh latar belakang pemikiran mengenai permasalahan yang dibahas. Penulisan sebaiknya menggunakan metode deduktif, yakni dari hal umum mengerucut ke hal khusus), sehingga pembaca sudah dapat menduga pokok permasalahan yang dibahas. Secara garis besar, bagian latar belakang minimal terdiri atas:

a)   fakta umum permasalahan kebahasaa atau kesusastraan

b)   pernyataan pakar kebahasaan atau kesastraan sehubungan dengan unsur a)

c)   keterangan singkat sudah ada atau belum ada penelitian terdahulu yang sejenis atau yang berkaitan oleh siapa dan kapan (tahun) penelitian itu dilakukan

d)   apa yang mendesak sebagai masalah yang harus dipecahkan dan apa harapan manfaatnya jika itu sudah diwujudkan

e)   alasan pemilihan judul, sebagai penegasan berdasarkan c) dan d).

2)   Rumusan Masalah (Statement of the Problem) atau Fokus Penelitian

Rumusan masalah atau fokus penelitian menjelaskan keadaan atau fenomena yang memerlukan pemecahan dan atau memerlukan jawaban melalui suatu penelitian. Rumusan masalah atau fokus penelitian harus jelas, rinci, dan berfokus. Perbedaan antara Rumusan Masalah dan Fokus Penelitian semata-mata soal redaksi saja. Rumusan masalah berbentuk kalimat pertanyaan (berarti mengandung kata tanya apa, mengapa, bagaimana, dan berakhir dengan tanda tanya [?]), misalnya

 

■     Apa saja teknik yang digunakan Herman Menville untuk melukiskan karakter tokoh utama …. dalam novel Moby Dick?

 

sedang fokus penelitian berbentuk frase pernyataan, misalnya

 

■     teknik pelukisan karakter tokoh utama novel Moby Dick 

 

3)   Tujuan Penelitian (The Objective of the Study)

Tujuan penelitian harus mengungkapkan secara spesifik tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan uraian dalam latar belakang dan rumusan masalah/fokus penelitian. Tujuan penelitian menggambarkan apa saja yang akan dilakukan peneliti sehubungan dengan satu per satu rumusan masalah/ fokus penelitian. Karena itu, antara rumusan masalah dan tujuan penelitian harus benar-benar sama dalam hal: (a) jumlah, (b) urutan, dan (c) isi.

4)   Manfaat Penelitian (The Significance of the Study)

Manfaat penelitian terdiri atas dua jenis manfaat, yaitu: (a) manfaat teoretis, yakni kontribusi temuan penelitian dalam bidang disiplin linguistik atau ilmu sastra, dan (b) manfaat praktis, yakni kemungkinan aplikasi temuan penelitian ke dalam bidang non-ilmu (pengajaran, terjemahan, pendidikan, moral, etika, dll.)

5)   Metode Penelitian (Research Method)

Khusus bagi mahasiswa yang melakukan penelitian dalam bidang ilmu sastra (kesastraan), bagian metode penelitian dijabarkan dalam Bab I, bukan pada Bab III. Adapun isi, unsur, dan pengembangannya sama saja. (lihat Bagian 3).

 

2.2.3.2    Bagian 2: Tinjauan Kepustakaan

Tinjauan kepustakaan berisi (a) penelitian terdahulu yang sejenis, (b) landasan teori, (c). hipotesis (kalau ada), dan (d) model analisis (kalau ada).

1)   Penelitian Terdahulu

Dalam bagian ini diungkapkan secara ringkas dan jelas hasil penelitian terdahulu, baik masalah yang diteliti (fokus penelitian), objek, sampel (jika dipakai), dan waktu penelitian, variabel yang dianalisis (jika disebutkan), dan simpulan hasil penelitian. Di samping itu, dikemukakan pula perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Pada bagian ini perlu disebutkan pula nama peneliti, tahun penelitian dilakukan, dan kalau perlu juga  judul penelitiannya.

2)   Landasan Teori

Landasan teori berisi uraian singkat teori-teori yang digunakan dalam membahas dan memecahkan masalah. Pada bagian ini mahasiswa diharapkan tidak hanya mengutip teori-teori tersebut, tetapi juga harus mampu menyarikan, menyimpulkan, membandingkan, serta memberikan pendapat pribadi, baik mengatakan kekuatan maupun menunjukkan kelemahan, atas teori-teori tersebut. Di sini Penulis proposal akan banyak melakukan pengutipan nama, tahun terbit, dan nomor halaman, serta prinsip-prinsip teorinya.

3)   Hipotesis (Kalau Ada)

Hipotesis memuat pernyataan mengenai hubungan dua variabel atau lebih yang sifatnya masih lemah. Hipotesis dapat diturunkan dari teori dan beberapa sumber lain yang telah ada. Hipotesis juga merupakan jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan, oleh karena itu masih memerlukan pengujian untuk membuktikan kebenarannya.

4)   Model Analisis (kalau ada)

Pada bagian ini digambarkan secara spesifik hubungan antarvariabel yang diturunkan dari masalah penelitian yang telah dirumuskan, tujuan, dan hipotesis. Dapat pula divisualisasikan dalam bentuk bagan (skema).

 

2.2.3.3        Bagian 3: Metode Penelitian

Penelitian kebahasaan atau kesastraan pada umumnya berupa penelitian pospositivistik-kualitatif, dan bukan positivistik-kuantitatif. Sebagai penelitian berparadigma kualiatif, terminologi seperti sample, sampling, populasi, teknik pengukuran (misalnya Skala Linkert), relasi antarvariabel (korelasi, regresi, perbedaan uji-t, dst) tidak popular dan memang tidak relevan untuk dipaksakan.

Memang, dalam bidang linguistik, misalnya, ada penelitian yang memakai rumus, hitung-menghitung statistik, misalnya kajian leksikostatistik (glottochronology) dalam Linguistik Historis (Historical Linguistics). Akan tetapi, bidang ini jarang dijamah mahasiswa. Itu pun—jika dilakukan—prinsipnya khusus, tidak sama dengan penelitian regresional misalnya.

Sesuai dengan paradigma yang diikuti, bentuk data, dan analisisnya, di samping keperluan, unsur-unsur dalam bagian metode penelitian didedskripsikan sebagai berikut.

1)   Pendekatan

Unsur pendekatan dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan dapat dilihat setidaknya dari beberapa sisi.

●    Dari sisi sifat data dan analisisnya, dalam bidang kesastraan dan kebahasaan (linguistik), dikenal adanya (a) pendekatan kualitatif dan (b) pendekatan kuantitatif.

●    Dari sisi inter/intra-disiplinernya, dalam penelitian sastra, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan intrinsik dan (b) pendekatan ekstrinsik, dan dalam penelitian linguistik, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan mikrolinguistik dan (b) pendekatan makrolinguistik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kesastraan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan moral-filsafat, (b) pendekatan psikologi sastra, (c) pendekatan sosiologi sastra (mimetik, strukturalisme genetik, kritik sastra marxis, kritik sastra feminis, resepsi pembaca, dll.), dan (d) pendekatan sastra bandingan (comparative literature) serta (e) pendekatan semiotik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kebahasaan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan linguistik deskriptif (sosiologi deskriptif, analisis wacana deskriptif, pragmatic deskriptif) serta (b) pendekatan linguistik kritis (critical linguistics) (sosiologi kritis, analisis wacana kritis/critical discourse analysis, pragmatik kritis).

2)   Metode

Penelitian kesastraan banyak memanfaatkan: (a) metode deskriptif, (b) metode komparatif, atau (c) metode preskriptif/moral.

Dalam penelitian kebahasaan dikenal adanya: (a) metode deskriptif, (b) metode preskriptif (normatif), (c) metode struktural, dan (d) metode komparatif.

 

 

 

3)   Data dan Sumber Data/Informan

Data dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan umumnya berupa data kualitatif verbal kebahasaan. Data verbal selanjutnya dibedakan atas (a) data verbal tertulis dan (b) data verbal lisan.

Sumber data tertulis, misalnya dapat berupa buku, kamus, koran, novel, kumpulan puisi, teks pidato. Sumber data lisan berupa pidato, siaran radio, TV, percakapan dalam drama, atau percakapan biasa. Dalam penelitian kebahasaan, sumber data lisan dapat berupa penutur bahasa asli yang cerdas dalam pengetahuan bahasanya yang lazim disebut informan.

Data untuk penelitian sastra tidak boleh menggunakan novel asli berbahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Data untuk penelitian kebahasaan harus diambil dari bahasa Inggris. Untuk penelitian perbandingan data dalam bahasa Indonesia diperbolehkan.

4)   Teknik Penelitian

Teknik penelitian meliputi: (a) teknik pengumpulan data, (b) teknik penulisan data, dan (c) teknik analisis data.

a)   Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data mengandung unsur-unsur berikut:

(1)  nama teknik pengumpulan: teknik documenter, angket, teknik rekaman, tes

(2)  instrumen pengumpulan: instrumen kreatif (human instrument), radio tape, tape recorder, ponsel, catatan lapangan (field note)

(3)  langkah-langkah pengumpulan: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

b)   Teknik Penulisan Data (jika ada/diperlukan)

Khusus untuk penelitian yang datanya berupa verbal lisan, verbal tulis yang transkripsinya huruf selain Latin (Arab, Jawa, Bali, Bugis), atau verbal yang membutuhkan transkripsi fonetis, jika dipandang perlu, bagian teknik penulisan data dapat disendirikan.

c)   Teknik Analisis Data

Teknik analisis data mengandung unsur-unsur berikut:

(1)  nama teknik analisis: teknik analisis isi (content analysis), teknik komparasi, teknik substitusi, teknik translasi, teknik referensial,

(2)  instrumen analisis: tabel, human instrument (instrumen kreatif)

(3)  langkah-langkah analisis: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

2.2.4    Bagian Akhir

Bagian akhir proposal memuat: (a) daftar pustaka serta (b) lampiran-lampiran yang diperlukan. Daftar pustaka hanya dan harus mencantumkan pustaka yang dikutip saja. Lampiran dalam proposal skripsi penelitian sastra dan bahasa umumnya tidak diisi. Akan tetapi, tidak berarti bahwa tidak boleh diisi. Sebab, isinya sudah dicakup dalam bagian inti.

BAB III

SKRIPSI

 

3.1 Pengertian Skripsi

Skripsi adalah suatu karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa di bawah bimbingan dosen pembimbing berdasarkan temuan hasil-hasil penelitian sebelumnya, teori-teori tertentu, dan dengan metode ilmiah tertentu, dan pada akhirnya harus dipertahankan mahasiswa tersebut di depan dewan penguji skripsi.

 

3.2 Isi Skripsi

Skripsi terdiri dari (1) halaman sampul/muka, (2) halaman kosong, (3) halaman judul, (4) halaman persetujuan, dan (5) halaman pengesahan, (6) halaman motto dan atau dedikasi/kata persembahan, (7) kata pengantar, (8) daftar isi, (9) daftar tabel (kalau ada), (10) abstrak dan abstract, (11) Background of Study, (12) Review of Related Literature, (13)  Research Method, (14) Analysis, (15) Conclusion, (16) Bibliography, (17) Appendix, dengan rincian sebagai berikut.

1)   Halaman Muka

Halaman muka merupakan kulit luar skripsi. Warna dasar adalah biru dongker, sedangkan warna huruf dan angka adalah hitam timbul. Warna logo Fakultas Sastra Untag Surabaya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

2)   Halaman Kosong

Halaman kosong lazimnya berwarna biru muda, kuning, pink, sesuai dengan jenis kertas yang dipakai.

3)   Halaman Judul

Penulisan halaman judul mempunyai komposisi yang sama dengan halaman muka. Perbedaan hanya terletak pada tebal kertas yang digunakan, yaitu kertas A4 (21 cm x 29,7 cm) HVS 80 gram.Hal-hal yang harus diperhatikan pada halaman judul sebagai berikut.

●    Seluruh kata dalam halaman judul skripsi menggunakan huruf kapital, cetak tebal (bold); jika ada, judul novel, drama, atau kumpulan puisi dicetak miring (italic).

●    Keterangan skripsi disusun sebagai salah satu syarat untuk melengkapi kesarjanaan S1 ditulis dengan: kata thesis dengan capital, kata selanjutnya memakai capital di awal tiap kata kecuali preposisi dan konjungsi.

●    Logo lambang Fakultas Sastra Untag Surabaya dicantumkan dengan ukuran lebar dari sudut paling kiri ke sudut paling kanan dari gambar sebesar 4cm, dan ukuran panjang gambar dari atas ke bawah sebesar 5cm.

●    Nama mahasiswa seluruhnya ditulis dengan huruf kapital, tidak boleh disingkat, tanpa gelar akademis, dan tidak boleh bergaris bawah. NPM ditulis di bawah nama mahasiswa tanpa kata NPM.

●    Struktur jenjang kelembagaan (program studi, fakultas, dan universitas) ditulis simetris, cetak bold; kata Surabaya sebagai satu kesatuan nama universitas harus ditulis dalam satu baris, tidak boleh ditulis di bawahnya.

●    Tahun selesainya penyusunan pra-sidang ditulis cetak bold, langsung di bawah universitas.

Contoh halaman judul skripsi dapat dilihat pada Lampiran.

 

4)   Halaman Persetujuan

Halaman persetujuan menyatakan bahwa pembimbing skripsi telah menyetujui skripsi tersebut untuk diuji oleh Tim Penguji. Halaman ini memuat pernyataan bahwa skripsi yang ditulis oleh (nama penulis skripsi) sebagai bagian persyaratan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dapat diajukan ke Tim Penguji. Halaman ini memuat juga tanda tangan dan nama pembimbing skripsi. Nama pembimbing ditulis dengan gelar lengkap.

Contoh halaman persetujuan skripsi dapat dilihat pada Lampiran.

5)   Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan menyatakan bahwa skripsi tersebut telah diuji dan dinyatakan lulus oleh Tim Penguji. Halaman ini memuat nama penulis skripsi, NPM, tanggal pelaksanaan ujian, nilai skripsi, tanda tangan, dan nama ketua dan anggota Tim Penguji, serta tanda tangan dan nama Dekan FS Untag Surabaya.

Contoh halaman pengesahan skripsi dapat dilihat pada Lampiran.

 

6)   Halaman Motto dan atau Dedikasi/Kata Persembahan (kalau ada)

7)   Kata Pengantar

Kata Pengantar adalah ucapan yang bersifat pribadi penulis yang dapat berisi alasan penulisan skripsi, ucapan terima kasih, ucapan rasa syukur, dan lain-lain. Pada akhir kata pengantar, pada bagian kanan bawah, dituliskan nama kota, bulan, serta tahun berakhirnya tulisan skripsi.

8)   Daftar Isi        

Daftar isi berisi rincian isi seluruh bagian bab, subbab, sub-subbab, dalam skripsi, dimulai dari kata pengantar sampai dengan lampiran. Setiap bagian diberi nomor halaman.

9)   Daftar Tabel (kalau ada)

Daftar tabel berisi rincian seluruh tabel yang disajikan dalam skripsi. Seperti halnya daftar isi, setiap tabel diberi nomor halaman.

12) Abstrak

Abstrak skripsi adalah uraian singkat dan jelas mengenai apa yang dibahas pada skripsi tersebut. Uraian ini harus memungkinkan pembaca mendapatkan gambaran secara menyeluruh apa yang menjadi pokok bahasan skripsi. Uraian tidak boleh melebihi 300 kata serta disajikan dengan satu spasi.

Abstrak hendaknya menggambarkan masalah/fokus penelitian, teori yang melandasi analisis data, metode penelitian, dan hasil penelitian.

Pada paragraf terpisah dicantumkan beberapa (3—5) kata kunci.

13)                    Abstract

Abstract merupakan terjemahan Abstrak ke bahasa Inggris. Bagian akhir langsung disusun keyword (3—5) kata.

14)                    Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang (jika ada)

Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang berisi semua akronim, singkatan, dan lambang yang dipakai dalam skripsi. Jika suatu laporan penelitian (skripsi) menggunakan beberapa atau banyak akronim, singkatan, dan lambang, dengan tingkat frekuensi kemunculan masing-masing cukup tinggi, disarankan lebih baik menyusun Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang.

Jika dalam suatu skripsi dipakai frase pusat pembinaan dan pengembangan bahasa dengan frekuensi pakai cukup tinggi, sebaiknya dipakai singkatannya, misalnya P3B. Penelitian kesastraan yang menerapkan pendekatan struktural Vladimir Propp, misalnya, menggunakan lambang-lambang fungsi tindakan (action) pelaku (function of dramatic personae); misalnya:

 

ß              = ‘absentation, ketiadaan’,

δ              = ‘violation, pelanggaran’,

θ              = ‘complicity, keterlibatan’, dll.

 

Dapat juga singkatan lain yang dalam keseluruhan teks memiliki frekuensi kemunculan cukup tinggi, misalnya:

 

LAD       = language acquisition device

B1           = bahasa ibu, bahasa pertama

PBBK     = pengajaran bahasa berbasis kompetensi

 

Pada skripsi bidang kesastraan, bab Metode Penelitian lazim menjadi bagian dari bab Pendahuluan. Di mana pun ditempatkan, substansi keduanya tidak berbeda.

 

15. Chapter I Introduction

Bagian ini berisi: (a) Background of the Study, (b) Statement of the Problem, (c) Objective of the Study, (d) Significance of the Study, dan (e) Organization.

 

 

a)   Background of the Study

Latar belakang permasalahan berisi gagasan yang mendasari penulisan secara keseluruhan, yaitu penyajian atas informasi yang relevan sehingga dapat membantu pembaca memperoleh latar belakang pemikiran mengenai permasalahan yang dibahas. Penulisan sebaiknya menggunakan metode deduktif (dari hal yang umum ke hal yang khusus), sehingga pembaca sudah dapat menduga pokok permasalahan yang dibahas.

Unsur-unsur yang lazim terdapat dalam latar belakang sebagai berikut.

●    Fakta umum dalam bidang kebahasaan dan kesastraan. Apa yang disebut fakta dalam bidang bahasa dan sastra tentu berbeda dengan dalam dunia sosiologi dan teknologi. Misalnya adalah: banyaknya pembagian kelas kata (word class); para mahasiswa menggunakan ragam bahasa bergantian untuk konteks situasi yang berbeda-beda (code switching); banyaknya kata-kata yang merupakan lambang (icon, index, symbol) dalam karya sastra, khususnya puisi; setiap karya sastra lazim menyimpan nilai moral edukatif; dll.

●    Pernyataan pakar dalam bidang kebahasaan dan kesastraan. Satu dua pernyataan pakar bahasa atau pakar sastra—terutama pernyataan yang monumental, menarik perhatian—mengenai bidang ini dapat dijadikan titik berangkat penelitian. Ini diletakkan di bagian latar belakang.

●    Penjelasan apakah masalah seperti dalam judul pernah diteliti orang sebelumnya atau tidak. Jika memang sudah diteliti, hal apa saja yang masih perlu didalami dalam riset. Satu dua penelitian yang langsung gayut (berkaitan dan relevan) dengan penelitian skripsi mahasiswa bisa disebut singkat di bagian ini. Satu atau dua rujukan ini hendaknya dipilih yang paling menonjol dan representatif. Bagian ini tidak perlu lengkap (sebab pembahasan lebih lengkap ada di bab 2).

●    Penegasan konfirmatif alasan pemilihan judul. Bagian ini merupakan konsekuensi logis dari bagian sebelumnya. Misalnya, karena belum pernah diteliti orang, sementara hasilnya ditunggu (segera dimanfaatkan) oleh banyak kalangan, maka penelitian tentang suatu masalah layak dilakukan.

b)   Statement of the Problem

Rumusan masalah atau fokus kajian menjelaskan keadaan atau fenomena yang memerlukan pemecahan dan atau memerlukan jawaban melalui suatu penelitian. Perumusan masalah harus rinci (sebaiknya dijabarkan lebih dari satu), jelas, dan berfokus. Sebagai istilah, keduanya sama dalam substansi, tetapi berbeda dalam redaksi. Rumusan masalah dinyatakan dalam kalimat pertanyaan, sedang focus kajian dipaparkan dalam frase (bukan kalimat) pernyataan.

c)   The Objective of the Study

Tujuan penelitian harus mengungkapkan secara spesifik tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan uraian dalam latar belakang permasalahan dan rumusan masalah/fokus kajian. Jumlah tujuan yang ingin dicapai harus sama dengan rumusan masalah/fokus kajian. Apa yang disebut sebagai tujuan penelitian di bagian ini sering ditumpangtindihkan dengan manfaat penelitian—padahal jelas berbeda. Bila tujuan penelitian berisi apa yang ingin/akan dilakukan peneliti sehubungan dengan setiap  butir rumusan masalah penelitian/fokus kajian, manfaat penelitian berisi uraian mengenai kontribusi apa saja—teoretis atau pun praktis—yang diharapkan dapat diperoleh setelah penelitian selesai (lihat juga 3.2.2.1 nomor 4).

d)   The Significanse of the Study

Manfaat penelitian mengungkapkan kontribusi apa sajakah yang diharapkan dapat diberikan oleh temuan penelitian. Manfaat penelitian meliputi dua bidang, yaitu manfaat teoretis dan manfaat peraktis. Manfaat teoretis (akademik) berkaitan dengan sumbangan konsep teoritis tertentu dalam disiplin kebahasaan dan kesastraan. Dalam disiplin linguistik, misalnya, temuan suatu penelitian memberikan sumbangan konsep bahwa keketatan konstruksi P(redikat)—O(bjek) tidak selamanya bertahan dalam kalimat yang meletakkan adverbia cara di antara P dan O. Manfaat praktis berkaitan dengan harapan bahwa hasil (temuan) penelitian kebahasaan dan kesastraan dapat diaplikasikan ke dalam bidang pekerjaan, pengajaran, terjemahan, komunikasi publik, media massa, dsb.

e)   Research Method

Khusus bagi mahasiswa yang melalukan penelitian dalam bidang sastra (kesastraan), metode penelitian dijabarkan dalam Bab I, bukan pada Bab III). Meskipun letak berbeda, substansi isi tetap sama. Minimal, bagian metode penelitian memaparkan:

(a) pendekatan apa yang dipilih (dengan asalasan yang rasional),

(b) metode apa yang dipakai; dalam penelitian linguistik, misalnya, ada metode deskriptif, preskriptif,  historis, struktural, dll.;

(c) teknik penelitian (pengumpulan data, analisis data) apa yang diterapkan. Di dalam teknik penelitian—baik pengumpulan data maupun analisisnya—hendaknya disebutkan:

●    jenis teknik yang digunakan (teknik dokumentasi, observasi partisipan, wawancara, tes, angket, dst.),

●    instrumen yang digunakan (human instrument, tape recorder, tabel kriteria, dll.).

●    langkah-langkah prosedural, baik saat pengumpulan maupun analisis data.

 

16. Chapter II Review of Related Literature

Tinjauan kepustakaan berisi (a) penelitian terdahulu, (b) landasan teori, (c). Hipotesis (kalau ada), dan (d) model analisis/kerangka teoretis (kalau ada).

a)   Penelitian Terdahulu

Dalam bagian ini diungkapkan secara ringkas dan jelas hasil penelitian terdahulu yang relevan, berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti saat ini. Yang dipaparkan meliputi fokus penelitian, waktu dan lokasi penelitian, kesimpulan/hasil penelitian. Di samping itu dikemukakan perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti. Bagian ini mahasiswa yang sedang menulis skripsi hendaknya menyebutkan judul penelitian, siapa penelitinya, tahun kapan. Tentu saja, bagian ini penuh dengan kutipan—umumnya kutipan tidak langsung.

 

b)   Landasan Teori

Landasan teori berisi uraian singkat teori-teori yang digunakan dalam membahas dan memecahkan masalah. Dalam penelitian kebahasaan, misalnya, mahasiswa memaparkan teori-teori tentang proses morfologis pembentukan kata (afiksasi, reduplikasi, komposisi) dari pakar-pakar linguistik terdahulu (Bloomfield, Hockett, Pike, van Dijk, Nida, Block, dll.). Ketika mengutip, kaidah pengutipan (langsung, tidak langsung, kutipan atas kutipan) harus diikuti (paragraf, spasi, tanda baca, sumber kutipan).

Pada bagian ini mahasiswa diharapkan tidak hanya mengutip teori-teori tersebut, tetapi mahasiswa juga harus mampu menyarikan, menyimpulkan, membandingkan, serta memberikan pendapat pribadi—bahkan juga mengkritik dan menunjukkan kelemahan—atas teori-teori tersebut.

c)   Hipotesis (kalau ada)

Harus dikatakn di awal, bahwa penelitian bahasa dan sastra lazimnya tidak membutuhkan hipotesis. Jika memakai juga, biasanya itu merupakan penelitian kebahasaan dan kesastraan yang diaplikasikan dengan bidang lain, misalnya penelitian tentang: perbedaan penguasaan apresiasi puisi oleh siswa antara pengajaran dengan metode ceramah dan pengajaran dengan metode tugas, pengaruh metode kemampuan menghafal kosakata terhadap kemampuannya memahami bacaan ilmiah, dll.

Hipotesis memuat pernyataan mengenai hubungan antar "dua variabel atau lebih" yang sifatnya masih lemah—perlu diuji. Hipotesis dapat diturunkan dari teori dan beberapa sumber lain yang telah ada. Hipotesis juga merupakan jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan, oleh karena itu masih memerlukan pengujian untuk membuktikan kebenarannya.

d)   Model Analisis/Kerangka Teoretis (kalau ada)

Pada penelitian kuantitatif lazim dimunculkan model analisis, yakni penggambaran secara spesifik hubungan antarvariabel yang diturunkan dari rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan hipotesis. Dalam penelitian kualitatif, yang teori-siap-pakainya (ready for use) belum ada, peneliti harus membangun dulu kerangka teori berdasarkan teori-teori yang sudah ada. Penelitian-penelitian kesastraan yang berpendekatan intrinsik, struktural, objektif, misalnya, tidak membutuhkan kerangka teoretis sebab (terlalu) banyak teori yang sudah siap pakai, misalnya pandangan klasik teoretis Rene Wellek & Austin Warren dalam Theory of Literature (1968) atau Christopher R. Reaske dalam How to Analyze Poetry, Fiction, Drama (1966).

Penelitian kebahasaan yang makrolinguistik—yang menggabungkan antara dsiplin ilmu sastra dan ilmu lain—yang mungkin saja teorinya belum tersedia, kerangka teoretis hendaknya dikonstruk sendiri oleh penelitinya. Misalnya untuk meneliti bahasa humor yang menggabungkan antara teori bisosiasi dalam psikologi, teori konflik dalam sosiologi, dan teori tindak tutur (speech act) dalam pragmatik, peneliti disarankan menyusun konstruk kerangka teoretisnya.

17. Chapter III  Research Method

Metode penelitian menggambarkan cara-cara (prosedur)melakukan kegiatan penelitian mulai dari disain penelitian sampai dengan pemilihan alat-­alat analisis dan aplikasinya. Prosudur, metode, dan alat-alat analisis penelitian sangat tergantung pada jenis penelitian, tingkat kedalaman kajian, masalah, tujuan, dan jenis data yang dikumpulkan.

1) Hipotesis dalam Penelitian Bahasa/Sastra

Berdasarkan ada tidaknya hipotesis yang harus diuji, jenis penelitian secara umum dapat dikelompokkan ke dalam (a) penelitian tanpa hipotesis dan (b) penelitian dengan hipotesis.

Penelitian kebahasaan atau kesastraan pada umumnya berupa penelitian positivistik-kualitatif, dan bukan positivistik-kuantitatif. Sebagai penelitian berparadigma kualiatif, terminologi seperti sample, sampling, populasi, teknik pengukuran (misalnya Skala Linkert), relasi antarvariabel (korelasi, regresi, perbedaan/uji-t, dst) tidak popular dan memang tidak relevan. Jika dipaksakan, mahasiswa justru akan kebingungan karena memang “bukan jodohnya”.

Memang, dalam bidang linguistik, misalnya, ada penelitian yang memakai rumus, hitung-menghitung statistik, misalnya kajian leksikostatistik (glottochronology) dalam Linguistik Historis (Historical Linguistics), yang antara lain ingin menghitung kapan waktu berpisahnya beberapa bahasa yang sekarang berbeda-beda dan selanjutnya ingin menentukan adanya satu bahasa purba (proto-language). Akan tetapi, bidang ini jarang dijamah mahasiswa.

Mungkin ini terjadi karena dihapusnya mata kuliah ini dari kurikulum linguistik fakultas sastra, langkanya jumlah dosen yang menspesialisasikan dirinya dalam cabang disiplin ini, lama dan mahalnya penelitian ini dilakukan, atau sebab lain. Itu pun—jika dilakukan—prinsipnya khusus, tidak sama dengan penelitian regresional misalnya.

2)   Unsur-unsur dalam Bab Metode Penelitian Tanpa Hipotesis

Sesuai dengan paradigma yang diikuti, bentuk data, dan analisisnya, di samping keperluan, unsur-unsur dalam bagian metode penelitian didedskripsikan sebagai berikut.

a)   Pendekatan

Unsur pendekatan dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan dapat dilihat setidaknya dari beberapa sisi.

●    Dari sisi sifat data dan analisisnya, dalam bidang kesastraan dan kebahasaan (linguistik), dikenal adanya (a) pendekatan kualitatif dan (b) pendekatan kuantitatif.

●    Dari sisi inter/intra-disiplinernya, dalam penelitian sastra, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan intrinsik dan (b) pendekatan ekstrinsik, dan dalam penelitian linguistik, dapat dibedakan adanya (a) pendekatan mikrolinguistik dan (b) pendekatan makrolinguistik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kesastraan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan moral-filsafat, (b) pendekatan psikologi sastra, (c) pendekatan sosiologi sastra (mimetik, strukturalisme genetik, kritik sastra marxis, kritik sastra feminis, resepsi pembaca, dll.), dan (d) pendekatan sastra bandingan (comparative literature) serta (e) pendekatan semiotik.

●    Pendekatan ekstrinsik dalam penelitian kebahasaan dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam: (a) pendekatan linguistik deskriptif (sosiologi deskriptif, analisis wacana deskriptif, pragmatic deskriptif) serta (b) pendekatan linguistik kritis (critical linguistics) (sosiologi kritis, analisis wacana kritis/critical discourse analysis, pragmatik kritis).

Pendekatan mana yang dipilih bergantung pada keperluan: ruang lingkup data penelitian, tujuan penelitian, serta asumsi dasar yang diyakini peneliti.

b)   Metode

Penelitian kesastraan banyak memanfaatkan: (a) metode deskriptif, (b) metode komparatif, atau (c) metode preskriptif/moral.

Dalam penelitian kebahasaan dikenal adanya: (a) metode deskriptif, (b) metode preskriptif (normatif), (c) metode struktural, dan (d) metode komparatif. 

Metode mana yang dipilih bergantung pada keperluan: jenis data yang dianalisis, tujuan penelitian.

c)   Data dan Sumber Data/Informan

Data dalam penelitian kesastraan dan kebahasaan umumnya berupa data kualitatif verbal kebahasaan. Data verbal selanjutnya dibedakan atas (a) data verbal tertulis dan (b) data verbal lisan.

Sumber data tertulis, misalnya dapat berupa buku, kamus, koran, novel, kumpulan puisi, teks pidato. Sumber data lisan berupa pidato, siaran radio, TV, percakapan dalam drama, atau percakapan biasa. Dalam penelitian kebahasaan, sumber data lisan dapat berupa penutur bahasa asli yang cerdas dalam pengetahuan bahasanya yang lazim disebut informan.

d)   Teknik Penelitian

Teknik penelitian meliputi: (a) teknik pengumpulan data, (b) teknik penulisan data, dan (c) teknik analisis data.

(1)  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data mengandung unsur-unsur berikut:

(a)  nama teknik pengumpulan: teknik documenter, angket, teknik rekaman, tes

(b)  instrumen pengumpulan: instrumen kreatif (human instrument), radio tape, tape recorder, ponsel, catatan lapangan (field note)

(c)  langkah-langkah pengumpulan: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

(2)  Teknik Penulisan Data (jika ada/diperlukan)

Khusus untuk penelitian yang datanya berupa verbal lisan, verbal tulis yang transkripsinya huruf selain Latin (Arab, Jawa, Bali, Bugis), atau verbal yang membutuhkan transkripsi fonetis, jika dipandang perlu, bagian teknik penulisan data dapat disendirikan.

(3)  Teknik Analisis Data

Teknik analisis data mengandung unsur-unsur berikut:

(a)  nama teknik analisis: teknik analisis isi (content analysis), teknik komparasi, teknik substitusi, teknik translasi, teknik referensial,

(b)  instrumen analisis: tabel, human instrument (instrumen kreatif)

(c)  langkah-langkah analisis: pertama, ….; kedua, ….., ketiga, …., dst.

3)   Unsur-unsur dalam Bab Metode Penelitian Berhipotesis

Unsur-unsur yang lazim terdapat dalam bab metode penelitian yang memakai hipotesis sebagai berikut.

a)   Disain Penelitian

Pada bagian ini harus ditegaskan apakah rancangan penelitian berbentuk penelitian survai, studi kasus, data sekunder, eksperimen, laboratorium, atau simulasi. Dalam disain penelitian, sebenarnya peneliti telah membatasi ruang lingkup penelitian. Yang dimaksud ruang lingkup penelitian adalah keluasan dan kedalaman analisis. Maksudnya adalah: (1) penelitian yang akan dilakukan merupakan studi statistik yang lebih menekankan keluasan analisis: terhadap populasi (generalisasi atas parameter-parameter, ukuran-ukuran populasi dengan menggunakan statistik, ukuran-ukuran sampel), atau (2) penelitian yang akan dilakukan merupakan studi kasus yang menekankan kedalaman analisis (misalnya untuk tujuan penyelesaian masalah, evaluasi, dan strategi).

b)   Identifikasi Variabel

Jika dalam penelitian menguji hubungan beberapa variabel, nama-nama variabel tersebut harus diidentifikasi dan sekaligus ditentukan lambangnya (misalnya Xl untuk variabel pertama, X2 untuk variabel kedua, dan seterusnya).

c)   Definisi Operasional

Pada bagian ini harus dijelaskan batasan pasti dan terukut operasionalisasi variabel-variabel yang sudah diidentifikasi.

 

d)   Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang akan dikumpulkan harus ditegaskan. Penelitian berjudul “Hubungan antara Intensitas Belajar Kelompok dan Kemampuan Apresiasi Puisi Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Untag Surabaya”, misalnya, datanya adalah intensitas belajar kelompok dan kemampuan mengapresiasi.

      e)   Pengukuran Data

Pada bagian ini jenis ukuran untuk mengukur data harus ditegaskan apakah skala nominal, ordinal, interval, atau rasio.

f)   Alat dan Metode Pengumpulan Data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data harus ditetapkan, misalnya daftar pertanyaan, pedoman wawancara, atau format-format isian, dan sebagaimana dapat pula dilengkapi dengan kamera foto, video, atau tape recorder.

Alat yang digunakan harus dapat menjamin bahwa semua data yang dibutuhkan akan dapat diperoleh (dijaring).

Metode pengumpulan data juga harus ditegaskan, misalnya survei, observasi, wawancara, pengiriman lewat pas (mail survey), atau dokumentasi.

g)   Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

Karakteristik dan batasan populasi harus ditetapkan dengan benar. Jika menggunakan sampel (survai), harus ditentukan jumlah sampel dan tegaskan teknik pengambilan sampel.

h)   Teknik Pengambilan Data

Pada bagian ini teknik pengambilan data yang dipergunakan dapat berupa kuesioner/angket, wawancara, atau tes.

i)    Teknik Analisis Data

Pada bagian ini harus dipilih teknik analisis data yang cocok, sesuai dengan masalah, jenis data, dan tujuan penelitian. Lazim digunakan teknik statistik inferensial baik yang parametrik maupun nonparametrik.

Pedoman umum penentuan teknik analisis data dapat dilihat pada Lampiran 3.

j)    Prosedur Pengujian Hipotesis

Hipotesis dinyatakan dalam bentuk hipotesis statistik dan diuraikan prosedur pengujian yang akan dilakukan secara sistematik.

 

18. Chapter IV Analysis

Bab Hasil dan Pembahasan terdiri atas: (a) hasil penelitian dan (b) pembahasan hasil penelitian (diskusi hasil penelitian). Pengorganisasian penulisan keduanya dapat terpisah, dapat pula dintegrasikan sebagai satu kesatuan. Keduanya sama-sama boleh dan sama-sama baik.

Jika hasil penelitian dan pembahasan ditulis integral, pembahasan akan dilakukan langsung setelah setiap butir masalah dijawab. Maka, strukturnya akan tampak seperti:

●    Jawaban/analisis untuk rumusan masalah/fokus penelitian nomor 1

      Pembahasan (diskusi hasil penelitian) analisis data rumusan masalah no. 1

●    Jawaban/analisis untuk rumusan masalah/fokus penelitian nomor 2

      Pembahasan (diskusi hasil penelitian) analisis data rumusan masalah no. 2

●    Jawaban/analisis untuk rumusan masalah/fokus penelitian nomor 3

      Pembahasan (diskusi hasil penelitian) analisis data rumusan masalah no. 3

dst. (sesuai dengan keperluan)

Jika hasil penelitian dan pembahasan (diskusi hasil penelitian) ditulis secara terpisah, beberapa hal perlu diperhatikan sebagai berikut.

1)   Hasil Penelitian

Pada bagian ini dipaparkan jawaban panjang lebar atas setiap pertanyaan yang terjabar dalam rumusan masalah (fokus penelitian) dan tujuan penelitian. Oleh karena itu, jumlah, urutan, dan isi halnya harus sama—tidak lebih, tidak kurang—dengan rumusan masalah (fokus penelitian) dan tujuan penelitian. Dengan kata lain, hasil penelitian adalha jawaban panjang lebar atas pertanyaan dalam rumusan masalah (fokus penelitian) di bab 1.

2)   Pembahasan (Diskusi Hasil Penelitian)

Bagaian pembahasan mendiskusikan temuan penelitian yang tercermin dalam setiap analisis dalam hasil penelitian. Pembahasan dapat berupa penjelasan sebab-sebab mengapa hasil penelitian seperti A, mengapa bukan B, contoh-contoh lanjut yang lain. Pada pembahasan juga dapat dipaparkan sudut pandang teoretis yang dipakai sebagai landasan analisis. Apakah sesuai, emdukung, memperkuat, melengkapi, menunjukkan perbedaan, bahkan pertentangan, dengan “bunyi” teori sebelumnya. Tentu saja, dengan demikian, penulis skripsi (mahasiswa) boleh kembali melakukan rujukan kutipan teoretis.

Gaya redaksi pembahasan lebih bebas. Biarpun sebagai karya ilmiah selalu argumentatif, isi pembahasan bisa saja diekspresikan melalui eksplanasi ekspositoris. Kesannya lebih luwes.

Pada bagian pembahasan pula hendaknya dikemukakan kelemahan-kelemahan yang dirasakan, ditemukan, dan dicatat mahasiswa. Sanggup menemukan “kelemahan” penelitian yang dilakukan dan dapat tepat merumuskannya ke dalam redaksi yang jelas justru merupakan “kekuatan” tersendiri.

 

19. Chapter V  Conclusion

Simpulan merupakan rangkuman dari pembahasan yang telah dilakukan pada Bab 4. Simpulan dapat juga dipandang sebagai jawaban singkat atas pertanyaan dalam rumusan masalah penelitian (fokus penelitian)—ini sekaligus membedakannya dari bab hasil penelitian dan pembahasan sebagai jawaban panjang terhadap rumusan masalah (fokus penelitian).

Bagian ini berisikan inti sari dari analisis dan pembahasan hasil penelitian yang mencerminkan keadaan sebenarnya. Pada bagian ini tidak boleh ada uraian atau analisis yang merupakan ulangan dari uraian sebelumnya dan tidak boleh mengandung penjelasan, kutipan, data statistik; atau saran (saran, ada tempatnya sendiri). Jumlah simpulan harus sesuai dengan rumusan masalah (fokus penelitian), tujuan penelitian, serta butir-butir hasil penelitian dan pembahasannya.

 

Saran merupakan gagasan rekomendasi pemecahan masalah yang didasarkan pada pembahasan pada Bab 4. Saran yang dikemukakan harus dikaitkan dengan hasil yang tercantum dalam sub-subsimpulan. Saran-saran tambahan dibolehkan asal tidak bertentangan dengan hasil pembahasan dan simpulan. Saran harus konkrit, aktual, dan layak.

Saran harus pula ditujukan kepada sasaran yang jelas, sesuai dengan pihak-pihak yang relevan dikaitkan. Apakah saran kepada peneliti berikutnya, mahasiswa yang menulis skripsi, dosen yang mengampu mata kuliah tertentu, orang tua yang membaca novel dan ingin memperoleh nilai pendidikan darinya, dst. Secara singkat, setiap saran penelitian harus mengandung dua unsur pokok:

(a)  saran ditujukan kepada siapa dan

(b)  siapa yang dimaksud tersebut hendaknya, sebaiknya melakukan apa.

Begitulah, saran harus konkret. Oleh karena itu, saran yang ditujukan kepada pembaca pada umumnya adalah saran yang buruk—yang tidak memiliki signifikansi dengan permasalahan penelitian.

 

20.  Pembagian bab untuk skripsi bidang kajian sastra terdiri dari chapter I Introduction, chapter II Review of Related Literatur, chapter III Analysis, chapter IV Conclusion.

 

3.3       Bagian Akhir

Bagian akhir terdiri atas: (1) daftar pustaka (bibliography), dan (2) lampiran­lampiran. Lampiran tidak wajib ada. Akan tetapi, lazimnya penelitian selalu melampirkan sesuatu.

 

3.3.1       Daftar Pustaka

Daftar pustaka harus relevan dengan kebutuhan pembahasan masalah yang ada dalam skripsi. Jumlah minimal 10 pustaka. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pencantuman pustaka dalam daftar pustaka sebuah skripsi adalah sebagai berikut.

●    Daftar pustaka wajib mencantumkan setiap pustaka yang dikutip atau sekadar disebut dalam bab I, II, III, dan IV.

●    Pustaka dimaksud meliputi: artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian (skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya.

●    Buku, kamus, ensiklopedia, dan thesaurus.

●    Undang-undang, peraturan daerah, dokumen hokum, edaran kelembagaan, dll.

●    Koran, majalah, tabloid, buletin, terbitan berkala.

●    Artikel dan berita website, blog, situs di internet.

●    Penulisan daftar pustaka mengikuti aturan tata tulis tertentu (lihat Bab IV)

 

3.3.2    Lampiran-lampiran

Lampiran menyajikan dokumen tertulis dan gambar yang—dengan pertimbangan tertentu—tidak perlu dimunculkan dalam bagian inti skripsi. Meskipun demikian, tidak berarti lampiran tidak penting. Dokumen yang dilampirkan disajikan untuk mendukung pembahasan masalah dan analisis data penelitian.

Beberapa hal yang bisa dan biasa diisikan sebagai materi lampiran adalah sebagai berikut.

●    Data sejenis yang lain dengan data yang dikutip dalam bab hasil dan pembahasan. Mahasiswa yang meneliti gaya bahasa (figurative language) puisi, dalam cabang stilistika, misalnya, jika terdapat 46 data yang memakai personifikasi, tidak semuanya—ke-46 data tersebut—ditampilkan satu per satu di bab hasil dan pembahasan: betapa menjemukannya! Cukup 1—3 data ditampilkan di bab hasil dan pembahasan, sedang sisanya di lampiran.

●    Tabel pengumpulan data yang sudah diisi dan diklasifikasikan. Seperti yang pertama, tidak semua data perlu ditampilkan. Sebagian dapat ditampilkan di dalam table dan ditaruh di lampiran.

●    Tabel analisis data yang sudah diisi dan diklasifikasikan. Tabel ini semata-mata sebagai alat Bantu bagi penulis skripsi agar mempermudah kerjanya—misalnya dapat dengan mudah mengurutkan butir-butir pembahasan.

●    Data dan keterangan mengenai informan dalam penelitian kualitatif kebahasaan. Untuk penelitian bahasa lisan, informan sangat didiperlukan, yang menyangkut jenis kelamin, usia, penguasaan bahasa, dll.

●    Data puisi-puisi yang diteliti.

●    Biografi pengarang (novelis, cerpenis, penulis roman, penyair) dan kritikus sastra

●    Biodata mahasiswa yang sedang menulis skripsi

Dll.

 

 

 

 

BAB IV

KETENTUAN UMUM TEKNIK PENULISAN

 

Bab tentang ketentuan umum teknik penulisan memuat aturan-aturan umum dalam menuliskan huruf, kata, frase, kalimat, paragraf, penomoran, ejaan, bahkan jenis dan ukuran kertas. Hal ini berlaku baik untuk penulisan proposal maupun skripsi. Selengkapnya, akan dirincikan berikut ini.

 

4.1        Bahasa Proposal dan Skripsi

4.1.1    Jenis Bahasa

Proposal dan skripsi Prodi Sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris, proposal dan skripsi Prodi Sastra Jepang menggunakan bahasa Indonesia. Abstrak dalam skripsi bagi Prodi Sastra Jepang ditulis dalam bahasa Jepang dan Indonesia.

 

Sebagai sebuah karya tulis ilmiah, proposal dan skripsi menggunakan ragam bahasa baku, standar, resmi, dan keilmuan. Kalimat-kalimatnya harus merupakan kalimat efektif (lihat 4.1.2).

 

4.1.2    Kalimat Efektif

Kalimat harus ringkas, jelas, dan tidak bisa ditafsirkan lain. Dengan kata lain, ragam ilmiah dalam proposal dan skripsi hendaknya memakai kalimat efektif. Kalimat efektif dalam karya ilmiah hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut.

■    Kalimat harus gramatikal, sesuai dengan kaidah tata bahasa (grammar) masing-masing.

■    Kalimat harus memakai kata-kata baku (standard), bukan kata tutur harian, vulgar, slank, jargon, argot, dll.

■    Kalimat harus memakai kata-kata yang lugas, tidak bertele-tele.

■    Kalimat harus logis (masuk akal).

■    Kalimat harus hemat kata. Apabila suatu ungkapan dapat disajikan dengan satu kata, ungkapan tersebut jangan disajikan dengan dua kata atau lebih, misalnya ungkapan parafrase melakukan pengambilan data hendaknya diekonomiskan dengan mengambil data.

■    Kalimat harus hanya mengandung satu arti, tidak taksa (ambiguous).

 

4.2    Teks Proposal dan Skripsi

4.2.1    Judul Bab

Judul setiap bab pada proposal dan skripsi (misalnya Kata Pengantar, Daftar Isi, Bab I, Bab II, dst.) ditempatkan pada bagian atas tengah halaman, apabila menggunakan bab, nomor bab harus dicantumkan di atas judul.

4.2.2        Paragraf

Paragraf adalah rangkaian kalimat yang mengandung satu ide pokok (main idea). Dengan demikian, jika mengandung 2 ide pokok, suatu paragraf harus dipecah menjadi 2 paragraf pula.. Suatu paragraf biasanya terdiri dari kalimat awal, kalimat pembahasan, dan kalimat simpulan. Begitulah 1 paragraf harus mengandung 1 pokok pikiran yang akan diungkapkan.

Hubungan antarkalimat dalam sebuah paragraf harus terasakan. Hubungan tersebut terbangun melalui penanda kohesi antarkalimat. Misalnya pengulangan kata, kata ganti (pronomina), kata tunjuk (ini, itu, tersebut, di muka), sinonim, antonim, dst.

Antara paragraf satu dan paragraf berikutnya dalam suatu subjudul harus terdapat relasi, kaitan, dan disajikan menurut urutan penalaran yang logis. Oleh karena itu, pemakaian penanda kohesi antarparagraf harus tepat dan eksplisit. Misalnya: Kenyataan tersebut …, sehubungan dengan kondisi di muka, … Bahasa jurnalistik, seperti disebut dalam bagian di muka, adalah

Kata awal paragraf harus dimulai dengan karakter yang ke-6 dari batas tepi kiri. Sementara, pada sisi kanan penulisan dilakukan dengan rata kanan.

 

4.3    Bahan dan Ukuran Kertas

4.3.1    Bahan Naskah

Kertas naskah proposal dan skripsi harus HVS putih dengan berat minimal 70 gram atau 80 gram dan ditulis hanya satu sisi/muka.

4.3.2    Bahan Sampul

Sampul depan skripsi harus menggunakan kertas karton teba140 gram.

4.3.3    Ukuran Naskah

Ukuran naskah menggunakan kertas A4 (29,5 cm x 21 cm).

4.4    Pengetikan

1)   Pengetikan harus menggunakan komputer. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman 12 point. Seluruh naskah harus menggunakan jenis huruf yang sama, kecuali untuk keperluan tertentu (misalnya tabel dan gambar).

2)   Batas-batas adalah

-  Batas atas 4 cm

-  Batas bawah 3 cm

-  Batas kiri 4 cm

-  Batas kanan 3 cm

3)   Jarak antara dua baris pada teks paragraf dibuat 2 spasi, sedang untuk abstraks, abstract, kutipan langsung ≥ 4 baris, judul daftar tabel, dan keterangan daftar gambar yang lebih dari satu baris, dan daftar pustaka harus diketik dengan jarak 1 spasi.

Penggaturan spasi lainnya adalah sebagai berikut

a.   Jarak antara nomor bab dengan judul bab adalah 2 spasi.

b.   Jarak antara judul bab dengan judul subbab adalah 4 spasi.

c.   Jarak antara baris terakhir subbab dengan judul subbab berikutnya adalah 4 spasi.

d.   Jarak antara subbab atau baris terakhir dari kalimat sebelum judul sub-subbab dengan judul sub-sub bab adalah 3 spasi.

e. Jarak antara halaman pertama skripsi tiap bab dengan nomor halaman adalah 4 spasi.

f.    Jarak antara baris kutipan yang lebih atau sama dengan 4 baris adalah 1 spasi dengan tanda petik; spasi untuk kutipan kurang dari 4 baris 2 spasi dengan tanda petik (langsung masuk teks paragraf).

4) Bilangan diketik dengan angka dan huruf, namun untuk pengetikan bilangan pada permulaan kalimat harus diketik dengan huruf.

5)   Bilangan desimal ditandai dengan koma [,], bukan titik [.]. Contoh: 4,5 bukan 4.5.

6)   Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa titik di belakangnya. Contoh: kg, cm, km, Rp, bukan kg., cm., km., Rp..

7)   Judul bab harus ditulis secara sistematis terhadap batas kiri dan batas kanan pengetikan dengan huruf kapital semuanya, tidak perlu diberi garis bawah dan tidak diakhiri dengan titik.

8) Subjudul harus diketik mulai batas kiri. Semua kata subjudul harus diawali dengan huruf kapital kecuali kata-kata penghubung (conjunction) dan kata depan (preposition). Tidak perlu garis bawah dan titik sebagai tanda akhir.

9)   Kalimat pertama sesudah subjudul dimulai dengan alenia baru.

10) Anak subjudul (sub-subjudul) diketik mulai batas kiri. Huruf besar hanya digunakan untuk awal kata pertama. Anak subjudul harus tidak perlu diakhiri dengan titik.

11) Kalimat setelah subjudul dimulai dengan alinea baru.

12) Judul, gambar, tabel, daftar, dan grafik harus disajikan secara simetris terhadap batas kiri dan batas kanan pengetikan.

 

4.5    Penomoran

1)   Bagian awal skripsi mulai dari kata pengantar sampai dengan abstract diberi nomor halaman dengan angka Romawi kecil (i, ii, iii, dst.) yang diletakkan di sebelah bawah simetris dari batas kiri dan batas kanan, kecuali halaman judul tidak diberi nomor.

2)   Bagian isi dan bagian akhir skripsi, mulai dari Bab I (Pendahuluan) sampai dengan lampiran (bagian akhir) diberi nomor halaman dengan angka Arab (1, 2, 3, dst.). Nomor halaman ditulis di sudut kanan atas dengan jarak 1 inci dari batas atas dan 1,4 cm dari batas kanan. Tetapi, untuk halaman pertama dari bab, penomoran harus ditempatkan pada bagian bawah simetris dengan batas kiri dan batas kanan pengetikan.

3)   Untuk proposal seluruhnya menggunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) yang dicantumkan pada sudut kanan atas dengan aturan seperti butir 2.

4)   Tiap bab diberi nomor urut angka romawi I, II, III, IV, dan V, diletakkan simetris di atas judul bab.

5)   Subjudul diberi nomor angka Arab diakhiri titik: 1.1, 1.2, 1.3, 2.1, 2.2, 2.3, dst.

Sub-subjudul diberi nomor angka Arab turunan subjudul diakhiri titik: 1.1.1, 1.1.2, 2.1.1, 2.1.2, dst.

Apabila ada anak sub-subjudul lebih dari 4 digit (tingkatan yang lebih rendah), penomorannya menggunakan angka Arab satu kurung tanpa diakhiri titik:  1), 2), 3), dst.

Apabila masih ada anak dari anak subjudul, penulisannya menggunakan huruf kecil kurung tanpa itik:  a), b), c), dan seterusnya.

Format penulisan tetap menggunakan standar rata kiri.

6)   Setiap tabel diberi nomor urut Arab (1, 2, 3, dst) dan diletakkan di tengah atas dari tabel dan judul tabel. Tabel untuk tiap bab mulai dengan nomor baru. Misalnya tabel kedua dalam Bab 2 akan ditulis sebagai Tabel 2.2 dan disertakan sumber, yang ditulis di bawah tabel yang bersangkutan.

7)   Setiap gambar diberi nomor urut Arab (1, 2, 3, dst) dan diletakkan di tengah bawah gambar dan judul gambar. Cara pemberian nomor ilustrasi (gambar, grafik, foto, peta, bagan, diagram) sama dengan cara pemberian nomor tabel, mengikuti bab tempat gambar berada, tetapi nomor dan judul ilustrasi ditulis pada posisi tengah di bawah ilustrasi. Misalnya Gambar 3.2 berarti gambar ke-2 di bab III.

 

4.6    Tanda Baca

Penggunaan tanda-tanda baca, penulisan huruf, kata, frase, kalimat, dan paragraf mengikuti Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pusat Bahasa, 1993).

 

4.6.1 Koma, Titik, Titik Koma, Titik Dua, Tanya, Seru, dan Persen

Tanda koma (,), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanya (?), seru (!), dan persen (%) diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya. Jika diketik renggang (berspasi), maksudnya berbeda, atau tidak berarti sama sekali. Perhatikan letak tanda baca yang rapat pada contoh sebelah kiri dan bandingkan dengan yang renggang di sebelah kanan pada Tabel 4.1.

 

 

 

Tabel 4.1 Penulisan Koma, Titik, Titik Koma, Titik Dua, Tanya, Seru, dan Persen

 

TANDA BACA

KETIK RAPAT

(TANPA SPASI)

KETIK RENGGANG

(BERSPASI)

.

Data dianalisis.

Data dianalisis .

,

Solo, Bali, dan

Solo , Bali , dan

;

Data dicatat; proses dihentikan.

Data dicatat ; proses dihentikan.

:

Bahasa pilihan adalah: Bali, Jawa

Bahasa pilihan adalah   :   Bali, Jawa

?

Bagaimana rumusnya?

Bagaimana rumusnya  ?

!

Pilihlah informan usia dewasa!

Pilihlah informan usia dewasa  !

%

100%, 75%, 7%

100  %,  75  %,  7  %

 

4.6.2    Tanda Hubung, Tanda Pisah, dan Garis Miring

Tanda hubung (-, kecuali untuk memenggal kata), tanda pisah (—), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya. Perhatikan pula contoh cara tidak baku pengetikan tanda hubung di sebelah kiri dan cara baku di sebelah kanan pada Tabel 4.2:

 

Tabel 4.2 Penulisan Hubung, Pisah, Garis Miring

 

TANDA BACA

BAKU:
Ketik Rapat (Tanpa Spasi)

TIDAK BAKU:

Ketik Renggang (Berspasi)

-

sikap pura-pura itu menunjukkan bah-wa kepribadian individu ….

sikap pura - pura menunjukkan bah - wa menunjukkan bah-wa

Sikap itu—tidak peduli pada nasib sesama—amat berbahaya.

Sikap itu — tidak peduli pada nasib sesame — amat berbahaya.

/

Sebanyak 247 soal/responsen

Sebanyak 247 soal  /  responsen

 

4.6.3    Tanda Petik, Petik Tunggal, Kurung, Kurung Siku        

Tanda petik ("…"), petik tunggal (‘…’), kurung ((…)), dan kurung siku ([…]) diketik rapatdengan huruf-huruf dari kata yang diapitnya. Perhatikan contohnya pada Tabel 4.3:

 

 

 

 

Tabel 4.3 Penulisan Petik, Petik Tunggal, Kurung, Kurung Siku

 

TANDA BACA

BAKU:
Ketik Rapat (Tanpa Spasi)

TIDAK BAKU:

Ketik Renggang (Berspasi)

“…”

Puisi “Love in War” karya George …

Puisi “ Love in War ” karya George …

‘…’

Demokrasi berasal dari demos  ‘rakyat’ dan cratein  ‘pemerintahan’

Demokrasi berasal dari demos ‘ rakyat ’ dan cratein  ‘ pemerintahan ’

(…)

Bahasa ibu (L1), bahasa asing (L2)

Bahasa ibu ( L1 ), bahasa asing ( L2 )

[…]

(Hal kompositum dengan frase [Bab III] tidak tampak dalam kasus ini.

(Hal kompositum dengan frase [ Bab III ] tidak tampak dalam kasus ini.

 

4.6.4        Tanda Sama, Tidak Sama, Lebih Besar, Lebih Besar dan Sama, Lebih Kecil, Lebih Kecil dan Sama, Tambah, Kurang, Kurang Lebih, Kali, Bagi

 

Tanda sama (=), tidak sama (), lebih besar (>), lebih besar dan sama (≥), lebih kecil (<), lebih kecil dan sama (≤), tambah (+), kurang (-), kurang lebih (+), kali (x), dan bagi (:) diketik dengan jarak satu ketukan spasi dengan huruf atau angka yang mendahului dan mengikutinya. Perhatikan Tabel 4.4!

 

Tabel 4.4 Penulisan Tanda Sama, Lebih Besar, Lebih Besar dan Sama, Lebih Kecil, Lebih Kecil dan Sama, Tambah, Kurang, Kurang Lebih, Kali, Bagi

 

TANDA BACA

BAKU:
Ketik Rapat (Tanpa Spasi)

TIDAK BAKU:

Ketik Renggang (Berspasi)

=

bahasa Indonesia = bahasa Melayu

bahasa Indonesia=bahasa Melayu

bahasa Indonesia   bahasa Melayu

bahasa Indonesia≠bahasa Melayu

bahasa Inggris > bahasa Melayu

bahasa Inggris>bahasa Melayu

bahasa Inggris ≥ bahasa Melayu

bahasa Inggris≥bahasa Melayu

bahasa Inggris < bahasa Melayu

bahasa Inggris<bahasa Melayu

bahasa Inggris ≤ bahasa Melayu

bahasa Inggris≤bahasa Melayu

+

bentuk dasar + prefiks

bentuk dasar+prefiks

-

10 - 27

10-27

+

Jumlah morfem + 7 jenis

Jumlah morfem+7 jenis

x

4 x 6

4x6

:

50 : 10

50:10

 

 

 

4.7        Penulisan Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran,  dan Daftar Singkatan dan Simbol

 

4.7.1    Daftar Isi

Penulisan Daftar Isi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan daftar isi pada skripsi sebagai berikut.

●    Isi dalam Daftar Isi (halaman pengesahan, kata pengantar, abstrak, Bab I, dst.)  ditulis mulai tepi kiri.

●    Nomor halaman setiap isi dicantumkan pada garis tepi kanan (margin kanan) sejajar dengan isi. Nomor halaman yang dinyatakan hanyalah nomor halaman isi yang bersangkutan dimulai.

●    Tiap bab dapat dibagi dalam subbab atau subjudul dan yang dalam daftar isi cukup sampai dengan subbab atau judul.

●    Jarak bab dengan bab, bab dengan subbab, subbab dengan bab, dipisahkan dengan jarak spasi yang lebih lebar dari spasi antarbaris biasa

 

4.7.2    Daftar Tabel (jika ada)

Contoh lengkap penulisan daftar tabel dapat dilihat secara rinci penjelasan untuk itu, perhatikan berikut ini.

●    Kata Daftar Tabel ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman dari kiri atau kanan.

●    Pada garis tepi kiri ditulis kata Tabel diikuti dengan nomor urut tabel dan judul tabel.

●    Nomor halaman ditulis setelah judul tabel dengan format rata kanan.

●    Apabila panjang judul tabel lebih dari satu baris, beris berikutnya berjarak 1 spasi; antara judul tabel satu dan judul tabel lain harus dipisahkan dengan jarak 2 spasi.

 

4.7.3    Daftar Gambar (jika ada)

Tata cara penulisan Daftar Gambar sama dengan Daftar Tabel (4.7.2). Perlu diketahui bahwa sebutan gambar mencakup juga grafik, sketsa, bagan, foto, lukisan. Daftar Gambar wajib disusun jika dalam suatu laporan skripsi minimal terdapat 2 gambar. Contoh lengkap penulisan daftar gambar dapat dilihat pada Lampiran 12. Secara rinci penjelasan untuk itu, perhatikan berikut ini.

●    Kata Daftar Gambar ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman dari kiri atau kanan.

●    Pada garis tepi kiri ditulis kata Gambar diikuti dengan nomor urut gambar dan judul gambar.

●    Nomor halaman ditulis setelah judul gambar dengan format rata kanan.

●    Apabila panjang judul gambar lebih dari satu baris, beris berikutnya berjarak 1 spasi; antara judul gambar satu dan judul gambar lain harus dipisahkan dengan jarak 2 spasi.

 

4.7.4        Daftar Lampiran (jika ada)

Tata cara penulisan Daftar Lampiran sama dengan Daftar Tabel (4.7.2) dan Daftar Gambar (4.7.3). Daftar Lampiran hanya disusun jika memang terdapat setidaknya 2 hal yang dilampirkan. Contoh lengkap penulisan Daftar Lampiran dapat dilihat pada Lampiran 13. Secara rinci penjelasan untuk itu, perhatikan berikut ini.

●    Kata Daftar Lampiran ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman dari kiri atau kanan.

●    Pada garis tepi kiri ditulis kata Lampiran diikuti dengan nomor urut lampiran dan judul lampiran.

●    Nomor halaman ditulis setelah judul lampiran dengan format rata kanan.

●    Apabila panjang judul lampiran lebih dari satu baris, beris berikutnya berjarak 1 spasi; antara judul lampiran satu dan judul lampiran lain harus dipisahkan dengan jarak 2 spasi.

 

4.7.5    Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang (jika ada)

Jika suatu laporan penelitian (skripsi) menggunakan beberapa atau banyak akronim, singkatan, dan lambang, dengan tingkat frekuensi kemunculan masing-masing cukup tinggi, disarankan lebih baik menyusun Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang. Penelitian kesastraan yang menerapkan pendekatan struktural Vladimir Propp, misalnya, menggunakan lambang-lambang fungsi tindakan (action) pelaku (function of dramatic personae); misalnya: ß = ‘absentation, ketiadaan’, δ = ‘violation, pelanggaran’, θ ‘complicity, keterlibatan’, dll.

Beberapa ketentuan dalam penulisan Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang dideskripsikan berikut ini.

●    Kata Daftar Akronim, Singkatan, dan Lambang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, tanpa titik, tanpa garis bawah, di tengah-tengah halaman, dari kiri atau kanan.

●    Pada tepi kiri ditulis kata-kata Akronim/Singkatan/Lambang—memakai garis miring (/), bukan koma—dan di sebelah kanannya dituliskan kata-kata Kepanjangan/Arti. Di bawah kata-kata Akronim/Singkatan/Lambang dituliskan semua akronim, singkatan, dan lambang yang dipakai dalam skripsi dan di bawah kata Kepanjangan/Arti dituliskan kepanjangan setiap singkatan dan akronim serta arti setiap lambang.

●    Jarak spasi antara akronim/singkatan/lambang dan akronim/singkatan/lambang berikutnya 2 spasi; jika dalam satu akronim/singkatan/lambang memiliki kepanjangan atau arti yang memerlukan lebih dari 1 baris, spasi antarbaris  dalam satu akronim/singkatan/lambing tersebut adalah 1 spasi.

 

4.8    Penyajian Tabel dan Gambar di Bagian Inti

Agar dak salah paham, sejak awal diingatkan, bagian ini menyajikan tabel dan gambar—dan bukan daftar tabel dan daftar gambar.

 

4.8.1    Penyajian Tabel

Penggunaan tabel dipandang lebih efektif, praktis, dan sistematis dalam menyampaikan informasi, apalagi informasi statistis, dalam kolom dan lajur. Beberapa ketentuan dalam menyajikan tabel sebagai berikut.

●    Ukuran seluruh huruf pada tabel lebih kecil daripada huruf pada teks paragraf. Jika pada teks paragraf digunakan huruf ukuran 12 point, pada tabel 10 point.

●    Setiap tabel diberi nomor dan judul. Nomor tabel terdiri atas dua nomor, yakni nomor bab dan nomor urutan tabel; nomor bab mengikuti bab tempat tabel berada. Judul tabel dicetak tebal (bold). Nomor dan judul table terletak di paling atas sbelum masuk ke kolom-kolom dan lajur-lajur tabel.

●    Spasi umum adalah 1 spasi. Spasi antara judul dan lajur pertama tabel adalah 2 spasi (atau setidaknya lebih lebar dari lainnya).

Perhatikan contoh:

 

Tabel 4.5  Klasifikasi Data Latar dalam Novel Moby Dick

 

No

Data Latar dalam Novel Moby Dick

Klasifikasi Latar

1

Pantai Nantucket, Lautan Atlantik, Geladak kapal Peagod, New Bedford, Gereja Chapel

Latar Geografis

2

Tahun 1890—900-an, siang angin topan, malam hari hujan deras

Latar Temporal

3

Realisme-sekuler, situasi primitif, religius, budaya masyarakat nelayan dan kelasi kapal, nilai yang membanggakan menaklukkan ikan paus

Latar Sosial

Dst.

Dst.

Dst.

 

Nomor 4.5 berarti tabel ini berada di bab IV dan merupakan tabel ke-5 dalam bab tersebut. Kolom-kolom pada tabel—baik jumlah maupun isinya—disesuaikan dengan kebutuhan dan masalah yang ditabelkan.

●    Tabel pendek dapat ditempatkan di bawah teks yang bersangkutan; apabila teks telah sampai halaman bawah, tabel dapat ditempatkan di halaman berikutnya.

●    Tabel yang lebih panjang dapat ditempatkan pada halaman berikutnya.

●    Tabel panjang dapat ditempatkan memanjang dengan judul tabel pada tepi kiri halaman

●    Tabel yang lebih panjang dan lebar, yang mengakibatkan cara-cara di atas tidak memadai, dapat digunakan kertas folio yang dilipat.

●    Sumber tabel ditempatkan di bagian bawah kiri tabel yang bersangkutan, terutama untuk tabel yang diambil dari buku, atau jurnal. Apabila tabel dibuat oleh penulis dari hasil penelitiannya, sumber tabel tidak perlu disebutkan.

 

4.8.2        Penyajian Gambar

Penggunaan gambar (termasuk sketsa, bagan, foto, denah) dimungkinkan. Alur penelitian, kerangka teoretis, dalam penelitian kebahasaan dan kesastraan, misalnya, dapat disajikan dalam bagan. Beberapa ketentuan dalam menyajikan gambar sebagai berikut.

●    Ukuran seluruh huruf pada bagan/gambar lebih kecil daripada huruf pada teks paragraf. Jika pada teks paragraf digunakan huruf ukuran 12 point, pada bagan 10 point. Aturan ini tidak berlaku pada huruf yang merupakan lambang, logo, atau gambar/foto.

●    Setiap gambar diberi nomor dan keterangan. Nomor gambar terdiri atas dua nomor, yakni nomor bab dan nomor urutan gambar; nomor bab mengikuti bab tempat gambar berada. Keterangan gambar dicetak tipis (normal) di bawah—bukan di atas—gambar, tidak boleh terpisah halamannya.

●    Spasi keterangan gambar adalah 1 spasi jika lebih dari 1 baris.

 

4.9    Teknik Mengutip

Mahasiswa dapat mengutip suatu pendapat atau teori dari jurnal-jurnal atau buku-buku untuk mendukung pembahasan skripsi. Secara garis besar, mengutip dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) teknik mengutip langsung, (2) teknik mengutip isi, dan (3) teknik mengutip tak langsung.

Teknik mana pun yang digunakan selalu harus menuliskan sumber kutipan dengan jujur. Sumber kutipan (pustaka) dapat berupa artikel jurnal, opini koran, kolom majalah, buku, makalah, laporan penelitian, tabloid, majalah, kamus, ensiklopedi, tesaurus, website, disertasi, dll.

 

4.9.1    Teknik Mengutip Langsung

Teknik mengutip langsung (TML) dibedakan ke dalam dua macam, yaitu (1) TML < 4 baris dan (2) TML dari 4 baris. Penerapan keduanya memiliki aturan sendiri-sendiri.

 

4.9.1.1    TML < 4 Baris

Yang dimaksud 4 baris di sini adalah 4 baris setelah diketik dalam skripsi—bukan 4 baris dalam sumber kutipan. Pada kutipan ini berlaku aturan sebagai berikut.

●    Teks kutipan dituliskan apa adanya, tidak ada perubahan.

●    Teks kutipan diketik menjadi satu padu (integral) di dalam paragraf. Spasinya mengikuti spasi paragraf (2 spasi).

●    Teks kutipan diapit tanda petik (“…”).

●    Sumber kutipan harus dituliskan, baik sebelum maupun setelah kutipan. Nama penulis sumber kutipan yang dirujuk selalu unsur nama terakhir. Nama lengkap M.H. Abrams, sesuai yang tercetak dalam bukunya The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition (1979), tetapi penulisannya sebagai sumber kutipan di dalam tanda kurung cukup nama terakhir, Abrams.

Perhatikan contoh  berikut:

 

The orientation of this thesis is using mimetic approach.  Mimetic approach is “the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe” (Abrams, 1979: 8). Imitation is a relational term, signifying two items and some correspondence between them. But although in many later mimetic theories …..

 

Teks yang diapit tanda petik—“the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe”—merupakan teks kutipan. Panjang teks kutipan ini adalah satu baris—tidak sampai 4 baris. Teks (Abrams, 1979: 8) merupakan sumber kutipan; artinya adalah teks tersebut dikutip dari buku karangan M.H. Abrams yang terbit tahun 1979 tepat di halaman 8. Teks selain yang diapit tanda petik, sebelum dan sesudahnya, merupakan kalimat-kalimat mahasiswa sendiri.

 

4.9.1.2    TML ≥ 4 Baris

Pada kutipan TML ≥ 4 baris, berlaku aturan-aturan yang berbeda—walaupun ada juga kesamaannya—sebagai berikut.

●    Teks kutipan dituliskan apa adanya, tidak ada perubahan.

●    Teks kutipan diketik dengan spasi antarbaris 1 spasi di dalam paragraf tersendiri, sementara spasi teks paragraf tetap 2 spasi. Jarak bagian sebelah kiri dan kanan teks kutipan lebih masuk menjorok.

●    Teks kutipan bisa diapit tanda petik (“…”), bisa juga tidak, bergantung teks paragraf sebelumnya. Jika akhir paragraf sebelum kutipan ditutup dengan titik dua (:), teks kutipan diapit tanda petik. Jika akhir paragraf sebelum kutipan ditutup dengan tanda titik (.), teks kutipan tidak usah diapit tanda petik.

●    Sumber kutipan harus dituliskan, baik pada paragraf sebelum kutipan maupun akhir teks kutipan. Seperti lazimnya, yang dirujuk sebagai sumber kutipan adalah unsur nama terakhir (lihat 4.9.1.1).

Perhatikan contoh  berikut:

 

In creating the work become easier to understand for the reader, the writer usually uses imagery. Because it will helps the reader to understand the meaning of poem well. But the reader also must have ability and thought to see and hear imaginatively. The statement above is supported by Cristopel (1986: 34-35):

 

“Imagery: images, pictures, or sensory content, which we find in a poem. Images are fanciful or imaginative description of people or obejects state in terms of our senses. When we discuss the imagery of a poem. We look a each of the images in particular and then try to arrive at some general understanding of what may or may not be a pattern of imagery”.

 

While according to Willfred, Imagery is any verbal appeal to any of the senses: a stimulation of the imagination through sense experience,  ………

 

Pada teks ini sumber kutipan—yaitu Cristopel (1986: 34-35)—ditulis sebelum teks kutipan. Teks kutipan diketik 1 spasi dalam paragraf terpisah dan tersendiri sebab mencapai lebih dari 4 baris.  Karena paragraf sebelum teks kutipan berakhir dengan titik dua (:), teks kutipan di paragraf berikutnya diapit tanda petik: “Imagery: images ….. pattern of imagery”. Seandainya teks paragraf sebelum teks kutipan diakhiri dengan tanda titik (.), teks kutipan tidak perlu lagi diapit tanda petik. Teks paragraf sebelum dan sesudah teks kutipan adalah teks dengan redaksi mahasiswa sendiri, diketik dengan 2 spasi.

 

4.9.2    Teknik Mengutip Isi

Teknik mengutip isi (TMI) tidak banyak diatur. Meskipun demikian, satu dua semacam aturan dapat dijelaskan di sini.

●    TMI pada prinsipnya adalah mengatakan suatu pikiran orang lain dengan redaksi yang lain dalam bahasa sendiri (mahasiswa penulis skripsi). Bahasa boleh berbeda, tetapi isi harus sama, tidak boleh bertentangan.

●    Teks kutipan isi lebur ke dalam teks paragraf sendiri. Oleh karena itu, spasi antarbarisnya sama-sama 2 spasi. Teks kutipan isi dilarang diapit tanda petik.

●    Sumber kutipan dituliskan setelah kutipan isi—boleh juga sebelumnya.

Perhatikan contoh berikut!

 

According to the thesis writer accent is a kind of stress word in poetry. Her idea is supported by the idea of Christopel (1986: 22) that accent is when stress is placed on a word. All poetry is written in some particular meter. That is poems are made from collection of lines which have a certain number of syllables, some of them are accented (receive stress) and some of them are not (receive no stress).

 

4.9.3    Teknik Mengutip Tak Langsung

Dengan teknik mengutip tak langsung (TMTL)—disebut juga kutipan atas kutipan—terdapat dua lapis kutipan. Lapis pertama, adalah kutipan penulis III (mahasiswa penulis skripsi) terhadap teks karangan penulis II. Lapis kedua, kutipan penulis II terhadap teks karangan penulis I. Tata penulisan TMTL disarankan sebagai berikut.

●    Bentuk paragraf, letak teks kutipan, penulisan kutipan jenis TMTL, bergantung pada panjang teksnya, juga pada jenis kutipan isi ataukah kutipan langsung.

●    Ciri khas TMTL adalah penulisan sumber kutipan. Sumber kutipan selalu dua pustaka. Misalnya, sumber ditulis: (Eagleton dalam Darma, 2004: 124), atau cara yang lain, Eagleton (dalam Darma, 2004: 124). Artinya, mahasiswa penulis skripsi mengutip teks dalam buku karangan Budi Darma, Pengantar Teori Sastra, yang terbit tahun 2004, tepat di halaman 124. Dalam buku ini ternyata teks tersebut bukan pandangan Budi Darma sendiri, melainkan dikutip Budi Darma dari buku Terry Eagleton, Literary Theory: An Introduction (1998). Dengan kata lain, sesungguhnya mahasiswa tersebut mengutip pendapat Eagleton lewat buku karangan Budi Darma.

Perhatikan contoh penulisan kutipan TMTL oleh mahasiswa berikut.

 

Dari sudut mana pun dipandang, novel Senbazuru karya Kawabata Yasunari (1954) tetaplah sebuah karya sastra yang otonom. Ia dapat dibedah secara objektif apa adanya dari unsur-unsur intrinsik yang membangunnya tanpa harus dikaitkan dengan biografi novelisnya, realitas zaman yang dilukiskan di dalamnya, dan nilai-nilai konflik kelas sosial dari perspektif kritik sastra marxis (Eagleton dalam Darma, 2004: 124). Oleh karena itu, meskipun penting, biografi Kawabata Yasunari kurang relevan dijadikan bahan pertimbangan dalam pendekatan objektif di sini.

 

Pada contoh penulisan kutipan TMTL di atas mahasiswa mengutip pendapat Eagleton, tetapi tidak membaca langsung buku tulisan Eagleton. Ia mengutipnya lewat buku tulisan Budi Darma (2004) yang dibacanya. Kebetulan, pada contoh ini, kutipan yang dilakukan dengan gaya kutipan isi, sehingga tidak perlu ada tanda petik yang mengapitnya. Semuanya memakai redaksi bahasa mahasiswa sendiri, yang isinya tidak bertentangan dengan pandangan Eagleton dalam buku Budi Darma.         

 

4.10  Penulisan Daftar Pustaka

4.10.1 Prinsip Umum

Daftar Pustaka—disebut Daftar Acuan, Daftar Rujukan, bahkan Daftar Pustaka Acuan—harus ada dalam proposal skripsi dan skripsi. Ada banyak versi atau gaya penulisan Daftar Pustaka. Versi mana pun yang diikuti, beberapa prinsip umum berikut perlu diperhatikan.

1)   Kata-kata Daftar Pustaka sebagai judul sejajar dengan bab baru, maka harus ditempatkan simetris di tengah atas dengan menggunakan huruf kapital untuk seluruh huruf. Ukuran huruf 14 point dengan cetak tebal (bold).

2)   Jarak kata-kata judul Daftar Pustaka dengan baris pertama pustaka pertama adalah 4 spasi. Jarak pustaka satu dengan pustaka lainnya adalah 2 spasi. Jarak antarbaris dalam 1 pustaka—jika jumlahnya lebih dari 1 baris—adalah 1 spasi.

3)   Untuk tiap pustaka, apabila barisnya lebih dari 1, baris ke-2 dan berikutnya harus dimulai pada identasi (karakter) yang ke-6 (posisi hanging). Dengan kata lain, baris ke-2 dst diketik menjorok ke dalam 6 ketuk. Jumlah 6 ketuk ini disesuaikan dengan ketuk ke-6 pada awal paragraf di bab I, II, III, IV, V (bagian inti). Selengkapnya, lihat 4.10.2!

4)   Pencantuman semua jenis pustaka (jurnal, buku, majalah, website, dll.) harus disajikan dalam satu daftar—maksudnya ya Daftar Pustaka itu.

5)   Penyajiannya harus didasarkan pada urut abjad nama marga, nama keluarga, atau unsur nama terakhir dari nama penulis. Jika hanya satu unsur, nama penulisnya langsung dirujuk apa adanya, tanpa dibalik. Khusus soal penentuan entri unsur nama dalam Daftar Pustaka, berlaku kelaziman berikut.

●    Nama penulis yang hanya satu unsur, misalnya nama Jawa dan Madura, langsung dirujuk sebagai nama entri. Contoh:

   

Sudarminto                       à    Sudarminto          

Ratnawati                         à    Ratnawati

Brodin                                à    Brodin

 

●    Nama Afrika, Amerika, Australia, Asia (kecuali Indo-China, RRC), Eropa (kecuali Belanda dan Jerman) ditulis dengan entri unsur nama terakhir sebagai acuan. Karenanya, sebagai entri acuan, unsur nama terakhir tidak boleh disingkat, sementara unsur nama lain bisa disingkat.  Contoh:

 

A. Noam Chomsky         à    Chomsky, A. Noam

                                                    Chomsky, A.N.

Charles S. Pierce              à    Pierce, Charles S.

                                                    Pierce, C.S.

Patrick Colm Hogan       à    Hogan, Patrick Colm

                                                    Hogan, Patrick C.

                                                    Hogan, P. Colm

                                                    Hogan, P.C.

Tadashi Fukutake           à    Fukutake, Tadashi

                                                    Fukutake, T.

                                           

●    Entri acuan untuk beberapa nama Jerman dimulai dari unsur tengah (von) dan juga beberapa nama Belanda (van). Contoh:

    Franz von Magnis               à            von Magnis, Franz             

                                                    von Magnis, F.

Hermannder van Bosch à    van Bosch, Hermannder

                                                    van Bosch, H..

●    Entri acuan untuk nama Indo-China (Kamboja, laos, Vietnam) dan RRC dimulai dari nama marga sebagai unsur pertama. Contoh:

   

Ho Chi Minh                    à    Ho Chi Minh                       

Chen Lung                        à    Chen Lung

Kong Hu Chu                   à    Kong Hu Chu

 

Jika mengandung nama dari Barat, atau budaya lain (Jawa, Arab, Latin), nama Indo-China dan RRC ditulis dengan mengikuti aturan umumnya, yaitu nama dibalik, unsur terakhir sebagai entri. Contoh:

   

Stephen Tong                   à    Tong, Stephen

                                                    Tong, S.                

Jacky Chen                       à    Chen, Jacky

                                                    Chen, J.

 

4.10.2    Aturan Penulisan Berbagai Pustaka

Setiap pustaka memiliki aturan penulisan dalam Daftar Pustaka. Meskipun prinsipnya sama, selalu ada perbedaannya dengan pustaka lain. Berikut disajikan contoh-contohnya.

 

4.10.2.1  Buku

      Judul buku ditulis dengan menggunakan huruf miring

●    Buku dengan satu pengarang ditulis dengan urutan: nama penulis. Tahun terbit. Judul. Kota: Penerbit. Jika penulisnya lembaga, nama tidak dibalik. Contoh:

 

Kuno, Susumu. 1973. The Structure of Japanese Language. Cambridge: The MIT Press.

 

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Istilah Asing. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Tsujimura, Natsuko. 1997. An Introduction to Japanese Linguistics. Massachusetts: Blackwell Publisher Inc.

 

Verhaar, J.W.M. 1977. Pengantar Lingguistik Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

●    Buku dengan dua atau lebih pengarang, nama penulis pertama di balik, penulis kedua dst tetap. Contoh:

Burrows, David J., Frederick R. Lapides, John T. Shawcross. 1973. Myth and Motifs in Literature. New York: The Free Press.

 

Davis, Robert C. and Ronald Schleifer. 1998. Contemporary Literary Criticism: Literary and Cultural Studies. New York: Longman.

 

Wellek, Rene and Austin Warren. 1985. Theory of Literature. London: Jonathan Cape.

 

●    Buku terjemahan ditulis dengan urutan: nama dibalik. Tahun terbit terjemahan. Judul. Nama penerjemah. Kota: Penerbit. Contoh:

 

Jeffers, R.J. and I. Lehiste. 1982. Prinsip dan Metode Linguistik Historis. Terjemahan Abd. Syukur Ibrahim dan Machrus Syamsudin. Malang: FKSS IKIP Malang..

 

Robins, R.H. 1992. Linguistik Umum: Sebuah Pengantar. Terjemahan Soenardjati Djajanegara. Yogyakarta: Kanisius.

 

Wellek, Rene and Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

●    Buku berupa kumpulan karangan atau bunga rampai ditulis dengan: nama penulis artikel. Tahun terbit buku. “Judul artikel/bab”. Halaman … dalam Nama editor (ed.), Judul buku. Kota: Penerbit. Contoh:

 

Barthes, Ronald. 1984. “Critical Factions/ Critical Fictions”. Hal. 17—71 dlm. Josue V. Harari (ed.), Textual Strategies: Perspectives in Post-Structuralist Criticism. Ithaca, New York: Cornell University Press.

 

Heryanto, Ariel. 2000. “The Law of Life”. Hal. 876—881 dlm. George McMichael (ed.), Anthology of American Literature. New York: Macmillan Publishing Co., Inc..

 

London, Jack. 1995. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

4.10.2.2  Jurnal, Majalah, Koran, Buletin, Tabloid

Secara umum, setiap artikel/opini yang muncul di jurnal, majalah, koran, buletin, tabloid, dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun terbit. “Judul artikel/opini”. Nama jurnal/majalah/koran/buletin/tabloid. Edisi. Halaman. Perhatikan contoh:

 

Badib, A.A. 2005. “The Language Affiliation between Japanese and ASEAN Languages and Beyond”. Manabu, Vol. 1, No. 1, August, hal. 33—42.

 

Mansurudin, Susilo 2007. “Dosen Katrok?”. Kompas, 10 September, hal. D.

 

Pramesti, Tri & M. Rudi Supsiadji. 2004. “A Criticism on Class Conflict from Socialism Point of View in George Orwell’s The Road to Wigan Pier”.  Parafrase Vol. 04, No. 1, Februari, hal. 56—67.

 

Sudarwati dan Anik C. Rahayu. 2006. “Novel-novel Dewi Lestari dalam Perspektif Kritik Sastra Feminis Ideologis”. Parafrase Vol. 06, No. 1, Februari, hal. 67—83.

 

4.10.2.3  Kamus Linguistik, Kamus Kesusastraan, Ensiklopedi, Tesaurus

Seperti buku, kamus linguistik, kamus kesusastraan, ensiklopedi, tesaurus dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun terbit. Judul kamus linguistik/ kamus kesusastraan/ ensiklopedi/ tesaurus. Kota: Penerbit. Perhatikan contoh:

 

Endarmoko, Eko. 2007. Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

 

Wright, Tukiyem. 2004. Dictionary of Literature. New York: The MIT Press.

 

4.10.2.4  Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian

Skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun. “Judul skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian”. Keterangan Tidak dipublikasikan. Kota: Lembaga. Dalam hal ini, kecuali judul novel, misalnya, judul skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian tidak perlu dicetak miring (italic). Perhatikan contoh:

 

Amalijah, Eva. 2007. “Dinamika Karakter Tokoh Protagonis-Antagonis dalam Novel Madogiwa No Totto Chan”. Tesis tidak dipublikasikan. Surabaya: Program Studi Bahasa dan Sastra, Program Pascasarjana, Unesa.

 

Asbatin. 2006. “The Twin’s Lie in Mark Twain’s Was It Heaven or Hell?”. Skripsi tak dipublikasikan. Surabaya: Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Untag Surabaya.

 

Garnida, Susie C. 2005. “Pengaruh Belajar Kelompok terhadap Kemampuan Mengapresiasi Puisi pada Mahasiswa FS Untag Surabaya”. Laporan penelitian tidak dipublikasikan. Surabaya: LPPKM Untag Surabaya.

 

4.10.2.5  Makalah, Kertas Kerja

Makalah, kertas kerja, pada suatu pertemuan ilmiah (seminar, lokakarya, simposium) dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun. “Judul makalah”. Keterangan nama seminar. Lembaga penyelenggara, Kota, tanggal pelaksanaan.  Dalam hal ini, kecuali judul novel, misalnya, judul makalah pun tidak perlu dicetak miring (italic). Perhatikan contoh:

 

Marsih, Linusia. 2006. “Critical Discourse Analysis on Editorial Text in Indonesian Newspapers”. Kertas kerja dibacakan pada Seminar Critical Discourse Analysis in Languistics and Literature Studies, Fakultas Sastra, Untag Surabaya, Graha Widya, 17 Oktober.

 

Poerbawati, Endang. 2004. “Interferensi Gramatikal Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jepang pada Mahasiswa Sastra Jepang”. Makalah Lokakarya Pengajaran Bahasa Jepang Berbasis Kompetensi, diselenggarakan oleh The Japan Foundation, Konjen Jepang Surabaya, 4 Desember.

 

4.10.2.6  Website Internet

Seperti artikel pada jurnal, website internet dalam Daftar Pustaka ditulis sebagai: nama penulis. Tahun. “Judul makalah”. website.  Dalam hal ini, kecuali judul novel, misalnya, judul makalah pun tidak perlu dicetak miring (italic). Perhatikan contoh:

 

Fairclough, N. 2003. “Critical Discourse Analysis in Researching Language in the New Capitalism: Overdetermination, Transdisciplinarity and Textual Analysis”. www.ling.lancs.ac.uk/staff/norman/2003b.doc

 

Roberts-Miller, P. & J.W. Fendrich. 1999. “Voices in Wilderness: Public Discourse and the Paradox of Puritan Rhetoric”. www.acjournal.org/ holdings/vol2/Iss1/ reviews/fendrech.htm

 

Van Dijk, Teun A. 1999. “What Is Political Discourse Analysis?”. www.hum. uva.nl/teun.

Tidak semua artikel dari internet dapat dijadikan sumber rujukan. Artikel-artikel dari internet yang dapat dijadikan rujukan adalah ebook atau yang dimuat dalam jurnal-jurnal yang resmi. Artikel dari wikipedia dan sejenisnya tidak dapat dijadikan rujukan.

 

 

 

 

 

 

BAB V

PROSEDUR PERMOHONAN PENULISAN

DAN PENGUJIAN SKRIPSI

 

5.1  Penulisan Skripsi

5.1.1  Permohonan Penulisan Skripsi

Syarat untuk permohonan penulisan skripsi (memprogram skripsi pada Kartu Rencana Studi) sebagai berikut.

1)   Telah menyelesaikan 130 SKS dengan IPK > 2,5           

2)   Tidak ada nilai D

3)   Telah lulus mata kuliah Metodologi Penelitian.

4)   Telah lulus mata-mata kuliah yang terkait dengan penulisan skripsi.

Mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan tersebut dapat mengajukan permohonan penulisan skripsi dengan cara mendaftarkan diri pada Kaprodi (Kaprodi Sastra Inggris dan Kaprodi Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Untag Surabaya) setiap waktu  memprogram skripsi dalam KRS.

 

5.1.2        Bimbingan Skripsi

Berdasarkan proposal skripsi yang diserahkan, Kaprodi menyampaikan kepada dosen pembimbing sesuai pilihan mahasiswa dengan kualifikasi dosen pembimbing adalah sudah memiliki jabatan fungsional minimal asisten ahli dan kualifikasi akademik S-2

Dosen pembimbing 1 (satu) orang. Dalam penunjukan pembimbing ini juga diperhatikan proporsi jumlah bimbingan dari masing-masing dosen pembimbing (4).

 

5.1.3  Tahapan Pembimbingan

Secara umum, tahapan pembimbingan skripsi dilakukan secara terjadwal oleh Prodi (Sastra Inggris, Sastra Jepang). Tahapan ini meliputi kegiatan berikut.

1)   Pendaftaran dan pengajuan proposal skirpsi kepada Kaprodi disertai fotocopy voucher pembayaran proposal.

2)   Pembimbingan pertama oleh .setiap dosen pembimbing kepada mahasiswa bimbingannya.

3)   Ujian skripsi (finalisasi skripsi).

Di samping kegiatan pembimbingan terjadwal tersebut, dosen pembimbing juga harus menyediakan waktu bimbingan pertahapan aktivitas penulisan skripsi mahasiswa, sehingga diharapkan mahasiswa dapat mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh jurusan masing-masing.

5.1.3        Permohonan Penggantian Pembimbing

  1. Mahasiswa boleh melakukan penggantian pembimbing sebanyak 1 (satu) kali.
  2. Penggantian pembimbing harus dengan penggantian judul skripsi dan data
  3. Membayar uang bimbingan skripsi sejumlah tarif yang berlaku yang akan dibayarkan kepada pembimbing sebelumnya
  4. Menulis surat permohonan penggantian pembimbing kepada Dekan disertai kartu bimbingan skripsi
  5. Mahasiswa mengajukan kembali proposal baru dan disertai fotocopy pembayaran proposal.

5.1.4  Dosen pembimbing memberi laporan ke Prodi pada akhir setiap semester

 

5.2    Pengujian Skripsi

5.2.1    Syarat-syarat Pengujian Skripsi

Beberapa syarat agar dapat mengikuti ujian skripsi, yang harus diperhatikan oleh mahasiswa, adalah sebagai berikut.

1)   Mahasiswa telah menempuh dan lulus semua mata kuliah teori (minimal 138 SKS) dengan IPK > 2,5. Tidak ada nilai D.

2)   Sisa mata kuliah (termasuk skripsi) sudah diprogram dalam KRS pada saat mengajukan permohonan ujian skripsi.

3)  Pembimbing sudah menyetujui skripsi untuk diujikan dengan menandatangani kartu bimbingan dan lembar persetujuan pada skripsi.

4)   Mahasiswa mengajukan permohonan ujian skripsi dengan mengisi Formulir Permohonan yang telah disediakan di Program studi Fakultas Sastra Untag Surabaya. Setelah diisi lengkap, formulir diserahkan kembali dengan melampirkan:

a)   3 atau 4 eksemplar skripsi sesuai dengan jumlah penguji;

b)   2 lembar kartu bimbingan skripsi (asli dan fotokopi);

c)   1 lembar fotokopi voucher pembayaran ujian skripsi;

d)   2 lembar fotokopi rangkuman hasil studi;

e)   fotokopi KRS semester terakhir;

f)   2 lembar (asli dan fotokopi) bukti pelunasan kewajiban keuangan dari Bagian Keuangan sebagai persyaratan untuk menempuh ujian skripsi;

g) 3 lembar (asli dan fotokopi) surat keterangan izin survei dari instansi/ perusahaan tempat pengambilan data lapangan.

h)  2 lembar foto 4 X 6 dan 2 lembar foto 3 x 4 dengan ketentuan : - Pria berdasi dan berjas (bukan jas almamater); - Putri busana nasional.

i)  1 lembar fotocopy ijazah SMA

j)  1 lembar fotocopy akte kenal lahir.

5.2.2        Ujian Skripsi

Jadwal ujian skripsi ditetapkan oleh Kaprodi setelah mahasiswa mengajukan permohonan ujian skripsi. Dalam menempuh ujian skripsi mahasiswa akan diuji oleh 3 orang dosen penguji untuk mahasiswa yang dibimbing oleh 1 dosen pembimbing dan diuji oleh 4 orang dosen penguji untuk mahasiswa yang dibimbing oleh 2 orang dosen pembimbing; 1 atau 2 dari anggota Dewan Penguji tersebut adalah dosen pembimbing mahasiswa yang bersangkutan.

Penilaian ujian skripsi meliputi 2 (dua) aspek: (1) aspek tulisan dan (2) aspek lisan, dengan tujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam memahami apa yang telah dituliskan dalam skripsinya. Rincian lebih detail tentang aspek penilaian ini ditetapkan tersendiri dan dimuat dalam Berita Acara Ujian Skripsi.

Kriteria hasil penilaian ujian skripsi terdiri dari 2 alternatif, yaitu (1) lulus atau (2) mengulang ujian. Kriteria nilai kelulusan ditetapkan dalam bentuk huruf, yaitu: A, A-, AB, B+, B+, B-, BC, C+, dan C, sedangkan mahasiswa yang dinyatakan harus mengulang ujian tidak diberikan nilai.

Mahasiswa yang pada saat ujian skripsi masih dinyatakan harus mengulang, paling lambat satu bulan kemudian mahasiswa tersebut harus sudah mengajukan permohonan kepada Jurusan untuk dapat mengikuti Ujian Ulangan Skripsi. Apabila mahasiswa setelah ujian skripsi dinyatakan lulus, tetapi masih ada revisi yang diberikan oleh Dosen Penguji saat ujian skripsi, paling lambat dalam waktu satu bulan mahasiswa tersebut harus sudah menyelesaikan revisi dan menyerahkan skripsi yang sudah dijilid kepada TU Fakultas Sastra Untag Surabaya.

Transkrip Akademik hanya dapat diterbitkan Fakultas apabila mahasiswa sudah menyerahkan skripsinya.

 

5.3  Ketentuan Tambahan Tentang Penulisan Skripsi

5.3. l   Biaya

Besarnya biaya skripsi ditetapkan tersendiri oleh Dekan FS Untag Surabaya setelah mendapat persetujuan Rektor.

5.3.2  Penyerahan Skripsi

Skripsi yang sudah direvisi dan disetujui oleh Dosen Penguji pada saat ujian harus dijilid dengan cover tebal (hard cover) dan pakai cetak punggung. Pada bagian punggung skripsi memuat: nama dan NPM mahasiswa serta judul skripsi.

Distribusi penyerahan skripsi:

1) Perpustakaan Pusat Untag Surabaya

2) Ruang baca Fakultas Sastra Untag Surabaya

3) Arsip Mahasiswa

1) Perpustakaan Pusat Untag Surabaya

2) Ruang baca Fakultas Sastra Untag Surabaya

3) Arsip Mahasiswa

Seminar Hiski 2017 Untag Surabaya

Seminar HISKI 2017

GUEST ONLINE

We have 25 guests and no members online

 

Articles View Hits
123566

Contact Us

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA

Jl.Semolowaru 45 Surabaya

Telepon : 031-5931800 (Hunting)

E-mail : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Web: www, untag-sby.ac.id